Mengapa pria kurang tertarik dengan isu keluarga dan pendidikan anak?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mengapa pria kurang tertarik dengan isu keluarga dan pendidikan anak? Ilustrasi

Rina, sebut saja demikian, adalah seorang perempuan berusia medio tiga puluhan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Dia mengeluhkan suaminya yang tidak menyukai anak-anak.

“Kalau dengar anak nangis, dia malah marah. Saya jadi tambah stress,” katanya menampakkan wajah sedih.

Kejadian di atas bukan hanya terjadi di keluarga Rina. Jika Anda mengahadiri seminar pranikah, keluarga dan parenting atau workshop serta training sejenis, perhatikan jumlah antara pria dan wanita yang menjadi pesertanya. Hadirin pasti didominasi perempuan, meskipun pembicara utama kerap juga berjenis pria.

Isu seputar rumah tangga dan pendidikan anak kurang membuat pria untuk angkat jari menyatakan kesediaannya ikut terlibat di dalamnya. Bahkan, pembaca artikel-artikel yang membahas tema sejenis juga didominasi perempuan. Jika ingin melihatnya secara acak, perhatikan siapa yang membagikan artikel-artikel tersebut di media sosial.

Ada sejumlah alasan mengapa banyak pria cenderung abai dengan isu seputar keluarga dan pendidikan anak. Pertama adalah cacat cara pandang yang diidap banyak pria bahwa urusan keluarga dan anak adalah tanggung jawab istri, sedangkan dia hanya bertanggung jawab memastikan ekonomi rumah tangga.

Cacat cara pandang seperti ini biasanya bersifat bawaan, akibat pengabaian yang dilakukan ayahnya (termasuk ibunya), lalu dia meneruskan warisan luka itu ke anak dan istrinya. Cacat cara pandang bawaan ini tidak bisa diobati orang lain kecuali dia sendiri berkehendak untuk sembuh.

Banyak pria memasuki pernikahan dan keluarga tanpa persiapan secara emosional dan spiritual. Pengetahuan tentang rumah tangga pun nihil. Dia hanya berbekal mitos dan pengamatan rumah tangga yang dikelola orang tuanya. Jika keluarga yang membesarkannya disfungsi, dia pasti akan menciptakan keluarga disfungsi pula.

Sayangnya, penyakit seorang anak yang lahir dari keluarga disfungsi adalah sering merasa dirinya baik-baik saja—tidak ada orang gila yang secara sadar melakukan pengobatan, kecuali diantar oleh orang-orang terdekatnya. Hal ini menjadi faktor utama orang-orang tersebut tidak mau belajar tentang rumah tangga dan pendidikan anak.

Kedua, banyak pria tidak merasa kuatir dengan keberlangsungan rumah tangga. Mereka merasa bisa kabur kapan saja dari pernikahan dan keluarga. Terlalu banyak cerita jika sebuah rumah tangga berantakan, tanggung jawab pengasuhan anak pun dibebankan secara total ke pihak perempuan.

Bahkan, tak jarang pula, saat masih berkeluarga dan dalam ikatan pernikahan, para pria melacurkan diri dengan perselingkuhan dan pekerja seks untuk menegaskan betapa kacaunya menejemen emosional dia, terutama tentang pengelolaan cinta dan seks.

Ketiga, kehadiran anak cukup sering dianggap sebagai awal mula pengabaian oleh istri. Pria merasa kebutuhannya untuk dilayani berkurang. Karena merasa sebagai kepala rumah tangga harus dilayani, tentu dia akan berpikir rugi jika harus belajar tentang pendidikan anak dan keluarga, yang ujung-ujungnya pasti mensyaratkan keterlibatan dan pelayanan.

Maka, training dan workshop tentang keluarga dan parenting sepi dari para pria. Kesibukan tidak bisa dijadikan alasan untuk hal ini, karena banyak acara diselenggarakan di akhir pekan, dan pekerja pun boleh cuti. Karena yang ikut pelatihan hanya satu pihak, tingkat keperhasilannya pun hanya setengah, jika tidak setengah-setengah (1/2x1/2=1/4).

Seorang istri (berbekal hasil training/pendidikan tersebut) mustahil mengubah sikap suami, sama seperti seorang anak yang akan sia-sia jika ingin mengubah sifat orang tuanya. Budaya kita tidak memihak siapa pun yang berada di status bawah. Secara empiris dan terus-menerus kita diajarkan untuk menafikan suara-suara dari orang yang lebih rendah dari kita, sebuah pedagogi beracun yang sudah telanjur kita telan tanpa ampun. Dalam hierarki rumah tangga, pucuknya tentu dipegang oleh suami dan ayah.

Google Allo punya 4 permainan baru
Meredam senam impor dengan Poco-poco
CCTV jangan hanya di lampu merah, pasang juga di kantor pemerintah
Pemimpin muslimah perekat hubungan Singapura-RI
Empat program prioritas hapus desa tertinggal
Fetching news ...