Pendidikan

Mengapa anak pertama selalu dijadikan tumbal?

4.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
04:00
12 JAN 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Namaku Eka, anak pertama dari enam bersaudara. Sejak kecil aku mendapat tugas dari orang tua untuk menjaga adik-adikku yang masing-masing jaraknya sangat rapat. Sangat sering aku harus mengurungkan niat untuk bermain dengan teman-teman karena harus menjaga adik dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah.

Ketika dewasa, aku seolah menjadi orang tua ketiga, dengan tetap membantu mengurus adik-adikku: tak sekadar mengasuh, tetapi juga turut membiayai sekolah mereka. Beberapa adikku berpendidikan sarjana, sedangkan diriku sendiri hanya lulus SMA, lebih karena harus bekerja membantu ekonomi keluarga.

Dua paragraf di atas sekadar kisah rekaan penulis, akan tetapi penulis yakin cerita sejenis banyak dialami oleh anak sulung di Indonesia, yang pada intinya mereka dijadikan tumbal dalam keluarga.

Dalam budaya kita, anak sulung sah dituntut memiliki dada yang lebar untuk menampung penderitaan dan mempunyai punggung yang kokoh untuk kuat memikul beban. Si sulung didisain sebagai penerus cita-cita, sebagai contoh/panutan, pengayom, dan penjaga adik-adiknya.

Pemberian tugas seperti ini dianggap sah oleh masyarakat kita. Bahkan, si sulung sendiri, karena mitologisasi yang bertubi-tubi, menerimanya sebagai determinisme, takdir yang harus diterima tanpa perlu koreksi.

Padahal, hal tersebut adalah keyakinan yang palsu. Sebab, pemberian tanggung jawab besar pada si sulung sejak dini atas adik-adik bakal membuatnya kehilangan kehendak mandiri ‘independent will’—kemampuan untuk bertindak berdasarkan pada kesadaran sendiri, bebas dari pengaruh orang lain. Kehendak ini adalah anugerah terhebat bagi manusia; binatang tidak memilikinya.

Di antara stimulus dan respons, manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Jika kebebasan untuk memilih tersebut diambil alih orang lain dan dipaksakan kepada diri seseorang, yang bersangkutan akan mengalami ‘disabled will’ atau cacat berkehendak. Siapa pun tidak seharusnya merampas kehendak tersebut, apalagi orang tua. Sangat tidak adil jika si sulung harus mengambil alih peran orang tua.

Harus disadari bahwa mengasuh anak adalah tanggung jawab orang tua, bukan si sulung. Pelimpahan tanggung jawab seperti ini akan menjadikan anak sebagai tumbal. Jika luka perasaannya tidak sembuh, anak seperti ini akan tumbuh dewasa tanpa perasaan keakuan; hidupnya akan dipenuhi dengan pengorbanan dan sifat mengalah sepanjang masa.

Sengaja atau tidak, anak sulung yang menjadi pahlawan bagi keluarganya dalam menjaga adik-adik dan orangtuanya ketika dewasa sering menikah dengan orang dewasa dengan sifat kekanak-kanakan ‘adult child’, satu sama lain seolah saling melengkapi: yang satu memelihara dan yang lain dipelihara. Jadi, selamanya dia menjadi pemelihara orang lain. Hidupnya penuh dengan kesengsaraan secara emosional.

Anak yang harus menjadi tumbal, menurut pakar keluarga John Bradshaw  (1933-2016) dalam On the Family, adalah akibat kegagalan orang tua menciptakan lingkungan keluarga yang memberikan kesempatan anak-anak untuk berpikir, mengungkapkan perasaan, dan berimajinasi. Karena si sulung (bisa juga anak yang lain) terlibat dalam menjaga tugas-tugas rumahtangga orang tua, mereka secara nyata sudah berubah fungsi menjadi penjaga keluarga. Anak yang tumbuh di keluarga seperti ini akan kehilangan waktu untuk mendengar dan memperhatikan suara nuraninya; dia kehilangan dirinya sendiri.

Anak yang dibebankan tugas yang tidak seharusnya dia pikul akan berkepribadian kaku; mereka suka mengendalikan orang lain. Hasil pola asuh seperti itu akan menghasilkan pribadi yang terlalu bertanggung jawab, terlalu sukses atau terlalu sering gagal, pemberontak atau terlalu baik kepada orang lain, terlalu melindungi atau sangat galak; dia berada pada titik ekstrem.

Tidak ada orang tua yang sempurna dalam pengasuhan anak, tidak pula akan ada orang yang bakal melakukannya. Yang terpenting adalah kesadaran, terutama orang tua/calon orang tua, untuk berusaha sekuat tenaga memenuhi hak-hak anak, terutama ketika dia masih kanak-kanak. Ketika hak-hak ini tidak dipenuhi, hasilnya adalah masalah yang serius di kemudian hari. 

Jangan ada satu anak pun yang dijadikan tumbal untuk menutupi kekurangan orang tua. Anak adalah anugerah Tuhan untuk dirawat, bukan objek atau hasil produksi yang boleh dieksploitasi sekehendak hati. Sebagai pemberian Tuhan, anak harus dijaga dan dididik secara saksama, sebab bagaimana jika nanti kita bertemu denganNya lalu lalu Dia bertanya tentang apa yang sudah kita lakukan dengan titipanNya?

Terbaru
18 Maret 2017 | 20:40
Nasir: insinyur kok jadi wartawan
18 Maret 2017 | 06:45
Iklim pengaruhi bentuk hidung
15 Maret 2017 | 05:07
Kesulitan bersikap santun
11 Maret 2017 | 06:50
Kekejaman orang tua ke anak