Pendidikan

Kesulitan bersikap santun

3.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:07
15 MAR 2017
ilustrasi
Editor
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI - Berhadapan dengan orang yang bermulut tajam memerlukan kesabaran ekstra. Orang berlidah lincah seperti ini bisa siapa saja, rakyat jelata, guru, politisi atau atasan. Terutama bagi orang yang berkuasa (dalam arti umum), prinsip kesantunan dengan memperhatikan perasaan orang lain yang berada di bawahnya sangat sering dilanggar. Hal ini karena jika yang melakukan adalah bawahan, sanksinya akan langsung dikenakan: dikucilkan, dicaci balik oleh orang-orang, atau bahkan dipenjarakan.

Linguis kenamaan Penelope Brown and Stephen Levinson (1987) menyebut jika prinsip kesantunan digunakan untuk menghindari tindakan mengancam muka—istilah muka diambil dari budaya Cina pada abad ke-19 dan dikenalkan di dunia akademik oleh Erving Goffman (1922–1982), seorang sosiolog Kanada-AS.

Dalam kehidupan sehari-hari, kesantunan adalah keahlian yang menjadi motor untuk meyakinkan semua pihak supaya merasa aman dalam interaksi sosial. Namun, ada sebagaian orang yang kurang memiliki keahlian ini.

Maka, jangan heran jika siapa pun yang berhadapan dengan orang semacam itu, dia bakal terancam mukanya, khususnya mereka yang secara sosial berjarak dengan dia. Sebab, kesantunan sangat terkait dengan hubungan jauh-dekat, juga status (sosial, pendidikan, ekonomi, agama), yang di dalamnya pihak dengan status rendah atau hubungannya renggang disyaratkan menggunakan kaedah-kaedah kesantunan secara lebih.

Kesantunan adalah nilai universal; yang membedakan hanya detil dan bentuk kesantunannya. Sementara itu, ketidaksantunan adalah bagian dari kelancangan ‘effrontery’, yang tidak selajur dengan nilai sosial atau berkonfrontasi dengan norma.

Orang yang menanggalkan prinsip kesantunan pasti mengidap cacat sosial. Mereka ini adalah mereka yang gemar bermulut kotor (melanggar tabu dengan kata-kata jorok), gemar menyerang secara terbuka (konfrontatif dengan orang yang dianggapnya lawan), dan tak sensitif dengan perasaan orang lain (maki-maki di depan umum).

Menganalisis perilaku ini, ada beragam alasan mengapa orang menanggalkan prinsip kesantunan dan memilih lancang dalam bersikap. Pertama, dia digerakkan oleh keinginan untuk sintas ‘survival mode’, respons umum ketika seseorang terdesak, ingin menunjukkan kuasa atau menegaskan status.

Kedua, kurangnya ruang pribadi juga dapat menyebabkan orang berperilaku kasar. Hal ini misalnya dialami oleh orang-orang yang tinggal di lingkungan yang terlalu padat, yang biasanya secara lisan dan perilaku cenderung lebih kasar ketimbang mereka yang dari lingkungan lebih lega.

Setiap orang bisa mengalami ini dalam bentuk lain, misalnya dia dihinggapi beragam kepentingan ini-itu yang membuat dada dan kepalanya sesak; dia kesulitan membahagiakan dirinya sendiri, sebagai panggilan dari nuraninya. Akhirnya, kesesakan itu dia lampiaskan dengan melanggar pemarkah kesantunan.

Dari kacamata psikologi, mengacu pendapat John Bradshaw (1933-2016), salah satu ciri orang yang lahir dari keluarga disfungsi adalah ketidakmampuan mengendalikan emosi; dia belum sembuh dari luka-luka akibat pola asuh. Maka, dia akan ekspresikan dalam bentuk perlawanan terhadap aturan-aturan yang sudah berterima. Maka jangan heran, orang dari keluarga berantakan (tidak harus bercerai) cenderung kacau menerapkan kesantunan.

Setiap orang harus bijak dalam bertutur dan berperilaku. Setiap kita tidak hanya bertanggung jawab terhadap masalah kita sendiri, tetapi bagaimana memberikan contoh kepada yang lain. Oleh karena itu, kepada siapa pun kita harus bertutur santun dan bersikap sopan—bukan berarti berlebih-lebihan, karena apa pun yang digunakan secara berlebihan akan menjadi kelemahan. Jika tidak mempunyai sopan-santun, orang akan dicap tak tahu diri; jika terlalu sopan-santun, orang hanya membuktikan bahwa dia tak punya harga diri.

Terbaru
Pendidikan