Pendidikan

Spesialis korban bullying dan penyembuhannya

5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:00
09 FEB 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI - Rico (19) mengaku spesialis menjadi korban perundungan atau bullying sejak sekolah, terutama saat SMA. Bullying itu terus berlanjut hingga tahun keduanya di universitas yang dijalaninya saat ini.

Bentuk bullying terhadap Rico saat ini adalah kerap dikucilkan oleh teman-teman kuliahnya. Jika ada tugas kelompok, nyaris tidak ada teman yang mau satu grup dengannya. Duduk di kelas pun, dia tampak diasingkan oleh teman-teman. Hal itu termasuk olok-olok atau nyinyir yang sering diterimanya.

Dia sering kebingungan mencari partner jika ada tugas kelompok dari dosen. Ujung-ujungnya, dia akan satu grup dengan mahasiswa yang juga sama-sama diasingkan di kelasnya. Jika dosen yang menentukan anggota tiap-tiap grup, dia pun seolah tak dianggap oleh yang lain.

Sebuah riset yang dipimpin Clayton R. Cook  dari  Louisiana State University, yang dipublikasikan oleh American Psychological Association, menyebutkan bahwa pria lebih sering membully ketimbang wanita; perundung dan terundung sama-sama kurang memiliki kemampuan memecahkan masalah sosial. Selanjutnya, kemampuan akademik yang rendah dapat dijadikan prediksi bahwa seseorang bakal jadi pembully.

Riset Cook juga menemukan bahwa korban perundungan berusia lebih dewasa menderita depresi dan kecemasan melebihi korban berusia lebih muda. Intinya, perundungan sangat beracun, yang tak hanya dapat membunuh perasaan korban, tetapi juga dapat membunuhnya secara denotatif.

Sementara itu, sebuah riset dari University of Ottawa menyebutkan bahwa 4-12% anak mengaku menjadi korban bullying tanpa sebab yang jelas. Riset yang dilakukan oleh John Haltigan dan Tracy Vaillancourt, diterbitkan di Developmental Psychology, mengambil sampel anak kelas 5 SD hingga masuk SMA. Anak-anak korban bullying tersebut mengaku menjadi korban bullying dari teman-teman sebaya.

Korban bullying permanen seperti Rico biasanya mempunyai karakter tipikal, antara lain: kurang memiliki kemahiran bersosialisasi, kesulitan memecahkan permasalahan sosial, memiliki kemampuan akademik yang rendah, tidak mandiri alias bergantung ‘co-dependence’, dan berasal dari keluarga disfungsi. Orang yang spesialis menjadi korban bullying juga biasanya memiliki harga diri ‘self-esteem’ yang rendah.

Orang sampai berlarut-larut menjadi korban bullying adalah karena ketakutan bahwa dia tidak akan bisa sintas 'survive' jika meninggalkan lingkungan tersebut. Orang seperti ini, meskipun terus-terusan dibully, akan tetap bertahan. Polanya sama seperti seorang anak yang dibesarkan dengan kekerasan dan ketakutan, semakin seorang ibu (juga ayah) gemar menggunakan kekerasan (verbal-nonverbal) atau menebar ketakutan, semakin anak akan bergantung kepadanya.

Jika Anda melihat anak kecil yang gelendot ke ibunya dan takut dengan orang asing, itu adalah contoh nyata anak-anak yang dibesarkan dengan ketakutan, tanpa rasa aman, dan kemungkinan besar plus kekerasan. Dia menjadi semakin bergantung.

Kebergantungan seorang anak juga bisa lahir dari pengalihan pola asuh. Maksudnya, ketika ayah-ibu tidak bisa hadir secara langsung memberikan kasih dan pendidikan, mereka mengalihkannya ke yang lain (pembantu, guru-guru les, fasilitas-fasilitas, dan sejenisnya). Anak yang lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga seperti ini akan kesulitan untuk bisa mandiri dan memiliki self-esteem yang tinggi. Akibatnya, dia sukar untuk menjadi dirinya sendiri, dalam arti percaya diri bahwa dunia akan baik-baik saja jika dia sendirian.

Jadi, jika ingin mencari sebab mengapa Rico—dan yang lain—sampai menjadi korban terus-menerus, jawabannya ada pada bagaimana dia dibesarkan oleh keluarganya. Bahwa lingkungan sekolah dan kampus memberikan pengaruh adalah jelas, akan tetapi kesulitan keluar dari situasi tersebut adalah hal lain yang tidak bisa semata-mata dilihat pada saat peristiwa bullying itu terjadi.

Ketika seseorang merasa dirundung (apalagi sudah dewasa), dia seharusnya mampu mengenali apa motivasi atau niat mereka melakukan perundungan lalu mencari solusinya; melawan atau meminta bantuan orang yang memiliki otoritas; berani berkata “stop” atau segera mengambil keputusan untuk pergi mencari lingkungan yang baru.

Korban bullying sebetulnya mengetahui apa harus dilakukan, karena setiap orang dibekali Tuhan nurani untuk menjaga perasaan dirinya. Hanya saja, yang terjadi adalah ketidakberanian korban untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan. Ini terjadi karena perasaannya biasa diabaikan saat pengasuhan di keluarga. Dia mengalami pengulangan dalam bentuk lain, meskipun muaranya sama, yakni pengabaian perasaannya.

Maka, tantangan untuk mengeluarkan anak korban bullying bukan semata-mata pada pengetatan pengawasan di sekolah atau kampus, tetapi penyembuhan mental korban secara holistik dengan mengembalikan harga dirinya yang selama ini terabaikan. Proses ini akan lebih mudah terealisasi dengan melakukan upaya rekonsiliasi dengan keluarga yang membesarkannya, karena dari sini petaka itu bermula.

KATA KUNCI : , ,
Terbaru
Pendidikan