Pendidikan

Membunuh masa depan orang lain

4.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:00
07 FEB 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Vina adalah mahasiswi periang sampai dia menjadi korban perundungaan atau bullying oleh beberapa teman sekelasnya. Akibat bullying yang dimotori oleh dua temannya, Vina dikucilkan dari pergaulan.

Akibat lidah tajam teman-teman hingga berlanjut di grup media sosial, Vina tercekam kemurungan akut sampai merasa berat hati untuk ke kampus demi menyelesaikan kuliahnya yang sudah tingkat akhir.

Kejadian di atas pasti bukan hanya Vina yang mengalami. Banyak anak yang harus terpuruk, kehilangan kepercayaan diri, bahkan bunuh diri karena menjadi korban perundungan teman-temannya di sekolah/kampus, atau bahkan korban bullying guru atau pengelola institusi pendidikan lainnya.

Ada dua sisi sebenarnya yang harus dilihat secara cermat, yakni perundung dan terundung. Namun, ulasan ini akan mencermatinya dari sisi pelaku, mengapa mereka sampai tega menjadi pembunuh masa depan orang lain.

Pembully tak ubahnya pembunuh perasaan, perampas kesempatan, dan pada tahap ekstrem pembunuh secara denotatif seperti yang terjadi di kampus UII Yogyakarta saat pendidikan dasar Mapala beberapa waktu lalu.

Para pembully—rentang umur dari kanak-kanak hingga lanjut usia—adalah mereka yang mengidap cara pandang dengan menerima apa yang seharusnya tak berterima "accepting the unacceptable things." Nuraninya yang belum tercemar pasti mengakui bahwa perundungan adalah racun yang sangat mematikan, minimal secara emosional. Akan tetapi, dia justru bisa menikmati aksi perundungan tersebut.

Para pengidap cacat cara pandang tersebut sehari-hari bisa merupakan pribadi yang tampak baik-baik saja, bahkan cukup rajin menjalankan ritual keagamaan. Maka, banyak orang tua atau orang dekat pelaku yang terkejut ketika perundungan yang dilakukannya sudah tahap kronis.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Douglas Gentile dan Brad Bushman dalam Psychology of Popular Media Culture, anak-anak yang terlihat baik memiliki risiko untuk menjadi seorang pengganggu dan memiliki beberapa perilaku yang agresif. Penelitian ini dilakukan dengan memantau perkembangan dari 430 anak usia 7-11 tahun di kelas 3-5 dari lima sekolah di Minnesota, AS.

Gentile dan Bushman mengungkapkan ada enam faktor yang bisa menyebabkan anak menjadi seorang perisak, yakni permusuhan, kurang perhatian, persepsi kejantanan (biasanya laki-laki), riwayat korban kekerasan, riwayat berkelahi, dan ekspose kekerasan dari media.”

Berangkat dari apa yang dialami Vina, yang sudah di level mahasiswa dan berjenis wanita, dua penyebab pertama dapat dipastikan menjadi pendorong dua teman yang menjadi motor bullying terhadapnya.

Stimulus yang menyebabkan dua teman tadi memusuhi Vina bisa karena berebut cinta dari seorang pria yang sama, memperebutkan perhatian dari teman-teman, unjuk status, tidak senang dengan tampilan Vina, atau merasa terusik dengan eksistensi si korban bullying.

Selanjutnya, bisa dipastikan bahwa orang-orang yang cacat sosial adalah mereka yang mengalami disfungsi pengasuhan di keluarganya. Disfungsi keluarga di sini bukan semata-mata perceraian atau kematian orang tua tetapi juga pola asuh yang salah.

Anak yang besar dengan kekerasan, terabaikan perasaan dan pikirannya, dibebani terlalu berat, kurang kasih sayang dan dibesarkan dengan kebohongan, anak yang tumbuh bersama konflik orang tua yang tak berujung, dan anak yang dibesarkan di keluarga yang tidak bisa memenuhi  kebutuhan primordial anak adalah ciri-ciri anak yang ketika dewasa akan mengalami cacat kepribadian.

Pembully biasanya mereka yang jiwanya gersang akibat mengalami pengabaian ‘abandonment’ di keluarganya. Pelaku merasa terabaikan hak-hak dasarnya, maka dia mencari kompensasi—dengan membully untuk mendapatkan perhatian dari mereka yang berada di pihaknya.

Dia puas dengan melihat kesakitan korban ketika ditolak dan diabaikan teman-teman lainnya sebagai pengalihan dari luka di dalam hatinya akibat pengabaian yang dialaminya secara simultan di keluarga. Pada saat itu, (jiwa) pelaku merasa sejenak keluar dari dirinya (tubuh) sendiri yang penuh luka, untuk melihat sasaran yang diserupakan dengan dirinya. Saat itu dia merasa lepas dan puas; dia lalu mencari pembenar atas aksinya supaya tampak berterima secara sosial.

Anak yang mengalami kebergantungan ‘co-dependency’ juga rentan menjadi pelaku bullying, yang hakikatnya juga berasal pengabaian. Pengabaian di sini bukan semata-mata orang tua yang tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak, tetapi termasuk pengalihan tanggung jawab pengasuhan dari orang tuanya. Pengalihan tanggung jawab itu misalnya orang tua yang tidak sempat memberikan waktu ke anak-anak lalu menggantinya dengan uang dan fasilitas-fasilitas material, atau pembantu. Akibatnya, anak mengalami ketergantungan, yang gejalanya adalah perubahan mood yang drastis ketika apa yang membuatnya bergantung tersebut tidak ada.

Jiwa anak seperti ini akan labil dan mudah berkepribadian cacat, termasuk merundung. Dia mencoba untuk menebus perasaan-perasaannya yang terabaikan di keluarganya yang disfungsi dengan cara mengintimidasi orang lain. Dengan cara ini, dia merasa mendapatkan kontrol penuh dan kekuasaan atas korbannya, sebagai kompensasi karena selama ini dia tidak bisa mengontrol dirinya akibat kebergantungan dengan sesuatu di luar dirinya.

Dampak dari Bullying tidak seperti goresan di kulit pohon yang akan hilang seiring pertumbuhannya. Luka dari bullying akan dibawa dan membebani korban seumur hidup. Ini yang harus dicamkan para perundung. Sayangnya, para pembully tak mau tahu ini karena dia sendiri tak tahu jika jiwanya terluka; bagaimana dia memahami luka orang lain?

Cara pandang pembully yang cacat juga tidak akan mampu membuatnya lurus untuk menimbang dampak dari perbuatannya. Oleh karena itu, bullying sulit dihentikan dengan ancaman hukuman sekalipun. Para pelaku harus sadar terlebih dulu bahwa jiwanya sakit dan lalu mencari penyembuhan, baru kepribadian dan perilakunya lebih mudah diluruskan.

Terbaru
18 Maret 2017 | 20:40
Nasir: insinyur kok jadi wartawan
18 Maret 2017 | 06:45
Iklim pengaruhi bentuk hidung
15 Maret 2017 | 05:07
Kesulitan bersikap santun
11 Maret 2017 | 06:50
Kekejaman orang tua ke anak
24 Februari 2017 | 05:00
Mengapa sampai salah memilih pasangan?
23 Februari 2017 | 05:00
Memaksa guru menulis
Pendidikan