Pendidikan

Kekejaman orang tua ke anak

5.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:50
11 MAR 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Orang terlalu percaya bahwa orang tua tak akan melakukan kekejaman kepada anak. Untuk mendukung ini, mereka sering menggunakan metafora “Tak ada cerita harimau memangsa anaknya.”

Padahal, di alam liar, binatang buas, seperti harimau,singa, elang dll akan memangsa anaknya jika dirundung kelaparan, atau tertekan seperti yang terjadi di kebun binatang.

Terkadang, untuk menjelaskan problematika keluarga dan pendidikan anak, kita harus melakukan demitologisasi orang tua. Hal ini bukan untuk mencari-cari kesalahan orang tua, tetapi lebih kepada melihat pola yang sebenarnya terjadi dalam sebuah keluarga. 

Kita semua sepakat bahwa orang tua adalah manusia yang paling berjasa dalam kehidupan kita. Akan tetapi, hal ini—dari sisi orang tua—jangan sampai membuat kita kecanduan dengan kebenaran; dalam arti, selalu merasa benar ketika berhadapan dengan anak. Kecanduan jenis ini sangat rawan membelenggu kita para orang tua. Padahal, manusia hanya tempat salah dan lupa, termasuk orang tua (apalagi jika berusia tua pula, semakin tua orang semakin kolot).

Kekejaman yang akan kita bahas kali bukan semata-mata kekejaman badaniah (memukul dll) dan kata-kata (mengumpat, mengutuk dll), akan tetapi lebih dari itu, seperti ketidakberterimaan, pengabaian, dan pemanfaatan anak untuk kepentingan orang tua sendiri.

Corak kekejaman orang tua dapat terjadi bahkan sebelum anak lahir ke dunia fana ini. Seorang ibu yang hamil di luar kehendaknya (di luar nikah dll), sangat berpeluang tidak menerima anugerah yang dikandungnya.

Kekejaman prakelahiran yang lain adalah keinginan memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu, kulit tertentu, kemiripan tertentu dengan ayah dan ibu, atau bakat-bakat tertentu. Ibu/ayah yang terpaku pada kehendaknya yang cacat tentang janinnya berpeluang menyambut kelahiran anak dengan masam ketika apa yang diharapkannya tak kesampaian.

Bagaimana perasaan Anda ketika diundang mendatangi suatu tempat tapi disambut dengan muka-muka sinis? Ini adalah kekejaman yang nyata. Anak yang baru lahir belum bisa berpikir laiknya anak sekolah, tetapi otak emosionalnya sudah berperan. Perlakuan tak mengenakkan ini akan direkamnya, sepanjang masa.

Ketika lahir, anak membutuhkan kebutuhan-kebutuhan khusus. Bagaiamana wajah orang tua ketika menyambut kelahiran akan ditiru oleh anak. Di sini ada apa yang disebut psikolog AS John Bradshaw (1933-2016) sebagai “mirroring", kaedah peniruan.

Perasaan selalu lebih mudah melekat daripada pemikiran. Untuk membuktikannya, ingat baik-baik berapa persen Anda mengingat pelajaran dari guru di sekolah; atau, apakah Anda pernah lupa pernah dihina oleh guru/teman, atau berapa kali Anda patah hati. Luka perasaan selalu mencekam dan permanen.

Contoh kasus adalah apa yang terjadi pada Duke (24). Ibunya ketika mengandung menginginkan seorang anak perempuan yang akan lahir dari rahimnya, setelah anak pertamanya lelaki. Namun, harapan mama Duke tidak terpenuhi karena begitu lahir, di anaknya lengkap dengan organ seksual pria.

Singkat cerita, sampai hari ini Duke harus berdebar-debar ketika bersanding dengan rekan-rekan prianya sejak baligh. Kepada penulis, di kepala Duke hanya ada pria ketika hormon seksualnya meraung-raung ingin dipuaskan. Bertubuh pria, tapi bahasa tubuh lajang alumni salah satu perguruan tinggi berbasis agama ini pun gemulai bak perempuan.

