Pendidikan

Haruskah punya anak setelah menikah?

7.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:50
31 MAR 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Masyarakat kita sering menganggap timpang dua orang yang menikah tetapi tidak/belum dikaruniai anak. Mereka menganggap bahwa tujuan utama menikah adalah memproduksi anak, laiknya peternak yang mengawinkan dua induk sapi jantan dan betina.

Oleh sebab itu, mulai dari keluarga besar, tetangga hingga teman sering numpang penghakiman dengan tanyaan, “Kok belum punya momongan sih!?” Cukup mengherankan, di zaman ketika bumi sudah sesak dengan manusia ini, masih ada orang yang menggunakan logika ternak untuk sebuah pernikahan.

Ketika dua insan berikrar suci di depan saksi dan segenap keluarga, tujuannya adalah menikah. Ya, menikah an sich. Pernikahan adalah bersatunya dua insan berbeda jenis kelamin dalam ikatan suci menurut agama dan budaya.

Mengacu kepada Kitab Suci Alquran, tujuan Tuhan menciptakan pasangan untuk dinikahi adalah ketenangan batin serta berbagi cinta dan kasih, atau secara berturut disebut sakinah, mawaddah dan rahmah (30:21). Sampai di sini, pernikahan terbaik adalah yang di dalamnya ada tiga kondisi batin tersebut, dan tentu saja tanpa anak (setidaknya dalam ayat tersebut). Lebih tegasnya, pernikahan yang baik adalah tanpa anak.

Apabila dari pernikahan tersebut terlahir anak, sistem pernikahan berubah bentuk menjadi keluarga. Di sini, anak adalah anugerah, seperti wajah dan kulit kita dan lain-lain. Anugerah tidak perlu dipaksakan, hak Tuhan memberikan kepada siapa yang dikehendaki.

Tentu, orang akan tersinggung ditanya seperti ini, “Hidungmu kok pesek sih!? Yang mancung dong!” Orang yang bertanya seperti ini lupa bahwa hidung adalah anugerah, sama seperti anak tadi.

Logika cacat bahwa menikah harus memiliki anak akan menghasilkan cara pandang yang cacat pula. Ketika satu pasang kekasih menerima pandangan cacat ini, dia akan mengundang tiga masalah: mengadopsi anak (dari keluarga dekat atau orang lain), bercerai atau menikah lagi.

Sama seperti memaksakan pernikahan dengan produksi anak-anak, mengadopsi anak adalah logika pemeliharaan hewan. Seorang anak kecil di desa ditanya, “Mengapa kamu memelihara burung kecil ini?” Jawabnya, “Saya sayang binatang; saya ambil anak tekukur ini dari sarangnya di atas pohon mangga.”

Burung tentu lebih bahagia tumbuh besar bersama induknya di alam liar. Jika memiliki cinta yang lurus, orang akan membiarkan burung hidup bebas menurut apa yang dia inginkan, bukan merampasnya: dari induk dan habitat aslinya.

iKarena hasrat ingin memiliki anak, tak jarang sepasang suami-istri memungut anak orang lain, baik masih berkerabat atau bukan. Logika orang seperti ini tak ubahnya anak kecil tadi. Yang terbaik bagi seorang anak adalah tumbuh bersama keluarga aslinya. Jika memang sayang dan niat menolong, seharusnya orang menolong supaya anak tersebut tumbuh baik bersama keluarganya, bukan merampasnya untuk dipelihara seperti burung malang tadi.

Gara-gara menggantungkan eksistensi pernikahan kepada keberadaan anak, salah satu pasangan kadang rela menggugat cerai. Orang ini tentu tak paham tujuan pernikahan dan menggunakan logika peternak: pejantan tak cocok dengan betina yang ini, dicarikan betina yang lain, atau sebaliknya.

Kita diajarkan bahwa Tuhan membenci perceraian, sedangkan Dia tidak memaksa seseorang untuk beranak. Lalu mengapa orang harus memaksa memantik kebencian Sang Pencipta dengan bercerai dengan alasan karena tak mempunyai anak dari pasangan? Di mana logika sehatnya?

Sepinya rumah sering dijadikan sebagai kosakata untuk memulai menggulirkan isu perceraian karena ketiadaan anak. Orang seperti ini sejatinya hatinya sendiri yang kering dan kesepian lantas mengira akan basah dan semarak dengan kehadiran anak. Menggapa harus menggantungkan kebahagiaan ke orang di luar diri? Hanya orang dengan kepribadian disfungsi yang memilih cara bahagia seperti ini.

Jika tidak bercerai karena absennya anak, terkadang ada suami yang menyodorkan proposal poligami—jika tidak melakukannya secara diam-diam. Di sini, yang menjadi korban tentu saja perempuan, karena di masyarakat kita poligami hanya boleh dilakukan oleh kaum pria atau poligini.

Seumpama ada niat melakukan poligami, seorang calon suami seharusnya mengaku sebelum menikah. Atau, jika tidak ingin menjadi korban, calon istri bisa membuat kontrak. Poligami dengan alasan ketidakhadiran anak sering dianggap pembunuh secara perlahan bagi perempuan. Oleh karena itu, ujung-ujungnya biasanya cerai juga.

Seseorang yang tidak menuntaskan pernikahan hingga maut menjemput, biasanya tidak akan pernah benar-benar mampu merasakan hubungan percintaan yang sesungguhnya. Inilah mengapa perceraian harus sekuat tenaga dihindari, dan oleh karena itu Tuhan membencinya.

Jika memutuskan menikah, tidak perlu mengabsolutkan kehadiran anak. Hadir atau tidaknya anak tidak selaiknya mempengaruhi janji setia yang kita ucapkan dalam kondisi sadar saat berada pada puncak cinta. Pun, sebaliknya, jangan sampai karena kebanyakan anak, pernikahan menjadi berantakan. 

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
10 April 2017 | 13:45
DPR harap UN berjalan lancar
Pendidikan