Readup

Jalan tengah dalam beragama

REPORTED BY: Dhuha Hardiansyah

Jalan tengah dalam beragama

Perkembangan radikalisme Islam saat ini tak bisa dianggap sebagai hal sepele. Hal ini misalnya apabila mencermati temuan BNPT bahwa 16 kabupaten/kota di Jawa Timur menjadi lumbung persemaian Islam garis keras, yang setiap saat bisa digerakkan untuk menjadi mesin teror.

Jika data yang disampaikan tersebut benar, tidak ada cara lain kecuali mengajak mereka merenung kembali bahwa agama tidak patut didirikan di atas jalan kebencian, kekerasan, apalagi genangan darah manusia.

Dalam bukunya yang terbaru, “Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau”, Dr. Haidar Bagir menilai kecenderungan kelompok masyarakat atau individu untuk memeluk ideologi radikal adalah karena mereka berusaha mencari pegangan yang paling sederhana di tengah gempuran informasi yang tak terbatas.

Simplifikasi dalam berkeyakinan akan mengarahkan orang untuk mencari ajaran yang menjamin keselamatan dunia akhirat dengan satu cara, tanpa membuka jalan alternatif; dan, ini tangkap baik-baik oleh mereka yang berhaluan takfiri, yakni merasa diri paling benar dan kelompok lain kafir (menyimpang/tertutup dari kebenaran, covered). Ideologi takfirisme ini yang menjadi pegangan kelompok radikal atau ekstrem.

Menurut Haidar, akar dari takfirisme dalam agama—yang merupakan biang radikalsme-terorisme—adalah pemahaman yang berorientasi pada hukum (law-oriented religion), dengan menekankan pada aspek-aspek yang keras dalam hukum agama (fiqh). Akibatnya, adalah sikap ekslusif dengan menyingkirkan yang lain (hal. 49).

Gairah mereka untuk menghukum orang atau kelompok lain yang dianggap tidak sejalan (kafir, sesat dll) lebih deras ketimbang gairah untuk menjadikan cinta sebagai orientasi beragama (love-oriented religion). Kelompok ini selalu berpedoman pada teks dengan mengedepankan penafsiran literal yang kaku dan tunggal. Kelompok yang tidak sesuai dengan penafsiran mereka segera dicap dengan label kafir atau sesat.

Pengkafiran dan penyesatan mereka tidak berhenti pada tataran wacana tetapi dilanjutkan kepada tindakan intimidatif, ancaman bunuh hingga legitimasi teror. 

Menegakkan Islam pertengahan

Baik estrem kanan atau kiri tentu bukan anjuran agama. Nabi Muhammad SAW secara tegas melarangnya, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah “ghuluw”. Yang menjadi kendala adalah mereka yang bersikap esktrem tak pernah merasa diri mereka ekstremis, sama seperti orang gila yang tak pernah sadar bahwa dia gila. Mereka selalu merasa yang terdepan dalam membela agama; mirip murid bandel dan kriminal yang ke sana ke mari membawa celurit menantang murid dari sekolah lain dengan mengatasnamakan memperjuangkan kehormatan almamater.

Alquran sendiri menekankan bahwa umat Islam harus berada di pertengahan ‘ummatan wasathan’ di antara umat-umat lain. Pertengahan di sini dapat bermakna bersikap normal, tidak ekstrem kanan atau kiri, dan berada di tengah-tengah untuk mendamaikan mereka yang bersengketa.

“Demikian Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) ummatan wasathan supaya kalian menjadi saksi atas manusia dan supaya Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian, ...” (Albaqarah, 2:143).

Dalam sejarah, Nabi Muhammad SAW mencirikan ajaran yang paling dicintai Allah sebagai yang lurus dan toleran, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhary, "Agama yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang lurus dan toleran."

Muslim sejati dengan demikian adalah mereka yang memegang laku lurus dengan prinsip moderasi atau pertengahan. Maka, fenomena lahir dan bersemainya kelompok-kelompok ekstrem seharusnya tidak diberikan tempat, karena perilaku mereka tidak hanya merugikan orang lain tetapi juga agama itu sendiri.

Mengidentifikasi kelompok radikal

Kelompok ekstrem mempunyai pola yang khas dalam menjejalkan ajarannya. Pertama, mereka akan meyakinkan bahwa tak ada kelompok yang benar selain kelompok sendiri. Kelompok ini mudah melontarkan tuduhan-tuduhan kepada kelompok lain. Kedua, memuji habis-habisan anggota baru yang melakukan “hijrah” dan dianggap sedang berada di jalan yang benar.

Ketiga, kelompok ini pandai membuat jargon-jargon atau laras bahasa yang eksklusif, yang akan digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk mempertegas identitas kelompoknya atau menghukum kelompok lain. Sangat sering identitas mereka dipertegas dengan gaya busana yang berbeda dari kebanyakan. Menunjukkan identitas dengan busana dan laras bahasa ini juga berlaku pada kelompok apa saja secara umum. 

Selanjutnya, indoktrinasi akan dilakukan secara kontinu dan simultan. Sekali tak hadir dalam agenda pertemuan, anggota akan diingatkan. Jika jarang hadir, peringatan akan lebih keras dengan nada mengancam, seperti dengan cap “berguguran di jalan Allah, kembali ke jalan kesesatan, lebih mencintai dunia,” dan kalimat-kalimat ancaman sejenis. 

Peluang Parpol kecil makin terjepit
Ketika 39 WNI penjelajah dunia bercerita \
Pembacaan tuntutan nelayan Pulau Pari ditunda, ada apa?
Berpisah untuk bersama
Cara Muhammadiyah salurkan bantuan untuk Rohingya
Fetching news ...