Agama

Pesantren Tebuireng buka pusat kajian KH Hasyim Asyari

2.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
18:16
05 FEB 2017
Dok. Shalahudin Wahid
Editor
Sumber
Antara

Rimanews - Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, membuka pusat kajian pemikiran pendiri organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari, sebagai upaya melestarikan dan terus mengembangkan pemikirannya.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Shalahudin Wahid mengemukakan rencana pendirian pusat kajian itu sudah cukup lama. Pendirian itu berawal dari sekitar 20 tahun lalu, terdapat tokoh NU yang menilai pemikiran KH Hasyim Asyari telah kedaluarsa serta dianggap terlalu sederhana. 

"Waktu itu saya menjawab, Mbah Hasyim membuat rumusan Ahlussunnah wal Jamaah untuk konsumsi masyarakat. Jadi dibuat sangat sederhana, supaya mudah dipahami. Dan, Alhamdulillah, itu mudah dipahami," katanya saat meresmikan pendirian pusat kajian tersebut, di lingkungan pondok, hari ini.

Gus Sholah, sapaan akrabnya mengungkapkan, fakta bahwa pemikiran Mbah Hasyim mudah diterima dibuktikan dengan jumlah anggota NU yang sangat besar.  "Jadi, dari segi ilmu komunikasi, rumusan yang sederhana itu justru suatu keunggulan," tegas kiai yang juga menjabat Rektor Unhasy Tebuireng itu.

Jasa Mbah Hasyim, kata dia, juga besar, terkait dengan proses memadukan ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Baik pada proses penyusunan rumusan dasar negara, pembentukan kementerian agama, hingga sinkronisasi pendidikan nasional dan pendidikan Islam. 

Pemikirannya juga diteruskan oleh putranya, KH Abdul Wahid Hasyim.  "Pak Wahid Hasyim yang berperan dalam proses-proses itu, mewakili pemikiran Mbah Hasyim," ungkapnya. 

Kata Gus Sholah, NU menjadi organisasi masyarakat Islam pertama yang menerima Pancasila secara resmi pada 1984 karena sentuhan dan jasa Mbah Hasyim. Sikap NU itu didasarkan pada dokumen tentang hubungan Islam dan Pancasila yang ditulis oleh KH Ahmad Siddiq, yang merupakan salah satu murid Mbah Hasyim.

Lebih lanjut, Gus Sholah menuturkan bahwa proses akomodasi substansi syariah Islam ke dalam sejumlah UU, yang dipelopori oleh KH Bisri Syansuri dan KH Wahab Chasbullah, juga tidak bisa dilepaskan dari peran Mbah Hasyim. Sebab, keduanya juga murid beliau. UU itu misalnya UU Perkawinan dan UU Peradilan Agama.

"Jadi, saya mengambil kesimpulan bahwa yang memadukan Islam dan Indonesia adalah Mbah Hasyim. Seandainya Kiai Ahmad Siddiq, Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Wahab Chasbullah bukan murid Mbah Hasyim, mungkin akan lain ceritanya," ungkapnya. 

KATA KUNCI : , , ,