Pendidikan

3 karakteristik anak dari pasangan tak harmonis

4.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:45
09 MAR 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Rimanews – Karena keluarga adalah sebuah sistem sosial, ketika institusi ini tidak berfungsi sebagaimana mustinya, dampak ke anggota akan sistemik pula.

Pasangan yang kehilangan keintiman, pernikahannya tidak akan ada harmoni meskipun tampak masih utuh dan baik-baik saja dari luar. Namun, yang pasti, anak yang lahir dalam keluarga ini pasti penuh luka secara emosional.

Sepasang suami-istri cukup dikatakan tidak memiliki keintiman ketika tidak ada ruang untuk mengekspresikan perasaan: senang, sedih, gelisah, cemas, bangga dan marah. Jika luapan-luapan emosi hanya sah untuk satu pihak, keluarga pasti terasa hampa. Selebihnya akan ada kekerasan, pengabaian dan ketiadaan tanggung jawab.

Anak-anak yang lahir dari pasangan ini perasaannya pasti tertekan. Dalam keluarga ada pola, jika ada satu anggota tertekan, dia akan menekan yang lain. Misalnya, istri yang tidak bahagia karena diabaikan suami, akan meluapkan perasaannya ke anak: mulai dari marah hingga kekerasan fisik.

Psikolog AS John Bradshaw (1933-2016) dalam bukunya Homecoming: Reclaiming and Championing Your Inner Child, menyebut ada tiga pola yang sama dari anak-anak yang lahir dari keluarga disfungsi ini, yakni: lost child, hero, dan scapegoat.

Luka emosional tak mudah hilang karena sruktur perkembangan otak emosi mendahului otak rasional. Mari perhatikan kondisi bayi: ketika tersakiti secara fisik, dia akan meresponsnya dengan tangis. Hal ini karena bagian otak yang aktif adalah otak visceral (terkait respons ragawi). Pada tahap selanjutnya, bayi bisa merasakan: senang tertawa atau sedih, dengan bagian otak emosionalnya. Baru kemudian setelah agak besar, dia bisa berpikir.

Oleh karena kanak-kanak dipengaruhi fungsi otak emosi yang lebih aktif, luka sekecil apa pun akan diingatnya sampai besar dan akan mempengaruhi kepribadian dan cara pandangnya tentang kehidupan.

Anak yang mengalami luka-luka di masa kecil akan meresponsnya dengan lari dari keluarga; dia menjadi anak yang hilang ‘lost child’. Hilang di sini bukan berarti sama sekali tak pulang ke rumah, tetapi bisa juga tidak betah di rumah. Dia lebih menyukai berkumpul dengan geng, berlama-lama di warnet, atau tak pulang-pulang dari sekolah. Sementara itu, anak yang sekolah asrama di luar kota (termasuk kuliah) akan memilih tak pulang walaupun sedang liburan.

Banyak orang tak menyadari jika keengganannya untuk pulang saat liburan sejatinya adalah pemberontakan alam bawah sadarnya dari keluarga. Anak yang normal pasti rindu rumah atau keluarga ketika tidak ada sesuatu yang mengharuskan dia meninggalkannya.

Pola kedua, dalam keluarga disfungsi dengan beberapa anak, selalu ada salah satu atau dua yang menjadi pahlawan ‘hero’. Pahlawan di sini bersifat umum: bintang kelas, sangat saleh dalam beragama, pekerja keras (workaholic), atau juara dalam lomba-lomba (olahraga, seni, dll).

Anak tipe kedua ini terlalu bekerja keras karena ingin menggantikan fungsi salah satu orang tua yang hilang (atau bahkan keduanya). Anak-anak ini akan melupakan kebahagiaannya demi menyelamatkan muka keluarga. Atau, dia mengalihkan kekecewaan pada keluarganya dengan aktivitas-aktivitas yang menurutnya akan melupakan tragedi di rumahnya.

Bagi banyak orang, anak-anak ini dianggap hebat dan disanjung-sanjung. Bahkan, dijadikan teladan bahwa disfungsi keluarga tak mempengaruhinya. Ini adalah cara pandang yang cacat tentu saja. Hukum kesuksesan adalah siapa bekerja dia dapat, tidak ada kaitannya dengan luka-luka emosional.

Sukses dan luka emosi adalah dua hal yang tidak bisa dicampur aduk. Jika tidak percaya, minta dia mengungkapkan perasaannya tentang kekecewaan kepada ayah-ibunya, dia pasti meraung-raung menangis karena marah dan sedih. Padahal, dari luar dia tampak hebat dengan kesuksesan di bidang yang ditekuni.

Pun, Anda tidak perlu heran jika dari keluarga yang berantakan lahir satu atau dua anak yang sangat taat dalam beragama dengan kecenderungan memilih ajaran yang radikal/kaku, karena menganggap agama hanya sebagai pelarian dari emosinya yang terluka. Ini hanyalah pola belaka.

Pola selanjutnya adalah ada anak yang akan menjadi scapegoat atau kambing hitam, yakni anak yang dibebankan dengan masalah yang seharusnya dia tidak memikulnya. Istri kesal dengan suami, tapi marah-marahnya ke anak; mantu yang tidak akur dengan keluarga suami, lalu mengajari anak-anaknya membenci mereka; suami yang kesal dengan istri, lalu mengajari anak membenci ibunya, dst.

Pasangan yang pernikahannya kering juga cenderung menjadikan anak sebagai pengikat, ditumbalkan untuk memperbaiki hubungan mereka. Padahal, pernikahan adalah tanggung jawab mereka sendiri.

Anak-anak yang menjadi kambing hitam ini akan rentan mengalami kecanduan (alkohol, narkoba, makan, seks, dan apa pun yang dipikir dapat meringankan lukanya), pencemburu, mudah tersinggung dan gangguan respons sosial karena luapan perasaannya selalu tertutup. Jika sudah mandiri, dia akan merasa tak mempunyai ikatan dengan keluarga.

Trauma pengabaian dari keluarga yang tidak ada keintiman di dalamnya akan terus di bawah anak seumur hidup, kecuali dia melakukan penyembuhan psikologis secara total.

Terbaru
18 Maret 2017 | 20:40
Nasir: insinyur kok jadi wartawan
18 Maret 2017 | 06:45
Iklim pengaruhi bentuk hidung
15 Maret 2017 | 05:07
Kesulitan bersikap santun
11 Maret 2017 | 06:50
Kekejaman orang tua ke anak
24 Februari 2017 | 05:00
Mengapa sampai salah memilih pasangan?
23 Februari 2017 | 05:00
Memaksa guru menulis
Pendidikan