Buku

Agama harus ditafsirkan sesuai perkembangan manusia

33.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
10:20
06 APR 2017
Dok: sampul buku
Editor
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Rimanews - Sebagai orang beriman, kita yakin bahwa agama berasal dari Tuhan. Tapi, agama juga mengambil bentuk sebagai agama manusia, segera setelah dia berpindah dari khazanah ketuhanan kepada wilayah kemanusiaan.

Manusia tidak pernah bisa bicara tentang agama kecuali dalam konteks manusia. Menyadari hal itu, maka seorang penganut agama mustinya tidak terkejut dan gagap untuk menerima kenyataan bahwa di kalangan agama yang sama terdapat begitu banyak perbedaan pendapat.

Selain itu, agama diturunkan oleh Tuhan untuk manusia. Artinya, adalah suatu kesalahan jika kita mengembangkan pemahaman atas agama yang dilepaskan dari kebutuhan manusia. Oleh karena itu, sewajarnya agama ditafsirkan sejalan dengan kepentingan perkembangan manusia dari zaman ke zaman. Tanpa itu semua, agama akan kehilangan relevansinya dan tak lagi memiliki dampak bagi kehidupan umat manusia.

Melalui Buku Islam Tuhan, Islam Manusia; Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau,  Haidar Bagir berbicara tentang tafsir agama serta bagaimana tafsir agama tersebut bisa menjawab kebutuhan manusia. Buku ini merupakan hasil perenungan Haidar Bagir dalam kurun 10 tahun terakhir.

Dr. Haidar Bagir dalam bukunya menyerukan pentingnya mengembalikan spiritualitas dan cinta dalam kehidupan beragama. Ajakan ini tentu tidak lepas dari makin menjamurnya faham dan tindakan radikal yang lahir dari (tafsir) agama. Sehingga dengan mudah ditemui fenomena saling mengkafirkan dan menyesatkan satu sama lain, bahkan dalam satu agama sendiri. Juga karena krisis yang mendera masyarakat seperti maraknya berita hoax yang menjadi pemicu berbagai konflik dan kesalahfahaman.

Mengembalikan cinta dan spiritualitas dalam ajaran Islam akan menyadarkan kita bagaimana membangun hubungan dengan sesama manusia, karena inti dari agama adalah akhlak (budi pekerti).

Buya Syafii Maarif, menuturkan bahwa Dr. Haidar Bagir, melalui buku tersebut telah berusaha menyuarakan gagasan-gagasan yang reflektif, segar dan degan tujuan agar tumbuh kultur lapang dada dalam bertoleransi dan menyikapi perbedaan pendapat yang berbeda pandangan, termasuk juga mudah mengkafirkan seseorang dalam lingkungan agama yang sama.

Dalam rangka mempopulerkan gagasan tersebut, Penerbit Mizan bekerja sama dengan Laboratorium Studi Al-Qur’an dan Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta akan menggelar diskusi buku tersebut dengan menghadirkan penulisnya, yang akan dilaksanakan pada hari Jumat, 7 April 2017  di Gedung Convention Hall lt 2, UIN SunanKalijaga, Yogyakarta, mulai pukul 13:00. Acara serupa juga akan diadakan diberbagai kota di Indonesia.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
Buku