Pendidikan

Bullying paling beracun dan penawarnya

5.1K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:00
11 FEB 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI –Tidak ada perundungan atau bullying yang lebih beracun melebihi apa yang dilakukan oleh orang tua kepada anak. Bullying yang tengah kita bahas kali ini adalah perundungan verbal.

Sampai umur 25 tahun, Anita, misalnya, masih selalu terbebani ketika ibunya dengan mudah mengeluarkan kata-kata berbisa ketika dia melakukan sesuatu yang menurut ibunya tidak bekenan.

“Pantes hidup kamu blangsak, nyapu aja gak beres,’ kata Anita menirukan ucapan ibunya.

Anita yang masih lajang terkadang harus tercekam ketika ibunya dengan tanpa pikir melontarkan kata-kata seperti “Gak bakalan ada orang yang mau nikah sama kamu,” sebagai imbalan atas pekerjaan domestik yang dinilai ibunya tak sempurna, seperti ketika bersih-bersih rumah.

Apa yang dialami Anita hanya satu sampel dari jutaan kasus pastinya. Bullying verbal dari ayah atau ibu tidak hanya umpatan dan kutukan tetapi juga olok-olok yang dimaksudkan sebagai candaan, saat anak menampilkan kebisaan seperti menari, menyanyi, pidato dan sejenisnya.

Bahkan, kritikan orang tua saat anak tampil sebagai juara dalam sebuah perlombaan juga dapat mematikan harga diri anak. Juara adalah prestasi maksimal, sehingga anak pasti kebingungan jika sudah juara saja masih dikritik. Anehnya, situasi ini tidak jarang terjadi di masyarakat kita.

Orang tua tipe pembully tidak hanya semata-mata melakukan kekerasan, dia juga pasti kesulitan memberikan kesempatan anak untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran-pikirannya. Anak yang tumbuh bersama orang tua seperti ini pasti mengalami disfungsi kepribadian.

Apabila sampai dewasa masih terpapar bullying dari orang tua, pasti sejak kecil dia mengalaminya. Jadi, bullying orang tua adalah proses yang terus-menerus, yang membuat bullying jenis ini paling merusak.

Bullying dari orang tua adalah bisa paling mematikan karena sejumlah alasan. Pertama, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa bagian otak akan terdampak jika anak-anak mengalami kekerasan verbal. Corpus callosum(kanal penyalur untuk mentransfer sensor, motor dan informasi kognitif antara dua hemisphere pada otak), hippocampus (bagian sistem limbic yang mengatur emosi, dan cortex depan (mengontrol pikiran dan membuat keputusan) adalah bagian yang terancam rusak.

Anak-anak yang terpapar bullying dari kecil akan mengalami kesulitan melakukan respons sosial. Cirinya tidak hanya kesulitan dan selalu canggung dalam bergaul, tetapi kerap salah merespons lingkungan. Misalnya, tidak seharusnya bercanda, tiba-tiba dia melawak; orang sedang bicara apa dalam suatu forum, dia meresponsnya dengan hal lain yang tidak terkait, yang dalam bahasa sehari-hari orang bilang “tidak nyambung”; orang sedang bercanda, malah direspons secara serius, bahkan dengan kekerasan fisik; seharusnya mendengar, dia malah bicara sendiri, dan seterusnya.

Kekacauan respons sosial seperti ini pasti mempengaruhi harga diri, kepercayaan diri, motivasi anak dalam menjalani kehidupannya, serta penilaian orang terhadapnya.

Kedua, anak yang menjadi korban bullying orang tua pasti menderita toxic guilt (rasah bersalah beracun). Seorang anak tentu mengharapkan orang tua menjadi pendukung utama dan pertamanya. Apabila harapan itu pupus, anak akan mengalami kekecewaan dan rasa bersalah mendalam karena gagal memenuhi harapannya (termasuk keingingan menyenangkan orang tua).

Rasa bersalah jenis ini lebih mencekam ketika dia sampai pada tahap merasa menjadi anak durhaka, yang dikutuk agama plus budaya itu. Kondisi ini pasti berhaya untuk kesehatan jiwa dan raga anak.

