Pendidikan

Mengapa Anak Senang Pengumuman Libur Sekolah?

4.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
08:00
18 DES 2016
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Rimanews – Sebentar lagi libur panjang bagi anak sekolah akan datang. Beberapa guru tampak memposting tulisan yang berkisah tentang keceriaan anak muridnya setelah mendengar pengumuman libur sekolah.

Jika dicermati, cukup aneh ketika seorang guru menulis dengan nada gembira, sebagaimana keceriaan siswa yang diajarnya. Padahal, dia harus sadar bahwa kesenangan para siswa mendengar pengumuman libur sekolah justru adalah bukti bahwa mereka tidak menganggap sekolah sebagai tempat yang menyenangkan.

Seharusnya keceriaan siswa mendapati pengumuman libur dengan sorak-sorai menjadi tamparan keras dunia pendidikan. Seumpama sekolah adalah tempat yang mengasyikkan, tentu para siswa bakal sedih ketika sang guru mengumumkan ada libur.

Guru boleh saja senang karena liburan adalah waktu untuk rehat dan mengisi memori otak dengan banyak membaca, mengefektifkan waktu dengan keluarga atau rekreasi. Akan tetapi, bagi para siswa, sekolah harus juga berfungsi sebagai tempat rekreasi itu sendiri.

Respons siswa terhadap pengumuman libur sangat bisa dijadikan indikator apakah sekolah tersebut menarik bagi siswa atau tidak. Jika wajah siswa sumringah, guru seharusnya muram karena gagal menjadikan sekolah sebagai tempat paling nyaman bagi siswa, bukan malah ikut ceria dan mengumbarnya di media sosial. Sebaliknya, jika siswa pasang muka tidak suka, guru patut bersyukur dan tersenyum karena mereka telah berhasil membuat hati anak didiknya tertambat di sekolah.

Sekolah menjadi beban

Jika dipikir-pikir, terkadang ada banyak anomali di sekolah. Misalnya, dalam kehidupan profesional, orang melakukan pekerjaan lalu dia akan dibayar dengan uang atas kinerjanya. Sebaliknya, di sekolah, orang membayar SPP hanya untuk diberikan pekerjaan.

PR segunung, dipaksa kompetitif dengan sesama siswa, dipaksa mengharumkan nama sekolah, pengajaran tanpa metodologi, serta dikejar target kurikulum dan angka-angka untuk memuaskan data statistik barangkali telah membuat sekolah hanya sebagai beban, jika tidak siksaan.

Hal ini misalnya dapat kita lihat dari betapa liarnya kebahagiaan siswa dalam merayakan kelulusan sekolah, seperti dengan corat-coret, teriakan hingga pesta-pesta berbau haram. Kelihatan betul jika spesies yang merayakan kelulusan berlebihan seperti ini karena telah menganggap sekolah sebagai beban. Setelah beban berat itu enyah, mereka lalu meledak dengan kesenangan tak terkendali, melebihi leganya seorang kuli panggul setelah menurunkan karung seberat 1,5 kwintal dari pundaknya.

Dengan kesenangan berlebihan terhadap libur sekolah berarti anak seolah telah melepaskan bebannya, dan ini tidak bisa kita tanggapi dengan senyuman tetapi dengan perhatian serius terhadap upaya perbaikan proses pendidikan.

Sekolah harus didisain untuk membuat mata dan senyum siswa mengembang, bukan menciptakan sekolah sebagai arena perlombaan yang membuat siswa tegang, apalagi penjara atau kantor dengan bos yang kejam sehingga memaksa orang-orang tertekan.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
24 Februari 2017 | 05:00
Mengapa sampai salah memilih pasangan?
23 Februari 2017 | 05:00
Memaksa guru menulis
19 Februari 2017 | 19:35
UI hapus ujian masuk mandiri
18 Februari 2017 | 12:30
Muhadjir kecil gemar tonton film
15 Februari 2017 | 07:00
Cara terbaik meminta maaf
11 Februari 2017 | 07:00
Bullying paling beracun dan penawarnya
7 Februari 2017 | 07:00
Membunuh masa depan orang lain
Berita Terkait
23 Februari 2017 | 05:00
Memaksa guru menulis
18 Februari 2017 | 00:47
Guru edarkan uang palsu
2 Februari 2017 | 03:07
Pria curi uang guru