Agama

Mengetuk pintu rumah Allah

4.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:00
17 FEB 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI - Keterikatan kepada dunia hanya akan membuat kita lemah. Pasalnya, kecuali Allah, apa pun yang ada di alam dunia adalah materi: dan, semua yang berunsur material pasti rusak dan binasa. Oleh karena itu, tidak ada cara lain untuk menguatkan kita kecuali menghadapkan pandangan dan tujuan hidup kepada Allah swt semata, yang immateri, Mahakuat dan Mahaabadi.

Di antara cara yang sangat mudah untuk mengendurkan keikatan kita kepada kehidupan dunia adalah membuka pintu masjid. Membuka pintu di sini tentu memiliki makna metaforis, yakni beribadah di masjid, yang sebagian kita pasti sudah tahu amal apa saja yang dapat dilakukan di dalamnya.

Secara nyata, kehadiran kita—jiwa dan raga—di dalam rumah Allah akan mempertebal keimanan kita. Hal ini adalah garansi, sebagaimana firmanNya, “Sungguh mereka yang memakmurkan masjid hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, ...,” (QS. Attaubah, 9:18).

Ayat di atas dilanjutkan dengan frase “serta tidak takut kepada apa pun kecuali kepada Allah.” Artinya, orang yang terikat kepada masjid akan mendapat jaminan rasa aman, dalam arti keterlepasan dari pesona duniawi.

Orang yang sangat tertambat dengan materi duniawi pasti tidak akan memiliki ketentraman, sebab semua hal dapat dia anggap sebagai kepanjangan dirinya. Misalnya, dia memiliki mobil. Karena mobil dinilai sebagai perluasan kediriannya, dia akan sangat tersakiti ketika, misalnya, mobilnya tergores atau disandari orang—sama seperti kulitnya yang tergores atau pundaknya yang disandari oleh orang asing: padahal, seharusnya tidak demikian.

Menurut para saintis, bumi kita berumur kurang lebih 4 miliar tahun, sedangkan harapan hidup orang Indonesia hanya 70,61 tahun. Artinya, usia kita ibarat pasir di pantai, sama sekali tidak berarti jika dibandingkan dengan usia dunia, apalagi akhirat. Sehingga, salah total jika kita tidak membiasakan diri bertamu ke rumah Allah, karena kelak kita akan tinggal di rumah keabadian untuk selama-lamanya, yang di dalamnya Dia akan menunjukkan kekuasanNya secara mutlak.

Seorang bayi akan hidup bahagia jika orang tuanya menyiapkannya sebelum dia lahir; masa kecil akan cerah jika dia melalui masa batita dengan sempurna; usia muda akan mudah jika sudah disiapkan sejak remaja; masa tua akan sentosa jika disiapkan baik-baik di masa muda; demikian, alam akhirat akan berlimpah dengan kesejahteraan jika kita menyiapkannya di dunia.

Jadi, mari bersegera melangkahkan kaki kita ke masjid: tidak hanya untuk shalat berjemaah, tetapi sebagai tempat menanam kebaikan lain, seperti sedekah, zakat, berbagi ilmu, itikaf, zikir, membaca Alquran dan kegiatan lain yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.

Sementara itu, bagi saudara yang menjadi pengurus rumah Allah, gerakan kembali ke masjid yang akhir-akhir ini mulai bergeliat harus dijawab dengan memberikan kemudahan mengakses atau memanfaatkan fasilitas rumah ibadah, seperti tempat wudhu dan toilet, atau ruang utama shalat. Jangan sampai ada umat muslim yang ingin shalat dhuha atau ada musafir yang terlambat jemaah isya dan ingin shalat tetapi semua pintu dalam keadaan terkunci. Atau, ada orang miskin yang tak mampu membayar toilet, sehingga dia harus buang air sembarangan. Siapa tahu, jika kita membukakan pintu untuk mereka, hatinya tersentuh untuk merasakan getaran bahwa Allah mengundangnya untuk bertamu ke rumahNya bersama orang-orang beriman lainnya.

Mari bersama-sama kita fungsikan masjid sebagai rumah Allah, sebagai tempat kita mengabdi dan mengadukan masalah. Allah tidak tidur, demikian seharusnya “rumahNya”, yang bisa kita kunjungi kapan saja.

KATA KUNCI : , ,
Terbaru
3 Maret 2017 | 11:48
Keberagaman dan Persamaan
3 Maret 2017 | 05:05
Ingin menjadi Allah
27 Februari 2017 | 23:14
Masjid seharusnya jauh dari politik
23 Februari 2017 | 06:31
Rincian pembagian kuota haji 2017
Berita Terkait
27 Februari 2017 | 23:14
Masjid seharusnya jauh dari politik