Pendidikan

ITS ciptakan alat pemantau udara super murah

1.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
21:42
01 FEB 2017
Ilustrasi
Editor
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Antara

Rimanews - Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara di Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan alat pemantau kualitas udara yang diklaim berharga super murah.

Kepala Laboratorium, Arie Dipareza Syafei di Surabaya, Rabu menjelaskan, harga alat pengukur kualitas udara saat ini berada pada kisaran Rp 2 milliar. Selain itu, biaya pembenahannya juga masih dianggap mahal. Sehingga pemerintah kota tak bisa berbuat banyak saat alat tersebut tidak bekerja dengan baik.

Akan tetapi, Ia dan tim hany akan memasang harga Rp 80 juta hingga Rp 100 juta saat alat ini telah dipatenkan nantinya.

"Meskipun harganya jauh lebih murah, alat kami memiliki akurasi hingga 90 persen," tutur Arie meyakinkan.

Berbeda dengan alat pantau udara yang menggunakan sistem gas analyzer, alat pantau milik ITS ini menggunakan sensor. Penggunaan sensor inilah yang menyebabkan perbedaan harga dengan alat-alat yang tersedia saat ini.

"Dengan sensor electrochemical, alat ini sudah mampu membedakan polutan dalam dua jenis gas. Alat ini dapat diakses melalui situs via perangkat masyarakat," papar doktor lulusan Hiroshima University, Jepang ini.

Memasuki prototype yang ketiga, Arie mengaku tidak mendapat kendala berarti dalam merancang alat ini. Ia dan timnya juga mendapat dukungan penuh dari ITS dengan adanya dana lokal. Karena alat ini merupakan rangkaian elektronika, mereka tahu bahwa alat ini masih terus butuh pengembangan berkali-kali.

Alat ini merupakan bentuk kontribusi ITS terhadap pemerintah dan masyarakat. Harganya bisa dibilang lebih terjangkau dibandingkan alat yang saat ini beredar. "Harapannya, alat pengukur kualitas udara ini dapat dipasang di seluruh daerah di Indonesia nantinya," ujar Arie.

Terbaru
24 Februari 2017 | 05:00
Mengapa sampai salah memilih pasangan?
23 Februari 2017 | 05:00
Memaksa guru menulis
19 Februari 2017 | 19:35
UI hapus ujian masuk mandiri
18 Februari 2017 | 12:30
Muhadjir kecil gemar tonton film
15 Februari 2017 | 07:00
Cara terbaik meminta maaf
11 Februari 2017 | 07:00
Bullying paling beracun dan penawarnya
7 Februari 2017 | 07:00
Membunuh masa depan orang lain
Berita Terkait
24 Februari 2017 | 19:26
"Pernikahan gaib bukan budaya Dayak"