Pendidikan

Luka-luka sistemik selama masa sekolah

4.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:45
08 MAR 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Masa sekolah (dari SD hingga SMA) digadang-gadang sebagai fase yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Pada masa ini, manusia dianggap tak perlu melakukan hal lain selain belajar.

Apabila situasi sekolah berjalan normal, anak-anak akan tumbuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan bakal belajar tentang banyak hal. Sebaliknya, jika lingkungan sekolah mengalami disfungsi, anak-anak akan mengalami trauma yang akan melekat dan menjadi kepribadian yang mengkristal.

Jika ditelusur, ada sederet luka emosional terpola yang menyasar anak-anak di masa sekolah. Luka-luka itu bisa berasal dari sistem pendidikan yang dikembangkan di sekolah atau dari interaksi dengan teman-teman sebaya.

Jika mengacu kepada pendapat Psikolog AS John Bradshaw (1933-2016) dalam bukunya Homecoming: Reclaiming and Championing Your Inner Child, ada sedikitnya empat pola luka pada anak-anak di usia sekolah, yaitu: ketidaknyamanan dengan lingkungan sekolah, terlalu kompetitif, mengalah atau semau sendiri, dan ketakutan terhadap kesalahan.

Anak yang menjalani kehidupan sekolah dengan terpaksa karena sebetulnya tidak menyukainya akan mengalami loka emosional yang bisa berujung kepada psikosomatis, yang tadinya periang jadi pendiam, atau benci dengan belajar.

Ada sebuah ungkapan populer dari Albert Einstein (1879-1955) yang berbunyi “The only thing that interferes with my learning is my education.” Kalimat ini muncul tampak dari kekecewaan si jenius itu dari sekolah formal. Sebagai penderita disleksia, kita mudah menduga bahwa dia pasti menjadi korban bullying saat masih sekolah karena terlambat membaca dan menulis. Maka wajar jika sekolah justru menghambatnya untuk belajar.

Situasi paling tak nyaman bagi anak-anak, dan manusia secara umum, adalah tertekan diri akibat tidak mampu mengekspresikan perasaan, imajinasi dan gagasan. Sangat lazim pada sekolah kita, terutama, anak-anak dengan mudah menyoraki teman mereka saat mencoba mengutarakan ide, baik dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan dalam menanggapi sebuah persoalan. Bahkan, guru pun tak jarang terlibat mentertawakan anak-anak yang dianggap aneh, atau sengaja dianeh-anehkan biar tampak lucu.

Pada situasi ini, anak akan sulit berkelit karena bukan hal mudah melaporkan ke orang tua bahwa dirinya tidak betah di sekolah dan ingin pindah. Tidak ada jaminan pula bahwa di tempatnya yang baru dia akan merasa lebih nyaman.

Kedua, banyak sekolah terlalu mengejar apa yang mereka definisikan sebagai prestasi dengan mengikuti atau menggelar perlombaan-perlombaan. Sistem ranking juga tidak bisa dibilang nyaman, sebab tekanan tidak hanya datang dari guru tetapi lebih besar lagi dari orang tua. Jika ranking terbawah dan tak rupawan, siap-siap saja semua anak enggan berteman.

Karena pemenang lomba dan juara kelas sangat dielu-elukan semua orang dan dijadikan standar kepintaran plus kesuksesan, siswa secara terprogram menjadi terlalu kompetitif atau petarung. Seorang kombatan hanya mempunyai dua pilihan: menang atau kalah. Padahal, dalam kehidupan nyata dua orang bisa sama-sama menang, dalam bentuk kolaborasi.

Orang yang dididik dengan kompetisi jiwanya akan agresif. Yang ada dibenaknya hanya keinginan untuk menang dan mengalahkan orang lain, tak ubahnya binatang—lihat perilaku ayam jantan.