Selanjutnya, bullying dari orang tua sangat berbeda dari perundungan dari teman sebaya. Jika teman sekelas atau guru yang melakukannya, orang bisa lari mencari kelas dan guru lain. Akan tetapi, jika orang tua yang merasa selalu berada di lajur kebenaran itu yang melakukannya, anak akan merasa berada di dalam penjara tembok berduri. Dia terlalu sulit keluar dari situasi ini, karena orang tua pasti dipersepsikan sebagai pelindung. Jika orang tua saja gagal menjadi pengayom anak, siapa lagi yang bisa mengambil peran tersebut?

Bagaimana cara keluar dari situasi ini?

Orang tua, di mana pun, biasanya merasa selalu benar, terutama karena didukung budaya dan ajaran kepatuhan anak minus kurangnya informasi kewajiban orang tua ke anak. Maka, mustahil terjadi ada orang tua yang mau mendengarkan nasehat anak.

Jadi, jika Anda mengalami ini, tidak perlu berharap orang tua sadar dengan memberikannya nasehat. Apabila Anda melakukannya, orang tua pasti melawan, sampai kapan pun orang tua akan menganggap anaknya adalah kanak-kanak yang tidak lebih pandai dari dirinya. Dalam bahasa sehari-hari, jika Anda adalah sarjana, maka orang tua adalah ayahnya/ibunya sarjana—selalu lebih tinggi. Keyakinan palsu ini sudah telanjur diterima oleh banyak orang tua.

Yang dapat dilakukan adalah mengungkapkan apa yang Anda rasakan. Fokus pada luka yang Anda alami ketika mendapat semprotan kata-kata penuh bisa dari orang tua tersebut. Hindari melakukan penghakiman terhadap laku tak terpuji orang tua karena hanya akan memicu konflik.

Pengungkapan ini dapat Anda lakukan hanya ketika berdua, jangan di depan umum atau bertiga sekali pun. Sebagai ganti bertemu muka, Anda bisa melakukannya lewat surat, email atau pesan pribadi lewat aplikasi chat. Akan tetapi, yang terbaik adalah bertatap muka karena Anda dapat merasakan pelukan hangat orang tua setelah mengungkapkan perasaan tersebut.

Jika belum punya ide bagaimana mengungkapkannya, beberapa kalimat ini dapat Anda jadikan sebagai model, yang tentu saja dapat Anda kurangi atau tambah dan disesuaikan dengan konteks yang Anda alami sendiri.

Mama (atau papa) yang kusayangi, aku tahu bahwa engkau ingin mendidikku menjadi anak yang baik dan berbakti, demikian pun anakmu ini. Setiap saat aku ingin melihat senyum dan kata-kata manis yang keluar dari mulutmu yang penuh berkah; kata-kata yang keluar darinya adalah doa yang akan dikabulkan Tuhan.

Namun, aku selalu ketakutan, cemas, hilang harapan dan menangis dalam diam ketika mendengar teriakan dan kata-kata yang menusuk kalbu, apalagi jika itu berasal dari orang yang melahirkan dan membesarkanku.

Aku sangat menyayangimu. Limpahkan aku dengan maaf jika bersalah. Aku ingin jiwa dan ragaku tumbuh sehat dengan kasih sayangmu, tanpa luka-luka emosional yang tidak memberikan apa pun kecuali rasa sakit yang mendalam. Anakmu, ... “  

Jika Anda kesulitan mengungkapkan perasaan lewan lisan atau tulisan, Anda harus  menerimanya sebagai angin lalu, mengikhlaskannya seperti Anda menerima gen darinya.

Apabila dua hal ini tidak bisa, Anda pasti hanya akan mengakumulasi pil beracun tersebut. Pada satu titik, dengan berbagai alasan, Anda pasti ingin segera pergi meninggalkan rumah: entah karena alasan pendidikan, kerja atau menikah. Anda mungkin merasa bebas karena tidak bertemu orang tua lagi setiap hari, tetapi sebenarnya Anda masih membawa benih luka.

Luka ini suatu waktu akan kambuh dalam rupa lain: bisa jadi Anda akan dibully orang lain, atau malah kebalikannya, yakni menjadi pembully. Anda bisa menjadi pembully pasangan, anak-anak Anda sendiri, anak buah di tempat kerja atau siapa pun yang Anda kira pantas menjadi sasaran, seperti saat Anda merasa pantas dibully orang tua dengan mendiamkannya.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
10 April 2017 | 13:45
DPR harap UN berjalan lancar
Pendidikan