Pendidikan

Sistem dan mitos-mitos pertemanan

4.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:00
07 MAR 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Pertemanan sangat vital bagi kehidupan kita, tidak hanya secara emosional tetapi juga secara fisik. Oleh karena itu, setiap orang harus memahami sistem pertemanan supaya tidak terjebak kepada mitos-mitos seputar pertemanan yang akan membuat kehidupan menjadi kacau.

Pola pertemanan di setiap zaman berbeda: dulu, sekarang atau nanti. Saat ini, tak jarang orang membuat sistem pertemanan menjadi terlalu struktural dengan mempertimbangan untung-rugi secara material.

Sebagian orang yang tidak memahami sistem pertemanan rawan terjebak pada apa yang mereka sebut sebagai pertemanan tersebut.

Untuk sampai kepada apa yang disebut sebagai teman, ada pembabakan yang harus dilewati. Pertama adalah sekadar kenal, dalam arti mengetahui siapa nama, apa pekerjaannya, dia orang mana dan informasi lain yang biasa didapatkan secara umum. Pada tahap ini, belum akan ada apa yang disebut sebagai “racun” atau "berkah" karena satu sama lain masih berjarak dan belum saling mempengaruhi.

Tahap selanjutnya, pertemuan akan semakin intens. Orang lebih sering melakukan kegiatan bersama, akan tetapi kegiatan masih dianggap lebih penting dari orangnya. Dalam tahap ini, kehadiran atau absensi dia tidak akan mempengaruhi sebuah aktivitas. Jadi, statusnya masih sekadar kenalan atau pertemanan semu.

Pada tahap selanjutnya, seseorang yang kita kenal akan berubah menjadi teman ketika dia menjadi lebih penting ketimbang kegiatan yang dilakukan. Misalnya, tidak ada dia, tidak asyik; atau, tidak ada dia, permainan dibatalkan. Pada tahap inilah seseorang baru menjadi teman.

Orang yang merasa berteman akan selalu ingin saling dekat: berangkat bersama ke sekolah, mengerjakan PR bersama, olahraga bersama, nonton film bersama, makan malam bersama, dan sederet aktivitas lain yang mensyaratkan kehadirannya.

Keinginan untuk berteman adalah sesuatu yang normal. Akan tetapi, yang sering tidak disadari adalah bahwa pertemanan tidak selalu liniar dengan kebaikan. Bahkan, pertemenan setiap saat dapat menjerumuskan.

Untuk mengenali pola pertemanan yang telah tercemar, ada sejumlah ciri yang diuraikan psikolog AS John Bradshaw (1933-2016). Pertama adalah bergantung atau co-dependent. Pada titik ini orang terjebak pada friend-centered, dalam bahasa sehari-hari “kalau tidak bersama dia/mereka, tidak mau.”

Orang yang sudah mengalami kebergantungan dengan teman, untuk duduk di kelas saja, umpamanya, harus berdekatan, harus satu kelompok jika ada PR, hingga rela tidak hadir ke sebuah kuliah/seminar karena temannya tidak bisa ikut.

Orang seperti itu akan rela menumbalkan perasaan dan keyakinan demi menyenangkan teman. Celakanya, dia termakan mitos pertemanan dengan mengatakan bahwa seperti itulah seharusnya teman, berkorban. Padahal, pengorbanan hanya sesuatu yang netral: bisa saja berkorban untuk objek yang salah, seperti orang yang mengorbankan manusia untuk ditenggelamkan ke sungai di zaman lampau, dan pengorbanan lain yang bisa Anda cari contohnya sendiri.

Kedua, tempat mencari status.  Pertemanan sering hanya dimanfaatkan untuk mempertahankan atau mengangkat citra pribadi: jalan-jalan hanya dengan teman tertentu, menyebut-nyebut teman yang pandai, kaya dan rupawan, atau rela menjilat hanya supaya dapat disebut sebagai teman oleh orang yang statusnya di atas.

Orang jenis ini apabila sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, akan segera mencari teman lain yang dianggap akan lebih bisa memperbaiki citranya. Demikian seterusnya dia berpindah dari satu pertemanan ke pertemanan lain.

Ketiga, elitis dalam pertemanan. Orang-orang tipe ini berteman hanya karena ingin membentuk kelas sendiri, termasuk membentuk sekte dalam agama dengan perasaan paling benar sendiri.

Orang tipe ini hanya akan menerima teman dari status sosial tertentu, dan kecanduan dengan sesuatu yang bernama eksklusivitas: tempat duduk ingin khusus, tidak sembarang orang boleh bergabung jika ada pertemuan dan pola sejenis lainnya.

Jebakan pertemanan selanjutnya adalah geng. Orang-orang ini akan mengelola pertemanan dengan membentuk keluarga jadi-jadian yang di dalamnya hanya orang dengan kualitas tertentu yang bisa ikut bergabung. Biasanya orang yang terlibat di dalamnya adalah mereka yang tidak merasakan kehadiran keluarga.

Geng di sini tidak hanya terjadi di jalanan, tetapi juga di sekolah, kampus dan lingkungan mana pun. Di institusi pendidikan, pola pertemanan dengan geng ini sayangnya tidak dieliminasi secara serius. Padahal, daya rusaknya terhadap moral, norma dan hukum sangat nyata.

Pada tingkat selanjutnya, pola pertemanan yang cacat akan menghasilkan school of vice (sekolah kejahatan). Contoh dari pertemanan model ini adalah sindikat, mafia, triad, yakuza dan sejenisnya. Pertemanan berdasarkan pada moral-moral korup ini dapat terjadi pada siapa saja, termasuk politisi, penegak hukum, pebisnis, hingga anak sekolah.

Dalam konteks sosial, orang-orang yang melakukan aktivitas swinger atau gangbang termasuk mereka yang termakan mitos tentang pertemanan. Seks yang normal harus dilakukan dengan pasangan yang dicintai dan sah atas nama agama/hukum, dan di ranah privat.

Terakhir, perkumpulan orang atas nama pertemanan dapat membentuk kelompok yang hanya diarahkan menebar benih-benih phobia terhadap kelompok lain. Polanya mirip dengan pertemanan yang elitis, akan tetapi ini sifatnya lebih umum: phobia kepada ajaran orang lain, ras tertentu, dan kepada objek-objek lain yang dianggap mengancam eksistensinya.

Apabila dalam berteman terjebak pada pola-pola di atas, orang tersebut jelas sudah termakan mitos tentang pertemanan. Pertemanan harus didasarkan pada cinta antar sesama dengan tujuan untuk menciptakan komunitas besar bernama manusia.

Terbaru
18 Maret 2017 | 20:40
Nasir: insinyur kok jadi wartawan
18 Maret 2017 | 06:45
Iklim pengaruhi bentuk hidung
15 Maret 2017 | 05:07
Kesulitan bersikap santun
11 Maret 2017 | 06:50
Kekejaman orang tua ke anak
24 Februari 2017 | 05:00
Mengapa sampai salah memilih pasangan?
23 Februari 2017 | 05:00
Memaksa guru menulis