Pendidikan

Mayoritas anak putus sekolah karena tak ada biaya

3.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
15:26
24 DES 2016
Ilustrasi
Editor
Dede Suryana
Sumber
Antara

Rimanews - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengatakan sebanyak 35,9 persen anak berumur 7 sampai 17 tahun tidak bersekolah persoalan biaya.

"Dari beberapa alasan yang disampaikan, tidak ada biaya menjadi penyebab paling dominan," ujar Menteri Yohana di Jakarta, hari ini.

Data Kementerian PPPA mencatat, selain faktor tidak ada biaya terdapat tujuh alasan lain yang mengakibatkan anak mengalami putus sekolah. Pertama, bekerja atau mencari nafkah sebesar 15,06 persen. Kedua, menikah atau mengurus rumah tangga 7,52 persen. Ketiga, merasa pendidikan cukup sebesar 4,90 persen. Keempat, malu karena ekonomi sebesar 2,11 persen. Kelima, sekolah jauh 3,10 persen. Keenam, cacat atau difabilitas 4,56 persen. Dan ketujuh, karena faktor lainnya sebesar 26,84 persen.

Yohana menjelaskan, pendidikan yang diupayakan pemerintah sebagai usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam dilihat dari Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. 

Program itu, kata dia, menegaskan bahwa anak-anak Indonesia harus sekolah minimal hingga sembilan tahun atau lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, program tersebut dirasakan belum optimal jika melihat masih banyak anak yang putus sekolah.

"Pendidikan murah atau gratis yang banyak diwacanakan dan diinginkan kalangan masyarakat memang akan menolong jika ditinjau secara faktor ekonomi," kata Menteri Yohana. 

Meski demikian, kebijakan tersebut harus ditunjang dengan kebijakan lain untuk menuntaskan berbagai faktor penyebab putus sekolah yang lainnya, jelasnya.  Sebab, faktor ekonomi bukanlah penyebab satu-satunya anak mengalami putus sekolah. Karena masih ada beberapa alasan lain, seperti faktor psikologis, geografis dan lingkungan sosial yang mengakibatkan anak mengalami putus sekolah.

Terbaru