Agama

Agama di tangan orang-orang yang terluka

3.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:02
23 MEI 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Penulis AS Garrison Keillor pernah berseloroh seperti ini, “Jika orang yang duduk di gereja dapat membuat Anda menjadi seorang Kristen, maka tentunya orang yang duduk di garasi dapat membuat Anda menjadi mobil.” Maksud dari metafora ini adalah seorang ahli ibadah belum tentu dapat dijadikan sebagai representasi dari pemeluk sebuah agama sekaligus membuat dirinya dan orang lain menjadi saleh secara hakiki.

Pasalnya, cukup sering agama mengalami objektivikasi, yakni dijadikan piranti oleh pemeluknya untuk mendapatkan sesuatu yang sejatinya bertolak belakang dengan tujuan agama itu sendiri. Objektivikasi agama bukan monopoli politisi atau cendekiawan yang tamak kepada dunia, tapi siapa pun memiliki potensi untuk melakukannya tanpa terkecuali.

Ada kutipan yang sangat terkenal dari guru sufi Jalaluddin Rumi (1207-1273), “Agamaku adalah hidup dengan cinta.” Pada kesempatan lain, dia mengatakan, “Dalam setiap agama ada cinta, tetapi cinta tak mengenal agama.” Jadi, agama selaiknya menebar kasih dan membuat pemeluknya menjadi pengasih.

Seorang yang masih memenjara luka-luka perasaan dalam hati kemudian mendadak relijius sangat rawan melakukan objektivikasi terhadap agama. Alih-alih agama akan membuatnya terbebas dari luka, agama malah rawan dijadikan topeng, pelarian (sebagaimana candu), dan alat untuk memenuhi hasrat-hasrat yang dia sendiri tak sepenuhnya sadar.

Seorang yang dalam hatinya menyimpan amarah pada keadaan (keluarga, pasangan, sosial, ekonomi dll) kemudian mendadak dekat dengan agama, belum tentu kedekatannya pada agama akan melenyapkan luka perasaan yang ditanggungnya. Bisa jadi malah sebaliknya, dia menggunakan agama sebagai alat untuk melampiaskan kemarahan yang tak tersalurkan dan membalas dendam.

Di tangan orang ini, agama akan tampak bengis, penuh penghakiman/vonis kepada orang lain, serta kering dari nalar (dalam keadaan marah, orang biasanya tak pakai akal waras). Orang yang memeluk agama dengan cara ini akan memilih fatwa-fatwa yang keras dan cenderung memicu konflik (sebagai kompensasi dirinya menjadi sasaran amarah tetapi tak pernah mempunyai kesempatan untuk meluapkannya). Jika memiliki kesempatan, agama akan dikondisikan menjadi alat untuk menghancurkan apa saja yang menurutnya tak berkenan (aksi balas dendam dari kondisi dia sebelumnya). Orang ini tidak akan segan menggunakan agama sebagai bara teror.

Padahal, apa yang menurut jiwanya yang sakit itu benar, secara esensial belum tentu sebuah kebenaran dan dosis fatwa yang terlalu tinggi belum tentu pula hasil dari resep yang jitu dalam beragama, karena agama yang normal dan fungsional adalah yang pertengahan atau moderat. Setakat ini, apa yang orang sebut sebagai "agama" lebih sering adalah produk hukum atau penafsiran yang tentu saja sulit untuk diabsolutkan kebenarannya, tetapi orang-orang tersebut malah mengabsolutkannya.   

Contoh lain, di tangan orang-orang yang memiliki rasa malu beracun, aib (dosa) dan kesedihan yang tak pernah terobati, agama hanya akan dijadikan topeng dan kamuflase. Malu yang disebut di sini berbeda dengan perasaan malu yang sehat, yakni kita merasa malu jika melanggar aturan. Orang yang memendam perasaan malu beracun akan memandang dirinya adalah kesalahan. Seorang anak yang besar dengan cacian, dia akan super minder karena merasa dirinya tidak berharga; ini adalah contoh perasaan malu beracun tersebut. Contoh lain adalah anak yang terus-terusan dibodoh-bodoh oleh orang tua atau guru: dia akan menganggap dirinya memang bodoh sehingga benar-benar menolak menggunakan kepalanya untuk berpikir karena merasa pasti bakal salah.

Di tangan orang-orang ini, agama akan tampak menggelikan bagi orang-orang dengan akal sehat. Begitu ingin dekat dengan agama, orang-orang seperti ini akan menjadi pengikut agama mode, yaitu beragama pakai logika mode—yang baru dan berbeda dari keumuman adalah yang menarik dan dianggap benar.

Karena agama hendak dijadikan topeng dan kamuflase, mereka juga cenderung memilih fatwa/ajaran dengan dosis tinggi, dengan harapan hal tersebut akan lebih cepat dan efektif menutupi rasa malu, menghapus dosa atau mengalihkan dari rasa sedih yang mendera. Tak berhenti di sini, mereka juga cenderung mencari-cari kesalahan kelompok lain sebagai kompensasi dari keadaan yang selama ini menyalahkan dirinya.

Jadi, agama tak selamanya dapat menjadi petunjuk jalan menuju Tuhan atau kontrol terhadap nafsu karena pemeluknya tidak dalam keadaan pasrah dan mengosongkan hati ketika menerimanya. Mereka yang menutup hati dan nalar untuk menerima cinta sebagai hakikat dari agama hanya menjadikan agama sebagai alat dan legitimasi dari berbagai hasrat yang sudah ada di diri mereka.

Siapa pun, yang merasa mendadak beragama sebagai pelarian, belajar atau beragama karena terpaksa (misalnya karena ingin menyelamatkan muka keluarga), ikut pengajian karena tren, ikut kelompok agama karena kecewa dengan kelompok sebelumnya, dekat dengan agama karena tahu di situ ada kapital serta kondisi tak normal lainnya, mari introspeksi: jangan-jangan sejatinya kita hanya melakukan objektivikasi agama, sebagai akibat dari jiwa yang selama ini dijadikan objek oleh subjek-subjek lain di luar diri.

KATA KUNCI : , ,
Terbaru
26 Juni 2017 | 07:05
Pengemis berkedok agama
25 Juni 2017 | 07:01
Pengayaan nurani di Hari Fitri
24 Juni 2017 | 06:03
Jalan tengah dalam beragama
22 Juni 2017 | 07:00
Orang sukses pasti mudik
20 Juni 2017 | 06:24
Menjemput taubat
17 Juni 2017 | 19:29
Keutamaan Ramadhan