Orang seperti itu senang melihat orang lain menjadi pecundang, jiwanya dikendalikan keserakahan selalu ingin menang. Karena dikondisikan untuk mengalahkan orang lain, anak-anak ini akan tumbuh dengan jiwa sangat oportunis; jika memegang kuasa, dia akan menjadi diktator dan kejam.

Lihatlah sendiri bagaimana anak-anak yang dilibatkan dalam berbagai perlombaan (termasuk perlombaan keagamaan) harus rela diajarkan untuk curang supaya menang. Moral anak-anak ini dikondisikan rusak demi piala-piala untuk pencitraan sekolah.

Selanjutnya, karena terlalu banyak teman dan kepentingan, perasaan anak sering dikorbankan dengan mengalah. Atau, sebaliknya, semau sendiri karena terlalu kuatir tidak kebagian.

Mari kita bedakan antara mengalah dengan ikhlas. Mengalah berarti ‘sengaja kalah.’ Tidak ada cerita orang kalah itu ikhlas, dia menyimpan hasrat bahkan dendam ingin menang suatu saat nanti. Seharusnya, nilai yang dikembangkan adalah ketulusan murni tanpa syarat.

Mengalah akan melukai perasaan, sedangkan semau sendiri akan menyayat emosi orang lain; jadi sama-sama cacat. Nyatanya, dalam banyak situasi di sekolah kerap ada kekuasaan yang memaksa anak-anak untuk mengalah, atau membiarkan anak lain semau sendiri.

Anak yang dipaksa selalu mengalah akan tumbuh menjadi orang yang pesimis, mudah tersinggung, pendendam, tak percaya diri dan gelap dalam melihat masa depan, sedangkan mereka yang seenaknya sendiri akan tumbuh menjadi pribadi yang tak tahu aturan, sombong dan serakah.

Luka lain yang kerap disemai selama masa sekolah adalah ketakutan terhadap kesalahan. Guru dan semua orang di sekolah sangat anti dengan kesalahan. Salah sedikit di kelas bisa dihukum dengan tertawaan, amarah hingga stempel bodoh. Belum lagi, jika harus bertemu dengan guru-guru garang yang tak segan menggunakan kekerasan.

Di sini ada kontradiksi dalam pendidikan. Satu sisi murid diajarkan bahwa manusia tempatnya salah, tapi di sisi lain anak tidak boleh salah.

Ujian, misalnya, selalu membuat anak-anak tegang, hingga hal-hal tak masuk akal pun harus dilakukan. Hal ini ditangkap Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi, yang ketika akan ujian, anak-anak harus ke dukun minta jampi-jampi supaya lulus. Apa hubungannya dukun dan kelulusan ujian? Dukunnya sendiri tidak sekolah, bagaimana dia hendak meluluskan orang lain? 

Kesalahan bukan pada ujiannya, tetapi pada metode pemberian ujian, cara merespons kesalahan siswa dalam menjawab soal-soal dan ketika melakukan kesalahan selama proses belajar. Di banyak ruang kelas, ujian selalu membuat stress karena di situ anak tidak diberikan toleransi untuk salah.

Kelas yang tidak mentolelir kesalahan hanya akan menghasilkan anak-anak yang tumpul kreativitas. Kreativitas tidak pernah lahir sekali jadi, harus melalui coba dan salah.

Thomas A. Edison (1847-1931) mengatakan, “Saya tidak gagal; saya baru menemukan 10.000 cara yang belum berhasil.” Keberanian untuk coba-salah sulit lahir dari sekolah karena sejak masuk, anak-anak mendapat instruksi untuk tidak sekali pun melakukan kesalahan.

Terbaru
18 Maret 2017 | 20:40
Nasir: insinyur kok jadi wartawan
18 Maret 2017 | 06:45
Iklim pengaruhi bentuk hidung
15 Maret 2017 | 05:07
Kesulitan bersikap santun
11 Maret 2017 | 06:50
Kekejaman orang tua ke anak
Pendidikan