Bullying dan disfungsi sekolah

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Bullying dan disfungsi sekolah

Kabar kematian Adam Fawas (13), santri di Lamongan-Jawa Timur pada 12 Desember tahun lalu ,masih bergelayut di ingatan kita. Namun, kabar duka dari dunia pendidikan kembali menghantui kesadaran kita, yang kali ini datang dari Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP).

Adalah Amirulloh Adityas Putra yang tewas setelah mengalami tindakan kekerasan. Baik Fawas maupun Amirullah meregang nyawa di tangan para senior. Jika Fawas dijotosi 15 berandal cilik di pesantren, Amirulloh dijadikan bulan-bulanan oleh 4 senior di asrama pada 10 Januari.

Bullying atau perundungan jika dirunut, akarnya adalah disfungsi keluarga, yang dalam makna sederhana berarti tidak berfungsinya keluarga sebagaimana mustinya: yang berlimpah perhatian, cinta dan pendidikan. Baik korban dan pelaku biasanya sama-sama lahir dari keluarga disfungsi.

Bukan bermaksud menyudutkan korban, akan tetapi orang yang menerima atau tidak tahu harus bagaimana ketika disakiti adalah mereka yang memiliki tunakehendak ‘disabled will’ atau mungkin cacat cara pandang ‘disabled view’, menganggap dirundung adalah nasib yang harus diterima. Biasanya, orang yang menjadi korban bullying hingga tahap akut adalah mereka yang sudah terbiasa menjadi sasaran perundungan-perundungan dengan taraf lebih kecil.

Anak atau orang yang menjadi korban bullying biasanya mereka yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya, dan ini adalah akibat dari pola asuh yang salah di keluarga.

Di lain pihak, pelaku bullying adalah monster yang juga sudah pasti lahir dari keluarga disfungsi. Keluarga anak pelaku bullying biasanya penuh kontrol, perfeksionis, mudah menyalahkan, menolak kebebasan anak mengekspresikan diri, tidak ada keterbukaan menyampaikan perasaan, gemar berkonflik di depan anak tanpa resolusi, tidak bisa memenuhi harapan-harapan anak, dan menggunakan kekerasan baik verbal maupun fisik dalam apa yang orang tua sebut mendisiplinkan anak.

Institusi sekolah tidak hanya diandaikan menjadi sekadar tempat pendidikan intelektual, emosional dan spiritual, tetapi penyembuhan luka lama akibat disfungsinya institusi keluarga. Oleh karena itu, di sini sekolah berperan sebagai pengganti institusi keluarga. Meskipun keluarga tidak pernah bisa digantikan, minimal sekolah mampu menjadi tempat aman bagi anak-anak menumbuhkembangkan dirinya secara utuh sebagai manusia.

Ketika siswa melakukan hal-hal di luar norma yang digariskan, berarti sekolah telah gagal menjalankan fungsinya. Dengan kata lain, pelajar yang disfungsi hanyalah sebuah akibat dari sekolah yang disfungsi, yakni sekolah yang tak mampu mengendalikan anak didik dalam lajur moral yang lurus.

Kasus yang terjadi pada Fawas dan Amirulloh di tangan rekan-rekan mereka hanyalah sebuah puncak fenomena gunung es kekerasan yang melembaga di institusi pendidikan kita, baik verbal maupun fisik.

Disfungsi sekolah tentu berakar pada disfungsi individu-individu yang terlibat di dalamnya; mereka adalah terutama para guru. Disfungsi sekolah dalam hal ini selalu dimulai dari ketidakpahaman guru menjalankan fungsinya dalam mendidik.

Guru merundung siswa, atau minimal membiarkan, pasti lebih sering terjadi daripada yang orang bayangkan. Perundungan tersebut mulai dari olok-olok, menjadikan salah seorang murid sebagai bahan candaan, marah dan umpatan, memukul, menghukum fisik, hingga meremehkan bullying-bulyying verbal di antara siswa. Cara-cara seperti ini lalu ditiru oleh siswa, sebagaimana anak meniru perilaku orang tua. Guru merundung siswa; siswa merundung junior mereka. Perundungan seperti menjadi lingakaran setan yang hanya bisa diputus oleh mereka yang terlibat di dalamnya.

Isu ini mungkin agak kontroversial, karena guru biasanya dipersepsi berbekal kasih menghadapi murid-muridnya. Namun, persoalan ini penting untuk diketengahkan secara jujur demi memahami situasi nyata dalam pendidikan kita.

Jika ada siswa yang dirundung hingga tewas, berarti jelas di sekolah tersebut ada pelembagaan kekerasan plus sistem yang tidak jalan. Mekanisme sanksi dan dan apresiasi di sekolah tersebut pasti kacau, dan penegakan disiplin diasumsikan dengan penertiban gaya preman.

Sekolah cacat seperti itu harus dirombak secara total, dan itu membutuhkan bantuan pihak lain dan pendampingan terus-menerus hingga para pengelola institusi tersebut dinyatakan sembuh dari sakit kejiwaan dan emosional.

Mendesak Jokowi selamatkan lingkungan hidup di Bangka Belitung
Politik kebijakan agraria tak bersahabat dengan petani
Potensi dan bencana di dasar samudera
Partai Ponsel jadikan perempuan sebagai komoditas
Kebebasan yang harus ada di keluarga
Fetching news ...