Pendidikan

Mengapa ada orang yang gemar menggunakan bahasa yang rumit?

3.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
20:00
01 JAN 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Kita pasti pernah mengalami peristiwa, dalam sebuah pembicaraan atau ketika membaca buku, yang didalamnya ada orang yang gemar menggunakan istilah-istilah rumit, yang seharusnya bisa dipilih istilah lain yang lebih mudah dipahami oleh semua orang.

Pelakunya bisa siapa saja, mulai dari menteri, dosen, guru hingga mahasiswa atau ibu rumah tangga. Setiap orang ini berkata-kata, pendengar akan dibuat sibuk menerka kira-kira kata yang dilontarkan itu artinya apa, ketimbang memahami pesan secara utuh.

“[...] Back stage dan front stage berbeda. Ini yang membedakan dengan lokalisasi lain," kata seorang menteri menjawab tanyaan tentang kompleks pelacuran Kalijodo, Jakarta.

Di tempat lain, banyak orang menggunakan istilah-istilah yang dirasa canggih; padahal, istilah dengan makna yang sama tersedia dalam bahasa Indonesia yang sudah populer.

Kecenderungan penggunaan bahasa-bahasa yang rumit tidak hanya menggejala di dunia akademik, tetapi juga di bidang lain, seperti agama oleh para pendakwah, hiburan oleh para artis, atau bidang apa pun.

Di dunia hiburan, umpamanya, beberapa waktu lalu sempat ramai orang membahas istilah-istilah kebahasaan yang diucapkan pria berinisial VP. Kontroversi hati atau statutisasi kemakmuran adalah dua contoh frase hasil rekaannya.

Jika pernah menonton film Hollywood berjudul Pay It Forward, Anda bisa menemukan jawaban mengapa ada orang yang gemar memilih kosakata yang rumit dengan memperhatikan tokoh Eugene Simonet, seorang guru sosiologi yang diperankan Kevin Spacey.

Dalam banyak kesempatan, di kelas atau di luar sekolah, Simonet kerap menggunakan istilah-istilah yang tak populer sehingga memaksa lawan bicara untuk membuka kamus. Ketika ditanya oleh Arlene McKinney, seorang janda satu anak yang diperankan Helen Hunt, mengapa dirinya kerap menggunakan kata-kata ilmiah yang rumit, Simonet menjawab, “I have nothing than words (saya tidak mempunyai apa-apa selain kosakata).”

Film drama yang dirilis tahun 2000 itu berkisah tentang orang-orang yang mengalami disfungsi dalam keluarga. Semua tokoh utama adalah korban keluarga disfungsi dan mengalami permasalahan masing-masing dalam hidupnya. Simonet, misalnya, wajahnya cacat karena luka bakar yang dilakukan oleh ayahnya yang seorang pemabuk. Sebagai kompensasi atas penderitaannya, dia belajar begitu keras dan mendapatkan bahasa sebagai salah satu cara membuatnya lebih berarti.

Bahasa memang tidak semata-mata berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi lebih dari itu bisa direkayasa untuk melambangkan sesuatu. Misalnya, penggunaan istilah-istilah dari bahasa Inggris untuk memberikan kesan modern, bahasa Arab untuk citra relijius (di kalangan Muslim), atau Prancis untuk memberikan cap elegan.

Dalam kasus bahasa Indonesia, misalnya, penggunaan istilah-istilah kuno dan tak begitu populer juga bisa dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu di luar pesan utama yang ingin disampaikan. “Sesuatu” yang dimaksud adalah citra positif, pandai, berbudaya, elegan dan citra lain yang ingin diarahkan oleh pembicara, atau penulis jika teks berupa tulisan.

Jadi, orang yang menggunakan bahasa atau istilah yang rumit, yang di saat sama ada pilihan yang lebih mudah, adalah mereka yang tengah membutuhkan penegasan dari orang lain bahwa dirinya memiliki sesuatu. Dalam komunikasi yang tulus dan tanpa kepentingan, seharusnya yang paling penting adalah makna, bukan pilihan kata.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
12 Januari 2017 | 11:59
SPP SMA/SMK tak lagi gratis
12 Januari 2017 | 05:25
Bullying dan disfungsi sekolah
6 Januari 2017 | 11:01
Hampir seluruh Jawa siap gelar UNBK
19 Desember 2016 | 19:11
Jokowi Putuskan UN Tetap Berjalan
18 Desember 2016 | 14:00
6 Sifat Dasar Manusia
Pendidikan
Berita Terkait