Pendidikan

3 tanda verbal calon pengantin tak paham tentang pernikahan

3.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
17:30
09 JAN 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

2. Kuserahkan jiwa dan raga ini kepadamu

Ungkapan beracun di atas lebih sering diungkapkan oleh seorang calon pengantin perempuan, daripada pria. Hal itu mungkin dimaksudkan sebagai bentuk bentuk kepasrahan total dari salah satu pihak kepada yang lain, yang sering diidamkan oleh pihak pria atas wanita.

Kalimat hiperbolik di atas barangkali dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan budaya. Misalnya, dalam masyarakat Jawa, kata garwo ‘pasangan’ dikiaskan menjadi sigare nyowo ‘belahan jiwa’.  Ini hanyalah mitos seperti keberadaan Mak Lampir; jika percaya, silakan ketakutan sepanjang malam dan jika tidak percaya, Anda pasti tidak akan pernah menemuinya.

Kalimat berbisa tersebut tak bermakna kecuali sebagai bentuk penyerahan tanggung jawab ke orang lain. Dengan kata lain, penturnya tidak ingin bertanggung jawab terhadap dirinya lagi setelah menikah, diserahkan ke suami. Padahal, suami belum tentu bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Diri kita adalah tanggung jawab kita sendiri; kita tak bisa memaksa orang lain membahagiakan kita. Kitalah yang harus membahagiakan diri sendiri, yang harus dilakukan dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam diri, terutama kebutuhan emosional—yang sering terabaikan.

Jika diri diserahkan ke orang lain, lalu kita punya apa? Jika diri sendiri saja tak punya, apalah artinya hidup? Orang yang menyerahkan dirinya ke orang lain adalah mereka yang memperbudak jiwanya. Orang seperti ini akan kekal dalam kecemasan, yang akan diekspresikan dalam bentuk cemburu, iri, dan bergantung—kebergantungan kepada manusia adalah kecacatan mental.

Pribadi yang mengidap penyakit cemas tidak mungkin dapat membangun sebuah pernikahan secara fungsional. 

KATA KUNCI : , ,
Terbaru
Pendidikan