Pendidikan

Pasangan yang tidak akan bahagia dalam rumah tangga

5.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
12:00
31 DES 2016
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI: Setiap pasangan yang berniat melangsungkan pernikahan pasti mempunyai angan-angan tentang kebahagiaan yang akan mereka rasakan dalam rumah tangga. Mereka berpikir bahwa rumah tangga adalah sarang madu yang di dalamnya setiap saat mereka dapat mencecap manisnya kehidupan.

Angan-angan tentu gratis dan hak setiap orang, maka tidak akan ada orang yang sanggup menghentikannya. Akan tetapi, alam fana ini berotasi tak melulu sesuai angan-angan dan cita-cita orang per orang, tak terkecuali hidup berumah tangga.

Dalam pernikahan, misalnya, ada calon pengantin yang bakal sangat sulit memenuhi harapan mereguk kebahagiaan rumah tangga, meskipun dia berusaha menutupinya dengan memposting status dan foto-foto sumringahnya di media sosial atau pada kala tertentu seperti kondangan, arisan dan sebagainya.

Pasangan tersebut adalah mereka yang mewarisi konflik yang belum terobati dari orang tua mereka. Mereka adalah anak korban keluarga yang disfungsi. Orang-orang seperti ini hanya akan menciptakan keintiman semu ‘pseudo-intimacy’ dengan pasangan.

Pasangan yang membawa luka atau trauma dari orang tuanya dari luar akan tampak baik-baik, akan tetapi rumah tangganya akan penuh dengan perjuangan, rasa sakit dan kesepian. Rumah tangganya akan terasa panas seperti neraka atau hampa seperti rumah kosong tanpa penghuni.

Pakar psikologi keluarga terkemuka AS, John Bradshaw (1933-2016) dalam On the Family menyebutkan karakteristik sistem keluarga yang disfungsi, yakni semakin mereka mencoba untuk berubah, semakin mungkin mereka mengulangi keadaan yang sama. Bagi kita tampak aneh, tapi dia menulis buku berdasarkan pengalaman dan riset berpuluh tahun.

Bradshaw menyebutkan ciri-ciri keluarga disfungsi, yang akan melahirkan anak disfungsi pula, yakni: penuh kontrol, perfeksionis, mudah menyalahkan, menolak kebebasan mengekspresikan diri, tidak ada keterbukaan menyampaikan perasaan, suka menciptakan mitos (menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi), gemar berkonflik di depan anak tanpa resolusi, dan tidak bisa diandalkan untuk memenuhi harapan-harapan anak.

Anak yang lahir dari keluarga tersebut akan membawa rekaman yang setiap saat dapat diputar kembali, dalam hubungan dengan pertemanan, pekerjaan, dan terlebih lagi dengan pasangan dalam biduk rumah tangga.

Jika anak-anak hasil didikan keluarga tersebut menikah, yang mereka ciptakan hanya keluarga neraka yang membara dengan konflik: dengan pasangan, anak, mertua dan dengan siapa pun.

Mereka yang tak menyadari tengah membawa gen racun, atau bahkan membencinya, tidak akan hidup kecuali hanya akan mengulang apa yang pernah dialami: atau, melakukan sebaliknya secara berlebihan.

Pernikahan bukanlah sorgaloka yang tiba-tiba kita jajaki lalu merasakan kebahagiaan. Pernikahan adalah proses sekaligus sistem yang harus dibangun. Keberhasilan menjalani sebuah proses atau membangun sistem mensyaratkan orang-orang yang sehat secara mental, yakni mereka yang tanpa luka atau telah melakukan penyembuhan.

Pernikahan yang baik dan fungsional sangat bergantung kepada relasi antara tiap-tiap pasangan dengan dirinya masing-masing. Jika istri mencintai dirinya sendiri dan merasa lengkap serta tumbuh secara utuh, dia akan merasa lengkap dan selesai dengan hidupnya. Demikian pula seharusnya suami, sehingga tiap-tiap pasangan tidak perlu mencari pelengkap dari kekurangannya.

Jika salah satu pasangan membawa ketidaklengkapan perasaan ke dalam rumah tangga, dia akan banyak menuntut pasangannya (uang, cinta, perhatian, status, etiket, dsj), anak (prestasi di sekolah dan di tempat kerja, kepatuhan tanpa syarat, dst) atau orang-orang terdekat lainnya. Tanpa diri yang lengkap 'self-completion', orang akan sulit mencintai orang lain secara utuh. 

Ketika sebuah organisme tak lengkap, secara natural dia akan mencari kelengkapan. Jadi, ketika ada dua pasangan tak lengkap (atau salah satunya) hidup bersama dalam pernikahan, bakat alamiahnya akan muncul untuk mencari pelengkap dari pasangan dan anggota keluarga lainnya, ketimbang meneguhkan kedirian satu sama lain. Dalam keluarga seperti ini, yang bakal terjadi adalah rentetan konflik dan disfungsi, yang setiap saat bisa berujung pada perceraian, atau hal lebih buruk lainnya.

Terbaru
19 Januari 2017 | 06:40
Mengakhiri konflik dengan pasangan
12 Januari 2017 | 11:59
SPP SMA/SMK tak lagi gratis
12 Januari 2017 | 05:25
Bullying dan disfungsi sekolah
6 Januari 2017 | 11:01
Hampir seluruh Jawa siap gelar UNBK
Pendidikan
Berita Terkait
19 Januari 2017 | 06:40
Mengakhiri konflik dengan pasangan