Pendidikan

Untuk apa banyak teman jika semuanya pengemis?

6.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:10
04 MAR 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI- Dalam banyak kesempatan ketika orang diminta mendefinisikan teman, umumnya mereka mengatakan, “teman adalah mereka yang ada saat kita susah; sahabat adalah mereka yang membantu saat kita dalam duka; kawan sejati adalah mereka yang mengulurkan tangannya saat kita terpuruk,” dan deretan kalimat lain yang semakna.

Dari sejumlah definisi di atas, tampak jelas bahwa yang orang butuhkan dari teman adalah bantuan untuk membuat hidupnya lengkap, bahagia dan sentosa. Sulit mencari orang yang mendefinisikan teman sebagai, misalnya, “mereka yang mau menerima pemberian kita.” Artinya, di sini ada sikap proaktif sebagai pemberi, bukan sekadar peminta atau pengharap imbalan jasa.

Jika dipikir secara mendalam, lalu untuk apa dilingkari oleh orang-orang sangat pragmatis dan oportunis seperti itu? Jika situasinya dibalik, apakah mereka mau melakukan apa yang mereka harap dari seorang teman? Dari ragam bahasa ken—biasa dipakai para pengemis—yang mereka pakai untuk mendefinisikan teman, sepertinya bakal sulit bagi mereka melakukan hal yang mereka difinisikan sendiri.

“Sekarang banyak orang yang mengaku saudara,” kata komedian Tukul membandingkan kondisi orang-orang di sekitarnya saat dia sukses kini dan dulu ketika masih melarat. Apa yang dikatakan Tukul berkelindan dengan pepatah lama “Ada gula ada semut; ada bunga ada lebah.” Banyak teman hanya ingin memanfaatkan eksistensi kita.

Jika teman-teman di sekitar Anda model pengemis seperti itu, Anda pasti bakal kerepotan membuat mereka bahagia. Akibatnya, Anda bisa lupa membahagiakan diri sendiri; apabila situasi ini terjadi, yang rugi adalah jiwa dan raga Anda sendiri.

Pada satu titik, ketika terpuruk, Anda akan menyesal dengan mengatakan, “Dulu semua orang saya buat senang, sekarang mereka semua menjauh.” Dalam situasi ini, Anda telah meniru kesalahan mereka: dengan menjadi pengemis, persis seperti mereka dulu mengemis ke Anda. Apabila mengalami ini, Anda justru berada pada kesalahan ganda: terlalu baik ke orang (saat itu) dan menjadi pengemis seperti mereka (kini).  

Jadi, sebenarnya, sejauh mana orang membutuhkan teman?

Jika teman dekat, Anda sejatinya tidak butuh terlalu banyak: satu atau dua pun cukup. Jika memiliki pasangan, barangkali Anda malah tidak akan membutuhkannya lagi. Sekali lagi, yang kita bicarakan adalah benar-benar teman, bukan berarti kita tak perlu mengenal dan ramah ke banyak orang.

Teman yang baik tidak hanya menerima apa yang manis dari kita, tetapi juga yang pahit. Anda belum bisa menyebut seseorang sebagai teman sampai dia bertahan selama minimal 7 tahun untuk dekat dengan Anda, apa pun situasinya.

Teman dekat yang menumpang kosan dan makan saat kuliah, bisa sama sekali tak menyapa saat Anda kirim pertemanan di Facebook, begitu dia bisa hidup dengan jabatannya. Maklum, dia mendefinisikan teman sebagai mereka yang hadir saat dibutuhkan. Bukankah sekarang dia tak butuh Anda lagi?

Orang yang sering Anda elu-elukan, hingga membuat Anda terjebak pada ketergantungan (friend-centered), bisa jadi mendadak menjadi musuh hanya gara-gara mencintai orang yang sama, tapi doi memilih Anda. Mengapa ini terjadi? Karena dia spesies pengemis, dia hanya membutuhkan Anda untuk membuatnya bahagia. Dalam kasus ini, dia ingin Anda memberikan apa yang dia butuhkan. Bukankah dia menyebut teman sebagai orang yang ada saat kita susah!?—susah cari jodoh.

Teman di sekolah asrama yang dulu saat sakit harus Anda yang mengurus hingga untuk keperluan toilet sekalipun, tiba-tiba tidak ada kabar saat lulus. Berteman di medsos dan saling mempunyai nomor ponsel pun, dia tak pernah tanya sekadar kabar. Memang demikian, karena definisi teman baginya adalah mereka yang membantu saat sulit. Sekarang, kan, dia tidak sulit lagi; apa perlunya dia kepada Anda?

Teman juga setiap saat bisa lari dengan mudah karena urusan fulus: entah utang-piutang, bisnis, ketidakprofesionalan saat dapat amanat, atau kesalapahaman soal rupiah. Atau, teman juga bisa lenyap karena jarak. Jadi, sulit disebut teman jika belum pernah teruji oleh keadaan.

Masih berpikir saat ini Anda benar-benar mempunyai teman?

Nyaris mustahil mencari teman  sejati, selain pasangan (suami/istri). Perhatikan bagaimana dia menerima kita: baik dalam keadaan “apa aja ada” atau “apa adanya.” Maka, pantas ketika Anda sudah memiliki pasangan, sebenarnya Anda nyaris tidak membutuhkan siapa pun.

Apabila masih tersisa sahabat sejati (terutama saat sudah menikah), dia pasti datang dengan sendirinya: bersilaturahim, mengirim kabar, dan mengundang Anda untuk bercanda seperti dulu.

Tulisan ini tentu tak bermaksud mengajak Anda untuk mencampakkan atau mencurigai orang yang Anda klaim sebagai teman saat ini. Akan tetapi, mari kita lihat segala sesuatu secara proporsional. Jangan sampai termakan mitos tentang pertemanan dengan terlalu sibuk menyenangkan “teman” hingga lupa dengan kebahagiaan diri sendiri. Pun, Anda tidak usah terlalu bangga jika merasa memiliki banyak teman saat ini, apalagi teman di Facebok.

Sponsored
The Money Fight

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
Pendidikan
Sponsored