Pendidikan

3 tanda verbal calon pengantin tak paham tentang pernikahan

3.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
17:30
09 JAN 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Membangun sorga lewat pernikahan adalah dambaan hampir setiap orang, maka tak heran jika sejak zaman prasejarah hingga era kekinian menikah menjadi salah satu rencana besar dalam hidup seseorang.

Akan tetapi, sekadar ingin mendapatkan sesuatu tanpa mengenal dan memahami situasinya sangat mungkin tersesat dan gagal di tengah jalan, tak terkecuali bagi mereka yang ingin menikah tapi tidak paham tentang pernikahan.

Jika diamati, ada setidaknya tiga tanda verbal, yang diungkapkan lewat ucapan maupun tulisan, yang mengindikasikan bahwa pemroduksi tanda tidak paham tentang pernikahan, meskipun ungkapannya seolah-olah sangat relevan dengan cita-cita sebuah pernikahan.

1. Bahagianya, sekarang sudah ada yang membimbing

Kalimat di atas sering diucapkan oleh perempuan yang justru tengah gandrung dengan agama. Sebagai tandingan, ungkapan dari pihak pria sering lebih pesimistis, “Membimbing perempuan tidaklah mudah.”

Kalimat-kalimat sejenis membuktikan bahwa si penutur menganggap pernikahan sebagai sebuah event, yang di dalamnya orang butuh pembimbing seperti ritual haji dalam agama Islam. Ritual selama lima hari tersebut pantas membutuhkan pembimbing, maka jangan heran bertebaran biro bimbingan haji dan umroh. Sejak kapan suami mendapat tugas bak biro haji? Sejak kapan pula suami selalu berada di jalur yang benar—dan istri tersesat—sehingga harus berfungsi sebagai penunjuk jalan?

Ketika memutuskan untuk menikah, sepasang manusia tengah terlibat membangun sebuah sistem yang bernama pernikahan, yang di dalamnya ada proses laiknya dalam sebuah organisasi. Jika masih harus belajar, apalagi buta dan tak pernah/mau belajar, sistem dalam organisasi akan berjalan terseok-seok, jika tidak gulung tikar. Yang harus dibangun adalah kerjasama saling mengingatkan.

Pakar keluarga Nandor Lim mengatakan ketika lahir anak dari sebuah pernikahan, organisasi ini akan berubah menjadi keluarga. Jadi, pernikahan dan keluarga adalah dua sistem yang berbeda, meskipun mirip. Maka, keduanya membutuhkan pemahaman dan cara pengelolaan yang berbeda pula.

Hal ini terbukti ketika dua insan menikah dan mengaku bahagia, tiba-tiba merasa hidupnya tersiksa dengan lahirnya anak. Tidak hanya kebahagiaan yang terenggut, tetapi bahkan pernikahannya ikut hancur setelah memiliki anak. Hal ini menjadi bukti bahwa sistem dalam pernikahan dan keluarga adalah dua hal yang berbeda.

Kembali kepada calon pengantin yang tidak memahami hakikat pernikahan, dengan mengatakan butuh pembimbing. Jika relasi yang dingin dibangun adalah pembimbing-terbimbing, yang terjadi adalah hubungan hegemonistik yang di dalamnya ada pihak yang mendapat keuntungan lebih besar dari yang lain. 

KATA KUNCI : , ,
Terbaru
27 Juli 2017 | 13:03
Melonggarkan aturan keluarga
15 Juli 2017 | 07:00
Aksara di sekolah kita
12 Juli 2017 | 07:14
Hasrat memberi dan penghalangnya
4 Juli 2017 | 17:49
UGM temukan antibodi unggas
Pendidikan