Pendidikan

Mengapa selebriti kecanduan kawin-cerai?

4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:50
17 MAR 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Setakat ini orang ramai membahas kisruh percintaan sejumlah orang ternama atau selebriti, baik dari kalangan artis, politisi hingga penceramah. Sebagian mereka mempunyai istri simpanan, selingkuh, dan kawin-cerai.

“Mengapa sih mereka begitu?”

“Pokoknya kalau jadi istri penceramah harus siap-siap dimadu.”

Demikian respons sejumlah orang. Untuk menjawab tanyaan yang cukup sensitif ini, terlebih dulu kita bahas tentang popularitas yang melekat pada sosok selebriti.

Sebagian orang kurang lurus memandang ketenaran. Dikiranya ketenaran selalu berkelindan dengan kebahagiaan, uang, kemudahan dan peluang. Tentu pandangan ini ada benarnya. Namun, di luar itu, ketenaran lebih sering adalah jebakan.

Ketenaran berasal dari dua sebab. Pertama, ketenaran yang muncul secara lumrah, yang lahir secara alamiah karena prestasi-prestasi, seperti aktivis lingkungan yang bertahun-tahun bekerja melawan abrasi lalu dari mulut ke mulut dikenal orang di daerahnya hingga ke mana-mana. Atau, seorang cendekiawan penemu ini dan itu, lalu namanya dikenal secara luas sebagai ungkapan terimakasih orang kepadanya.

Kedua, popularitas yang didahului hasrat ingin terkenal, yang berasal dari kecanduan perhatian. Kalau seseorang tenar, tentu apa pun yang terkait dengannya akan diperhatikan oleh orang lain. Ketenaran tipe kedua ini sangat beracun, sebab dia lahir dari cacat kepribadian.

Yang orang sedang ramai bahas adalah ketenaran jenis kedua ini, yang lahir dari sebuah disain: dikonstruksi oleh media atau dari pelakunya sendiri yang memang tengah haus dengan pujaan dan perhatian.

Siapa pun dia (politisi, artis, penceramah dll) apabila tenar karena dahaga perhatian, pemujaan dan kesenangan, jiwanya pasti cacat. Orang seperti ini tidak akan ke mana-mana kecuali terperangkap pada dua hal, yakni kecanduan ‘addiction’ dan ketergantungan ‘co-dependent’.

Jika orang kecanduan ketenaran, tidak ada halangan baginya untuk kecanduan yang lain, apa pun objek candunya: narkoba, dugem, seks, makanan, cinta dan perhatian.

Orang yang gonta-ganti pasangan hanya membuktikan dia tidak dapat mengontrol perasaannya akibat hatinya yang kering atau dia sedang kecanduan: perhatian, seks atau cinta.

Orang yang terkenal akan sulit menjadi dirinya sendiri. Perilaku dan gaya hidupnya akan dikontrol oleh citra dan imajinasi kolektif masyarakat: harus pakai baju ini-itu, harus berdandan seperti ini-itu, harus selalu tampak manis, dan segala bentuk pencitraan lainnya yang sebetulnya melelahkan dan tak natural, tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya dia butuhkan.

Orang yang tidak bisa menjadi diri sendiri, jiwanya pasti hampa; tak tahu bagaimana harus bahagia akibat terlalu fokus menyenangkan semua orang. Orang seperti ini tidak akan ke mana-mana kecuali menjadi pecandu. Candu di sini bukan melulu narkoba, tetapi apa pun yang membuat seseorang terikat—moodnya dikuasai oleh objek candu tersebut.

Oleh karena itu, sama seperti pengidap depresi, para pecandu ketenaran rentan terjerumus ke narkoba, seks, makanan, dan cinta. Maka, Anda tidak perlu heran jika banyak selebriti dan politisi kecanduan narkoba, gonta-ganti pasangan dan selingkuh. Sementara itu, yang merasa relijius akan menghimpun banyak pasangan, bisa karena kecanduan seks, cinta dan perhatian.

“Sebenarnya keluarga saya sudah kacau, tapi saya tidak tahu harus berbuat apa. Orang telanjur menjadikan kami ikon keluarga harmonis,” beber seorang aktris senior.

Pada kasus yang ini, jelas artis tersebut mengalami ketergantungan. Dia sudah bergantung pada persepsi orang, sehingga dia tak mampu melakukan apa yang sebenarnya dia inginkan. Artis yang satu ini maju kena-mundur kena. Tekanan psikologis dari popularitas jangan pernah dianggap remeh.

Kasus lain, seorang sosok populis digugat oleh istri pertamanya karena ketahuan kawin sirri. Dia sebenarnya ingin bertahan dengan istri pertama, tapi di saat yang sama dia tetap menginginkan istri kedua.

Pada kasus yang ini, tampak nyata bahwa dia bergantung pada istri pertamanya (bukti jiwanya tak utuh), tetapi di saat yang sama dia tidak bisa mengelola cintanya (dengan kawin secara diam-diam). Betapa kacau cara pandangnya. Celakanya, pekerjaan yang menjadikannya terkenal adalah pemberi nasihat.

Terbaru
10 April 2017 | 13:45
DPR harap UN berjalan lancar
Pendidikan