Pendidikan

Ingin tahu kondisi sekolah kita, lihatlah situasi di kolam renang

4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
08:00
24 DES 2016
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Rimanews – Jika tidak sempat mengamati secara intensif situasi atau kualitas di sejumlah besar sekolah kita, kita cukup mencermati kondisi di kolam renang umum.

Di kolam renang umum biasanya kita temui banyak orang tengah belajar renang. Di situlah kita akan temui sejumlah keadaan yang dapat kita sejajarkan dengan proses belajar-mengajar yang ada di sekolah-sekolah kita secara umum.

Mengajar tanpa keterlibatan

Di kolam renang sering kita temui orang dewasa yang berdiri di pinggir kolam sambil berteriak memberikan instruksi kepada anak-anak yang tengah berusaha mati-matian untuk bisa sekadar tak tenggelam.

“Ayo, gerakin tangan dan kakinya. Kayak gini,” sambil memperagakan gerakan tangan mengayuh.

Tentu saja, gerakan yang dicontohkan di darat jauh lebih mudah ketimbang ketika diaplikasikan di dalam air. Di sekolah, hal semodel ini pun sering kita temui, guru mengajar tanpa melibatkan diri dengan siswa.

Dalam model pengajaran seperti ini, guru hanya memberikan instruksi ini dan itu. Dengan cara seperti ini, tak ada hasil yang dapat kita harapkan selain kesengsaraan bagi peserta didik. Mungkin segelintir siswa bisa dengan sendirinya, tapi membutuhkan waktu yang terlalu lama dan tenaga yang tidak sedikit, jika tidak berlebihan dan keburu trauma dengan pendidikan.

Mengajar dengan teknik serampangan

Terkadang ada beberapa pelatih renang yang ikut masuk ke dalam kolam, membantu langsung para pelajar. Akan tetapi, teknik yang diajarkan sama sekali tidak efektif dan dapat dikatakan jauh dari benar menurut standar para perenang profesional.

Teknik yang buruk itu, salah satu contohnya, berenang dengan kepala berada di atas permukaan air. Banyak pelatih juga tidak paham teknik renang untuk jarak jauh atau jarak dekat. Semua digebyah-uyah asal tidak tenggelam.

Hasilnya, orang belajar dengan teknik yang buruk tetap bisa berenang, akan tetapi dia memiliki kelemahan mendasar, yakni tidak bakal bisa berenang dengan kecepatan yang efektif atau tak akan mampu berenang dengan jarak yang jauh, ditambah akan terjadi banyak pemborosan waktu dan energi. 

Hal yang sama pun terjadi di sejumlah sekolah kita. Mata pelajaran dan waktu belajar di sekolah kita sangat banyak, akan tetapi hal ini tidak mampu membuat siswa melakukan akselerasi pembelajaran. Sebab ini terjadi sangat jelas, banyak guru mengajar tanpa metodologi dan pendekatan mengajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. 

Paradigma yang salah

Di kolam renang, banyak orang membiarkan anak-anak “belajar renang” menggunakan pelampung laiknya korban kapal tenggelam. Tujuan berenang tentu supaya orang bisa berenang, bukan mengapung. Bisa mengapung belum tentu bisa berenang, dan berenang berbeda dengan mengapung. Cara seperti ini mungkin saja berhasil, tapi pasti hanya dalam batas minimal, alias faktor kebetulan.

Kerangka berpikir sesat seperti ini pun lazim terjadi di pendidikan. Misalnya, banyak sekolah mengajar pengetahuan yang sama sekali tak terkait dengan kehidupan anak. Begitu anak lulus, tingkat SMA misalnya, siswa galau harus berbuat apa karena tidak memiliki keahlian apa-apa untuk bertahan hidup. Begitu isu seperti ini diangkat, banyak guru menjawab itu tugas keluarga dan sekolah sudah memberikan teorinya.

Ada kondisi yang menggelikan ketika dalam satu sekolah, siswa yang dapat dikatakan bersinar hanya lima dari 100 siswa. Akan tetapi, faktor kebetulan ini dieksploitasi besar-besaran seolah-olah ini adalah keberhasilan sekolah.

Padahal, jelas, ada pola dalam dunia pendidikan bahwa 10% siswa bisa belajar dan menjadi hebat tanpa bantuan guru, alias pelajar mandiri, sedangkan 10% lainnya tidak akan mendengarkan sehebat apa pun gurunya. Sisanya, 80%, inilah yang harus dijadikan ukuran. Jika dalam satu sekolah yang sukses hanya 10%, sekolah/guru tidak boleh mengklaim itu keberhasilannya, karena sangat mungkin mereka sukses karena memiliki bakat sebagai pelajar mandiri.

Sekolah hanya boleh mengklaim keberhasilannnya dalam mendidik ketika siswa yang berhasil minimal 80%.

Banyak guru tak memiliki kerangka pikir yang memadai dalam melakukan proses pendidikan. Mereka datang ke kelas tanpa persiapan, tanpa tahu bakal berbuat apa, selain seperti yang dilakukan seperti yang sudah-sudah: duduk di meja, buka buku dan membaca keras-keras isi buku, atau menyuruh siswa mengerjakan soal di LKS lalu salam perpisahan.

Banyak pengajaran di sekolah tidak diarahkan supaya siswa menjadi pelajar sepanjang hayat, pelajaranya bermanfaat secara praktis dalam kehidupan siswa, atau pendidikan harus dilakukan dengan menyenangkan. Kehilangan paradigma dalam mendidik seperti ini hanya akan mengantarkan mayoritas siswa ke dalam kegelapan dan menjadi jelata abadi secara intelektual.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
12 Januari 2017 | 11:59
SPP SMA/SMK tak lagi gratis
12 Januari 2017 | 05:25
Bullying dan disfungsi sekolah
6 Januari 2017 | 11:01
Hampir seluruh Jawa siap gelar UNBK
19 Desember 2016 | 19:11
Jokowi Putuskan UN Tetap Berjalan
18 Desember 2016 | 14:00
6 Sifat Dasar Manusia
Pendidikan
Berita Terkait