Kekejaman orang tua ketika anak lahir pun bisa terus berlanjut di fase berikutnya. Sekali lagi, bukan melulu soal ketidakmampuan orang tua memenuhi kebutuhan dasar anak, ternyata tak sedikit orang tua yang menolak mengakui bahwa dirinya telah melakukan kekejaman. Padahal, apa yang dilakukannya adalah bentuk pelanggaran terhadap hak-hak anak untuk merasa tidak enak, menolak, dan memilih sesuai keinginan.

Anak-anak (dari janin-dewasa) secara alamiah bergantung ke orang tua. Mereka berharap semua kebutuhannya (secara psikologis, material, sosial dll) dapat dipenuhi orang yang melahirkannya. Akan tetapi, kebergantungan anak sering harus berhadapan dengan keinginan orang tua; dan di sinilah kekejaman itu bermula.

Kita ambil contoh pada batita. Ini adalah fase ketika anak-anak haus dengan perhatian, yang kita sebut kenarsisan. Diabaikan sedikit saja, dia akan menjerit. Anak pada fase ini belum mengenal penolakan, apa pun yang diinginkan harus dipenuhi. Sebaliknya, apa pun yang tidak dia inginkan sejatinya dia sangat benci.

Anak batita tak diragukan lagi kelucuannya, sehingga memicu orang tua untuk memanfaatkannya sebagai pemuas kenarsisannya. Diikutkan kontes ini dan itu; difoto dengan gaya-gaya sesuai aturan orang tua; dipakaikan baju yang menurut orang tuanya lucu (padahal tak nyaman bagi bayi); atau, di rumah sering ditelantarkan dengan diserahkan ke pembantu tetapi begitu arisan digendong-cium seolah-olah biasa mengasihinya sedemikian rupa.

Sebetulnya pemanfaatan anak untuk kepentingan orang tak sebatas batita, tetapi bisa berlanjut ke usia balita, masa sekolah dan sampai kapan pun. Segala bentuk pemanfaatan anak untuk keperluan orang tua adalah ragam kekejaman.

Saya akan kutipkan surat salah satu anak usia 7 tahun di sebuah kelas belajar saat diminta mengungkapkan apa yang akan dilakukan untuk orang tua dalam sebuah surat yang ditujukan untuk mereka.

“Saya ingin menjadi anak perempuan yang baik supaya kalian bisa bangga-banggakan ke teman-teman kalian. Saya tahu, kalian sering melakukannya.”

Tampak ada luka pada anak tersebut kepada orang tuanya. Dia merasa telah dimanfaatkan oleh orang tua, untuk  memenuhi ego mereka: bahwa mereka telah mendidik anak dengan baik, berprestasi dan seterusnya.

Anak pasti benci dengan pujian yang tak tulus. Ketika di rumah dia tak pernah dipuji dan dihargai. Begitu orang tua berkumpul dengan teman-teman mereka, mendadak anak dipuji dengan ini dan itu. Meskipun masih kecil, anak adalah pelajar dan analis yang ulung, sampai lingkungan dan pendidikan yang buruk merampasnya.

Kekejaman tidak pernah lahir secara kebetulan, tetapi selalu didahului oleh konteks dan kepentingan sepihak. Kekejaman adalah pelanggaran terhadap harga diri: tidak hanya harga diri korban tetapi juga harga diri kita sendiri sebagai orang tua.

Kekejaman adalah pilihan yang bisa ditolak atau diterima. Sekarang, bagaimana kita mengawal jiwa makhluk kecil yang dititipkan kepada kita tersebut? Apakah akan kita manfaatkan sesuai kepentingan kita, atau kita membantu dia tumbuh menjadi dirinya sendiri, yang khas, murni, dan manusiawi.

Terbaru
18 Maret 2017 | 20:40
Nasir: insinyur kok jadi wartawan
18 Maret 2017 | 06:45
Iklim pengaruhi bentuk hidung
15 Maret 2017 | 05:07
Kesulitan bersikap santun
11 Maret 2017 | 06:50
Kekejaman orang tua ke anak
Pendidikan