Agama

Pengayaan nurani di Hari Fitri

8.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:01
25 JUN 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hardiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI - Makna dari perjalanan di bulan Ramadhan yang paling esensial adalah adanya transformasi spiritual yang dalam. Usai Ramadhan, seseorang harus menjadi pribadi lebih baik, yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut kembali kepada fitrah primordial manusia, yakni yang berbudi, welas asih dan empatik—untuk membedakan dengan binatang.

Jika misi tersebut tak tercapai, puasa Ramadhan hanya menjadi sekadar latihan fisik yang melelahkan dan seremonial yang kering dari makna.

“Oleh-oleh” dari Ramadhan yang sifatnya spiritual dan misi perubahan karakter tersebut tak boleh direduksi dengan sekadar kenangan buka bersama dengan kolega, orang-orang penting atau anak-anak yatim dari panti asuhan, apalagi kenangan mendapatkan THR lebih dari biasanya.

Acara-acara reunian dengan teman-teman sekolah tak lebih penting dari perbaikan pribadi dan akhlak orang-orang yang sudah berpuasa sebulan penuh. Ketupat lebaran pun jangan sampai menjadi alat balas dendam untuk menebus kekosongan perut ketika berpuasa. Kita makan sekadarnya saja untuk membuktikan bahwa hakikat puasa adalah pengendalian diri.

Kesadaran tersebut penting mengingat kebanyakan orang mendadak euforia setelah Ramadhan berakhir dengan menganggap bahwa saat ini apa saja bisa dinikmati tanpa batas. Kado terbaik dari Ramadhan justru bagaimana kita membatasi kesenangan-kesenangan jasmaniah untuk memaksimalkan fakultas intelektual dan spiritual di diri kita bekerja demi meningkatkan derajat kita sebagai hamba Allah.

Semua Muslim berpuasa sebulan penuh, tanpa membedakan status sosial, ekonomi, budaya maupun intelektual, kecuali mereka yang memang tidak sanggup berpuasa, yakni mereka yang sakit dan mendapat keringanan secara syariat.

Tiap-tiap kita harus sanggup membawa spirit Ramadhan dalam laku hidup sehari-hari, yakni perasaan senasib: sama-sama lapar dan senang saat berbuka.

Dalam puasa, setiap kita pasti merasakan haus dan lapar. Apakah perjalanan spiritual tersebut mampu membuat kita peka memperlakukan mereka yang tercekik dengan keadaan?

Ketika puasa, kita tak hanya dituntut mengendalikan perut tetapi juga mulut dan bawah perut. Di luar puasa, bukan berarti kita boleh semau sendiri berlebih-lebihan memuaskan hasrat jasmaniah tersebut. Puasa adalah latihan yang didasari oleh iman dan tujuannya adalah takwa. Jadi, bukan semata-mata kita puasa lalu selesai, ada tahap berikutnya yang harus dilalui.

Selama bulan Ramadhan, kita juga dianjurkan banyak sedekah dan shalat. Anjuran ini adalah supaya kita, di sebelas bulan lainnya mampu mengkondisikan supaya seimbang dalam berbuat baik kepada sesama (hablun min al-nas) dan beribadah kepada Yang Mahakasih (hablun min Allah).

Dalam sejarah agama-agama, puasa yang umat Islam jalankan selama Ramadhan bukanlah hal baru. Bahkan, satu riwat menceritakan jika Nabi Adam juga berpuasa terutama ketika dirinya terusir dari surga. Puasa nabi Adam adalah bentuk rasa takut, tobat dan mengiba rahmat Allah karena perasaan bersalah telah melanggar perintah-Nya. Nabi Daud, yang seorang raja, juga mengekang nafsu jasmaniahnya dengan berpuasa.

Mencermati kisah tersebut, wajar jika agama Islam menganjurkan berpuasa di momen-momen tertentu di luar Ramadhan, seperti Senin dan Kamis, 3 hari saat bulan purnama, dan puasa sunah lainnya. Tujuannya tentu bukan untuk melemahkan fisik, tetapi mengendalikan diri.

Akhirnya, di hari raya Idul Fitri ini dan seterusnya, semangat pengendalian diri selama Ramadhan harus tetap kita jaga. Yang harus kita kendalikan di sini adalah hal-hal yang boleh dan halal untuk dinikmati, sedangkan semua yang haram tentu wajib kita jauhi.   

Sponsored
The Money Fight

KATA KUNCI : , , ,
Agama