Buku

Terjengkang Lima Kali, Bangun Lagi Enam Kali

1.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
01:00
26 JUL 2014
Penulis

Ada lebih banyak peluang yang bisa ditempuh oleh para penulis saat ini. Beragam jalan lebih terbuka. Info-info penerbit maupun lomba-lomba lebih mudah diakses melalui media sosial. Maka penulis-penulis baru bermunculan. Beberapa masih gagap di hiruk pikuknya dunia kepenulisan. Buku Writing Is Fighting mencoba membuka wawasan mengenai perjuangan para penulis dalam merintis kiprah di dunia kepenulisan.

Ada 15 penulis yang membagi pengalamannya saat menemui tantangan dan hambatan di jalan kepenulisannya. Berulang kali naskah ditolak, di-php-in penerbit abal-abal, diberi kritik super pedas, diminta revisi sampai bolak-balik, adalah beberapa hal yang ditemui dalam romantika jalan penulis. Dan karena pengalaman adalah guru terbaik, maka pembaca bisa menarik pelajaran dari setiap peristiwa yang dialami ke-15 penulis ini.

Seperti kisah yang dituturkan Iwok Abqary, saat menghadapi pengalaman pahit dengan sebuah penerbit. Dengan judul yang lugas ‘Jangan Asal Pilih Penerbit’, pembaca diajak untuk lebih berhati-hati ketika menentukan penerbit mana yang dituju. Penulis yang kini sudah menelurkan karya lebih dari 30 buku ini, ternyata mengawali karir kepenulisannya dengan tersandung di sebuah penerbit yang tidak profesional. Penerbit itu awalnya memberi janji surga, namun realisasinya mundur lagi, dan lagi-lagi mundur.

Proses terbit yang memakan waktu bilangan tahun itu, lalu tersendat di masalah kontrak. Bertubi-tubi email, sms, telpon, chat, dilayangkan Iwok kepada penerbit yang bersangkutan. Namun yang didapatnya selalu slow respons. Bikin tambah gregetan.

Di penghujung kisah pahit dengan penerbit ini, disampaikan juga tips memilih penerbit. Karena tentu tidak semua penerbit abai pada penulis. Yang penting, sebelum membidik, harus cari info yang akurat tentang penerbit yang akan dijadikan tujuan.

Lalu ada pula cerita seru Triani Retno saat menghadapi writers block. Ide cerita yang sudah mengendap bertahun-tahun yang lalu, ternyata saat dituangkan ke dalam tulisan, terjegal pula oleh writers block. Dua puluh lembar pertama, lancar. Dua puluh lembar kedua mulai melambat. Lalu halaman demi halaman berikutnya, mandek. Padahal mewujudkan ide cerita tersebut boleh dibilang merupakan obsesi Triani. Namun ternyata writers block datang menghadang.

Bagaimana kemudian Triani memecahkan kebekuan menulis itu dituturkan dengan segar dan menarik. Pembaca bisa mengikuti langkah-langkah praktis yang realistis agar writers block tidak terlalu lama bersarang.

Ada lagi kisah Indah Juli saat memburu penulis terkenal untuk membaca draft novelnya. Indah berharap akan mendapat kritikan positif dari sang penulis, syukur-syukur bisa dapat endorsment juga. Tapi ternyata setelah menunggu sekian lama, respons yang diterima hanya membuat hati mangkel.

Seluruhnya ada 23 cerita yang terdapat dalam buku ini. Dengan kekhasannya masing-masing, para penulis tidak hanya bercerita serupa curhat colongan, tapi memberikan solusi dan tips-tips menarik yang mudah diikuti. Dengan latar belakang, genre, dan gaya menulis yang berbeda, semua pengalaman yang dibagi terasa mengasyikkan saat dibaca. Tanpa nada menggurui, kisah-kisah ini mengandung motivasi dan inspirasi bagi para penulis pemula.

Buku Writing Is Fighting ini recommended tidak hanya bagi para penulis, namun bisa juga dinikmati oleh pembaca pada umumnya. Ke-15 penulis buku ini adalah: Aan Wulandari Usman, Ambhita Dhyaningrum, Dewi Rieka, Ferry Zanzad, Indah Juli, Iwok Abqary, Nadiah Alwi, Nunik Utami, Retnadi Nur’aini, Rini Nurul Badariah, Tria Ayu K., Triani Retno, Yokie Adityo, dan Yudhi Herwibowo.

_______________________________

Judul Buku:  Writing Is Fighting

Penulis:  Iwok Abqary, dkk

Penerbit:  Halaman Moeka Publishing

Terbit:  Cetakan I, Mei 2014

Tebal Buku:  v + 240 halaman

ISBN:  978-602-296-080-1

Peresensi : Linda Satibi, penulis dan peresensi, aktif di Komunitas BAW

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
Buku