Pendidikan

Guru Honorer Bakal Dibayar Rp10 Ribu Per Jam

4.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
21:15
18 DES 2016
Demonstrasi Guru Honor
Editor
Stefanus Yugo
Sumber
Antara

Rimanews - Ribuan guru honorer di Jambi akan dibayar Rp 10 ribu hingga Rp 17 ribu per jam mengajar terhitung sejak 1 Januari 2017.

"Kami akan coba cara tersebut sambil melakukan evaluasi, mana yang terbaik," kata Sekretaris Daerah Provinsi Jambi Ridham Priskap di Jambi, hari ini, seperti dikutip Antara.

Jumlah guru honorer SMA dan SMK asal kabupaten/kota di Jambi sebanyak 5.038 orang dengan gaji rata-rata Rp1,3 juta per bulan. "Dengan asumsi itu, maka Pemprov membutuhkan dana sebesar Rp95 miliar per tahunnya untuk membayar gaji para guru honorer tersebut," katanya menjelaskan.

Namun, karena keterbatasan anggaran, DPRD Provinsi Jambi kata Ridham, hanya menyetujui alokasi gaji guru honorer sebesar Rp32 miliar per tahun. "Semua akan kami akomodir, tapi tetap akan kita evaluasi cara atau kebijakan mana yang baik untuk ini," ujarnya.

Sementara, sejumlah guru honorer di Jambi menolak jika dibayar per jam karena tingkat kebutuhan dan beban kerja, sama dengan guru berstatus PNS.  "Mau makan apa, sedangkan yang gaji sekarang ini saja kurang, dan pembayaranya pun tidak setiap bulan," kata seorang guru honorer di Kota Jambi, Desi.

Menurutnya, pembayaran dengan menggunakan sistem per jam membuat guru honorer semakin tidak memiliki upah atau gaji dari pengabdiannya. 

"Saya saja hanya seminggu tiga kali untuk mata pelajaran fisika, mau dapat berapa, untuk beli minyak saja kurang," ungkapnya.

KATA KUNCI : , ,
Terbaru
24 Februari 2017 | 05:00
Mengapa sampai salah memilih pasangan?
23 Februari 2017 | 05:00
Memaksa guru menulis
19 Februari 2017 | 19:35
UI hapus ujian masuk mandiri
18 Februari 2017 | 12:30
Muhadjir kecil gemar tonton film
15 Februari 2017 | 07:00
Cara terbaik meminta maaf
11 Februari 2017 | 07:00
Bullying paling beracun dan penawarnya
7 Februari 2017 | 07:00
Membunuh masa depan orang lain
Pendidikan
Berita Terkait
24 Februari 2017 | 19:26
"Pernikahan gaib bukan budaya Dayak"