Pendidikan

Ketidakadilan kepada orang-orang kaya

2.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
09:30
06 JAN 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Kebanyakan orang menetapkan standard ganda kepada spesies kaya raya di lingkungan sosial mereka. Jika orang-orang kaya menunjukkan hasil kinerja mereka seperti jet pribadi, rumah mewah, mobil sport, jalan-jalan ke luar negeri, pesta eksklusif, baju bertabur kilau berlian, jam tangan berharga miliaran, orang lalu menyebutnya pamer sekaligus sombong.

“Coba barang-barang itu disedekahkan ke orang. Berapa orang miskin yang akan terbantu?” contoh ungkapan yang sering keluar.

Akan tetapi, ketika bersedekah, mereka disebut melakukan pencitraan atau dibilang jumlah sedekah belum seberapa dari harta kekayaan mereka. Orang-orang kaya dituntut jor-joran dalam sedekah dan mengerem keinginan untuk mengekspresikan hasil keringat mereka dan mendapat pujian.

Akan tetapi, tuntutan serupa tidak berlaku kepada orang-orang dari golongan lain. Misalnya, penulis yang memajang dan menunjukkan koleksi puluhan bahkan ratusan buku dan artikel mereka; guru yang memamerkan murid-murid yang juara ini dan itu; artis yang mengagumi karya dan kefanatikan penggemara; penceramah atau motivator yang mengunggah banyaknya peserta acara di akun medsos; gadis cantik pamer kreasi model kerudung, dan sejenisnya.

Bukankah orang-orang tersebut juga memamerkan hasil kinerja mereka? Mengapa hanya orang kaya yang mendapat cap pamer dan sombong ketika menunjukkan berapa gepok uang mereka?

Padahal, jika dipikir-pikir, motivasi orang menceritakan atau mengunggah prestasi atau hasil kerja mereka adalah untuk mendapatkan apresiasi. Atau, ada yang menolak dengan mengatakan, untuk memotivasi.

Lah, bukankah orang kaya juga bisa beralasan mengunggah dirinya yang tidur di atas lembaran rupiah dengan alasan memotivasi orang supaya kerja keras dan kaya raya?

Beberapa orang berpandangan sempit kerap melakukan stigmatisasi kepada orang kaya, misalnya dengan cap belagu, arogan, mentang-mentang dan sifat buruk lainnya. Hal ini terbukti, misalnya, dalam kelas menulis di tingkat perguruan tinggi.

Ketika belajar tentang konjungsi, mahasiswa disuguhkan dengan dua kata, yakni “rich” (kaya) dan “humble” (rendah hati). Sangat mengherankan ketika beberapa mahasiswa membuat kalimat dengan “She is rich but humble” (Dia kaya tetapi rendah hati).

Jelas dalam alam pikir sebagian mahasiswa tersebut bahwa kaya bersifat negatif, sehingga harus dikontraskan dengan kunjungsi “tetapi” ketika kata tersebut harus disandingkan dengan rendah hati, yang kita sepakati berasosiasi positif. Atau, beberapa mahasiswa tadi berpikir bahwa orang kaya tidak boleh rendah hati, atau orang kaya biasanya tidak rendah hati.

Hal ini menegaskan bahwa orang-orang kaya sebetulnya sudah dicap buruk di sebagian benak masyarakat, sebelum mereka melakukan apa-apa. Padahal, kekayaan adalah buah dari kerja keras—jika ternyata hasil korupsi atau memelihara tuyul, setidaknya tetap kerja keras dalam menggarong uang negara atau kerja mati-matian bakar kemenyan atau nyupang. Bahkan, jika kaya karena turunan, moyangnya pasti pekerja keras sehingga tujuh turunannya masih mendapat berkah dari buah kerja kerasnya.

Kekayaan adalah buah dari gaya hidup, kerja dan usaha, sama seperti hasil kinerja seorang guru, yakni murid-murid yang pandai. Jika menunjukkan hasil kerja ke orang disebut pamer atau kesombongan, penceramah yang unjuk jumlah jemaah atau penulis unjuk jumlah karya seharusnya dilabeli dengan hal yang sama. Kita harus adil kepada siapa saja, termasuk kepada spesies kaya raya.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
19 Januari 2017 | 06:40
Mengakhiri konflik dengan pasangan
12 Januari 2017 | 11:59
SPP SMA/SMK tak lagi gratis
12 Januari 2017 | 05:25
Bullying dan disfungsi sekolah
6 Januari 2017 | 11:01
Hampir seluruh Jawa siap gelar UNBK
Pendidikan
Berita Terkait
19 Januari 2017 | 06:40
Mengakhiri konflik dengan pasangan