Pendidikan

5 Sisi Kelam Pondok Pesantren

7.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
08:00
17 DES 2016
Dok: santri di sebuah pondok pesantren
Reporter
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

ANALISIS – Kematian Adam Fawas (13), santri di Lamongan-Jawa Timur, seminggu lalu di tangan rekan-rekannya hanyalah sebuah puncak fenomena kekerasan yang melembaga di pondok pesantren.

Menurut data dari Kementerian Agama, jumlah santri pondok pesantren di 33 provinsi di seluruh Indonesia mencapai 3,65 juta yang tersebar di 25.000 pondok pesantren. Dari sini, tak bisa dipungkiri peran besar pesantren dalam mencerahkan kepala dan masa depan anak bangsa.

Namun, tak bisa ditolak juga bahwa sistem pendidikan pesantren juga mempunyai kelemahan mendasar yang harus disadari dan kemudian diperbaiki. Jika dirangkum, ada setidaknya 5 sisi gelap lembaga pendidikan yang berbasis agama tersebut.

1. Bullying

Di banyak pesantren tradisional, pengawasan santri sering diserahkan kepada santri senior. Secara kejiwaan, anak-anak tentu belum layak untuk mendidik anak-anak lain. Akibatnya, hukuman dengan alasan mendisiplinkan, sering campur aduk antara amarah, balas dendam, dan unjuk kekuasaan model anak ingusan.

Di sebuah pesantren di Kediri Jawa Timur, seorang santri disiram dengan isi septic tank oleh para seniornya setelah dituduh melanggar aturan. Santri lain mendadak dijadikan sansak untuk dijotos beramai-ramai hanya atas dasar kecurigaan telah melakukan pencurian. Tempeleng, pukul, ancaman, makian, teriakan, digundul, hampir menjadi pemandangan sehari-hari.  

2. Kelebihan kapasitas

Di sebuah pesantren tradisional di Jawa Tengah dan Jawa Timur, beberapa kamar tidur santri yang hanya seluas 3X3 meter diisi oleh 20 orang. Akibatnya, kamar hanya bisa dijadikan tempat ganti pakaian dan menyimpan lemari, dan menyisahkan hanya sedikit tempat untuk tidur beberapa orang. Mereka harus tidur di sebarang tempat, terutama di lantai masjid.

“Orang ingin belajar masa ditolak,” ucap seorang pemimpin pesantren dengan enteng di Malang, Jawa Timur, ketika ditanya tentang kondisi ini.

3. Kebersihan

Kelebihan kapasitas dan kurangnya petugas kebersihan terkait langsung dengan kondisi kebersihan tempat tinggal santri.

Di banyak pesantren, kecuali yang dikelola dengan menejemen modern dan berbiaya sangat mahal, kebersihan pesantren bukan prioritas. Dalam kondisi seperti ini, sakit kulit menjadi hal yang dianggap biasa.

Di sebuah pesantren tradisional di Rembang, Jawa Tengah, misalnya, santri bahkan jarang mandi karena kualitas air yang buruk. Mereka harus ke desa seberang untuk mendapatkan air bersih yang cukup, dan ini dilakukan sekali dalam beberapa hari.

Faktor kebersihan yang kurang diperhatikan tak jarang membuat santri rentan terkena penyakit mematikan. Tidak sedikit santri yang meninggal karena sakit di pesantren.

4. Perilaku koruptif

Celana dalam atau baju hilang adalah hal yang lumrah, sering pula uang. Jika Anda masuk ke ruangan santri, siap-siap sandal Anda raib. Perilaku ghosob (memanfaatkan barang orang lain tanpa izin) adalah gejala yang massif.

Di tingkat menejemen, lalu lintas keuangan banyak pesantren juga sangat sulit diaudit. Padahal, pesantren sering mengidentikkan diri sebagai lembaga milik umat. Artinya, mereka menerima sumbangan dari arah mana saja. Akan tetapi, mereka kerap meninggalkan sistem transparansi penggunaan anggaran.

5. Penyimpangan seksual

Cerita tentang santri yang masturbasi beramai-ramai di kamar mandi cukup bertebaran. Di tempat lain, seorang santri merancap di kamar dengan menjadi tontotan teman lain. Atau, ada beberapa sabun batang yang berlobang di tengah. Masturbasi seperti ini tentu tidak akan dimasukkan sebagai penyimpangan seksual

Akan tetapi, fenomena homoseksualitas (di kalangan santri pria maupun wanita) tak dapat disembunyikan. Tentu ada beberapa riset mendalam tentang fenomena ini.

Di sebuah pesantren tradisional di Gresik, Jawa Timur, misalnya, seorang santri pemula yang baru lulus SD kerap mendadak “basah” ketika bangun tidur.

Ketika melaporkan kepada pengurus, dia mendapat saran supaya menggunakan celana jeans kalau perlu dirangkap serta mengolesi selangkangan dengan balsem.

Ketika tips tersebut dijalankan, betapa kaget ketika di tengah malam dirinya terbangun sedang digagahi oleh tiga pria, santri senior. Mereka merapatkan paha korban lalu melakukan aktivitas laiknya hubungan seksual.

“Untung aku gak disodomi,” kenang korban kepada penulis.

Fenomena lesbianisme juga terjadi di kalangan santriwati. Penelitian Fariha Febriani dari Universtias Jember di sebuah epsantren di Situbondo Jawa Timur mengungkap temuan bahwa lingkungan pondok pesantren atau lingkungan sosial santriwati lesbian menunjukkan sikap permisif terhadap fenomena lesbian.  Perilaku beresiko yang sering tampak dari sepasang santriwati lesbian dapat berupa kontak fisik seperti berpegangan tangan, memeluk, ciuman, saling meraba dan oral seks.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
24 Februari 2017 | 05:00
Mengapa sampai salah memilih pasangan?
23 Februari 2017 | 05:00
Memaksa guru menulis
19 Februari 2017 | 19:35
UI hapus ujian masuk mandiri
18 Februari 2017 | 12:30
Muhadjir kecil gemar tonton film
15 Februari 2017 | 07:00
Cara terbaik meminta maaf
11 Februari 2017 | 07:00
Bullying paling beracun dan penawarnya
7 Februari 2017 | 07:00
Membunuh masa depan orang lain
Berita Terkait
24 Februari 2017 | 19:26
"Pernikahan gaib bukan budaya Dayak"