Agama

Kecanduan narkoba dan agama

6.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:00
08 JAN 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Rimanews – Untuk memulai, penting terlebih dulu kita bahas tentang kecanduan secara umum. Perlu diketahui bahwa segala hal yang membuat kecanduan akan mengubah mood seseorang; objek candu ini akan mengubah cara orang berpikir dan merasakan setiap fenomena.

Pada tahap awal, orang yang kecanduan akan merasakan perubahan mood yang menyenangkan. Akan tetapi, setiap kecanduan tidak akan benar-benar membuat pelakunya merasa lebih baik. Bahkan, kecanduan pada tingkatan lanjut akan membuat penderitanya mati rasa. Proses seperti ini akan dilalui oleh setiap pecandu, dengan objek apa pun.

Jadi, jika ada yang bertanya apa bedanya kecanduan ganja, sabu-sabu, alkohol, pornografi, rokok, judi atau agama, jawabnya tentu sama saja; yang membedakan hanya objek belaka.

Dalam perjalanannya, setiap pecandu akan membutuhkan tambahan dosis untuk mendapatkan perasaan yang dikehendakinya. Pola-pola seperti ini juga terjadi pada kecanduan jenis apa saja.

Jika orang kecanduan miras, sebotol atau dua botol sudah cukup untuk para pemula. Selanjutnya, orang ini membutuhkan tiga atau empat botol untuk apa yang mereka sebut "penambah darah."

Hal yang sama terjadi pada orang-orang yang kecanduan agama. Semakin keras sebuah fatwa, doktrin atau penafsiran, semakin mereka butuhkan untuk merasa “dekat” dengan Tuhan. Kecanduan seperti ini bisa terjadi pada agama apa saja.

Segala sesuatu yang dapat mengubah mood kita rawan menjadi adiktif. Makanan, kerja dan seks, misalnya, juga bisa menjadi candu. Agama atau kerja tentu bisa mengubah kita menjadi orang-orang yang benar. Akan tetapi, keduanya juga bisa berubah menjadi bahaya, jika kecanduan.

Kecanduan ganja pasti mudah dideteksi dan pelakunya akan dihakimi sebagai berandal. Akan tetapi, bagaimana mendeteksi kecanduan agama?

Dalam titik ekstrem, kita akan lebih mudah melihatnya seperti membunuh orang tak bersalah atas nama agama, ingin masuk surga dengan bunuh diri, atau melukai diri sendiri atas nama kesalehan.

Namun, berdasarkan pengalaman, kecanduan agama pasti lebih umum dari yang kita bayangkan.  Para pembenci atas nama agama, misalnya, jelas merupakan pecandu. Orang pertama yang dibenci spesies ini pertama kali adalah pemeluk agama lain, lalu orang seagama tapi tidak sealiran, selanjutnya dia akan membenci setiap orang yang tidak sejalan dengan penafsirannya tentang satu isu keagamaan.

Orang yang kecanduan agama pertama kali akan merasa berdosa besar, misalnya, ketika tidak melakukan ritual tertentu—sama seperti pecandu narkoba yang tidak menghisap. Selanjutnya mereka akan suka sekali berkumpul dengan orang-orang sealiran, bahkan mereka rela meninggalkan keluarga dan teman yang tidak sepaham—pecandu narkoba juga sama.  Selanjutnya, pecandu agama menghadiri tempat ibadah dan melakukan kegiatan hanya dengan orang-orang sealiran—persis dengan pecandu narkoba yang hanya menghadiri bar-bar tertentu yang mengakomodir perilakunya.

Jika dilihat dari latar belakang, para pecandu narkoba atau agama pun biasanya sama, yakni dari keluarga disfungsi. Keluarga beracun seperti ini bisa melanda siapa saja, tak terkecuali dari kalangan agamawan atau orang berpendidikan. 

Pakar psikologi keluarga terkemuka AS, John Bradshaw (1933-2016) dalam On the Family menyebutkan karakteristik sistem keluarga yang disfungsi, yakni: penuh kontrol, perfeksionis, mudah menyalahkan, menolak kebebasan anak mengekspresikan diri, tidak ada keterbukaan menyampaikan perasaan, suka menciptakan mitos (menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi), gemar berkonflik di depan anak tanpa resolusi, dan tidak bisa diandalkan untuk memenuhi harapan-harapan anak (misalnya karena miskin atau kesibukan).

Sekarang silakan perhatikan latar keluarga para pelaku bom bunuh diri dan para pecandu narkoba. Apakah keluarga mereka miskin, diabaikan saat kanak-kanak karena terlalu banyak saudara, diabaikan karena kesibukan, orang tua bercerai, selingkuh atau poligami yang tak sehat, kurang diapresiasi, akrab dengan kekerasan, dan sederet disfungsi lain? Jawabannya pasti "Ya", minimal salah satunya, sebab para pecandu adalah pelarian, lari dari realitas terdekat yang mereka benci; realitas terdekat tersebut mula-mula adalah keluarga, lalu merembet ke mana-mana..

Semua bentuk kecanduan adalah buruk. Pada kasus tertentu, pecandu tidak membahayakan orang lain, seperti kecanduan makanan. Akan tetapi, dalam lebih banyak hal mereka hanya menciptakan kerusakan di muka bumi. 

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru