Pendidikan

Tepatkah jatuh cinta pada sosok pahlawan?

2.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:49
16 MAR 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Soalan cinta tak pernah akan habis dibahas oleh buku, didiskusikan dalam seminar hingga diteliti sampai ke kimiawi otak sekali pun. Orang pun banyak membuat rambu-rambu terkait orang seperti apa yang layak kita cintai, dan kemudian diajak bersanding di pelaminan.

Jika membaca beberapa buku petunjuk perkawinan, Anda akan temui pasangan yang cocok untuk dinikahi, seperti relijius, rupawan, pintar, hartawan, dari keluarga terpandang, sabar, penyayang, menyenangkan dan sederet sifat baik lainnya. Faktanya, orang seperti itu hendak dicari di mana? Jika ketemu pun, yakin dia sudi melirik Anda!?

Di antara sifat baik yang orang sering puji adalah mereka yang ingin selalu menolong orang. Kita sebut saja dengan pahlawan, yang selalu ingin menyenangkan semua orang. Kelompok seperti ini lebih banyak dihuni kaum lelaki. Menurut beberapa orang, pahlawan seperti ini cocok untuk pasangan. Jika orang saja disenangkan, apalagi pasangan. Demikian dalil yang di kemukakan.

Untuk mendiskusikan ini, mari kita bahas terlebih dulu proses jatuh cinta. Cinta sering bermula dari kebutuhan ego dan keterpesonaan terhadap citra seseorang. Dia perhatian, sayang, dan memberikan kelengkapan diri sendiri yang kurang. Lalu, seseorang jatuh cinta kepadanya.

Dia ingin pandai, tapi tidak kunjung pintar. Lalu, dia mendadak jatuh cinta ke seorang dengan gelar tertentu yang dinilainya cendekia. Dia melihat senyum sumringah dari seseorang, kebaikan dan pertolongannya, lalu dia jatuh cinta kepada orang yang dianggapnya pahlawan ini.

Orang yang mudah terpukau dengan citra-citra seperti itu sejatinya bukan jatuh cinta. Kekaguman tersebut hanya perasaan sesaat akibat diri tidak tahu bagaimana harus bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Orang seperti ini rawan jatuh cinta ke sosok yang kita sebut sebagai “pahlawan”.

Orang yang kehausan dengan sosok pahlawan seperti ini biasanya tidak akan mengetahui karakter sesungguhnya dari orang lain sampai terjadi konflik. Ternyata dia pemarah, pembohong, mudah mengeluh dan lain-lain.

Benarkah sosok pahlawan ideal untuk dinikahi?

Orang yang terlalu fokus menyenangkan orang lain justru berpotensi tidak intim dengan pasangan. Kita ambil satu contoh kasus. Seorang pegawai di kantor diplomatik merasa kasihan dengan rekan kerjanya yang seorang janda beranak lima. Dia sendiri ternyata juga persis beranak lima.

Pegawai ini tidak kurang pendidikan, terutama pendidakan agama karena sejak sekolah dasar hingga menengah belajar di sekolah berbasis agama, hingga lulus kuliah dari sebuah kampus ternama di luar negeri. Ayahnya pun tokoh agama di kampung.

Singkat cerita, kedekatan dengan si janda yang bermula dari kasihan ini mempengaruhi perasaan sang istri. Mereka menjadi kerap bertengkar, dan beberapa waktu kemudian diakhiri dengan perceraian.

Jadi, dia ingin menolong si janda beranak lima, dengan mengorbankan perasaan kelima anaknya plus istrinya.

Orang yang merasa harus menjadi pahlawan akan memposisikan istri dan anaknya sebagai perluasan dirinya ‘extension of self’, yang dituntut harus ikut berkorban dan rajin menolong orang lain, sama seperti dirinya. Padahal, pasangan adalah dua insan berbeda, apalagi jika lahir anak: ada individu-individu berbeda dalam rumahtangga yang harus dijaga hak-haknya.

Sosok pahlawan seperti ini bisa sangat mementingkan orang lain ketimbang diri dan pasangannya, termasuk anak-anaknya. Tentu saja, sikap seperti ini adalah kecacatan cara pandang.

Menikah dengan pahlawan cacat ini akan menguras perasaan dan bisa berakibat renggangnya keintiman dengan pasangan. Mempertahankan pernikahan dengan sosok pahlawan seperti ini membutuhkan pengorbanan perasaan yang tidak sedikit. Jika sudah seperti ini, akan muncul perkataan dari pasangan kata-kata seperti, “Dia orang baik, tapi tidak tahu bagaimana menjadi suami,” dan kalimat-kalimat sejenis lainnya.

Membantu orang tentu saja baik. Yang salah adalah ketika seseorang merasa bertanggung jawab membantu; padahal, dia seharusnya tidak memiliki tanggung jawab atasnya. Perasaan serba bertanggung jawab inilah yang dialami oleh orang-orang tipe pahlawan—bedakan dengan pahlawan perang.

Di sinilah Anda harus bisa membedakan: dia membantu karena kesadaran ingin membantu, atau dia membantu karena kecanduan menolong orang. Pikir masak-masak jika Anda memutuskan jatuh cinta ke orang tipe kedua. Atau, bantu dia menyembuhkan kecacatan cara pandangnya yang senantiasa harus menjadi pahlawan bagi orang lain, sebelum Anda memutuskan menikahinya.

Terbaru
18 Maret 2017 | 20:40
Nasir: insinyur kok jadi wartawan
18 Maret 2017 | 06:45
Iklim pengaruhi bentuk hidung
15 Maret 2017 | 05:07
Kesulitan bersikap santun
11 Maret 2017 | 06:50
Kekejaman orang tua ke anak
24 Februari 2017 | 05:00
Mengapa sampai salah memilih pasangan?
23 Februari 2017 | 05:00
Memaksa guru menulis
Pendidikan