Pendidikan

Melibatkan anak dalam konflik orang tua

3.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
12:39
05 JUN 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hardiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Apabila sudah memutuskan menikah dengan seseorang, kita pasti secara otomatis menceburkan diri dalam konfilik. Hal ini terjadi karena ketika memutuskan hidup bersama, kita akan menjadi lebih dekat satu sama lain; kedekatan akan secara mutlak menanggalkan kesantunan.

Hilangnya prinsip kesantunan akan membuka peluang untuk memberikan ancaman muka kepada seseorang. Ketika pola kesantunan tanggal, orang akan lebih mudah mengutarakan apa yang ada di dalam hati, dan hal ini bisa berakibat lawan bicara menjadi rawan tersinggung, tersakiti dan merasa dilecehkan.

Kaitan antara kedekatan, kesantunan dan potensi konflik adalah semakin dekat, semakin tak santun dan terbuka konflik. Pola ini sejatinya alamiah, sebagaimana terjadi dengan teman dekat atau saudara, tetapi terkadang tidak disadari oleh mereka yang menikah. Akibatnya, konflik yang mencuat tidak bisa lekas-lekas redam dengan proses rekonsiliasi yang otomatis, sebagaimana konflik kakak beradik ketika kanak-kanak.

Apabila sepasang suami-istri tahu bahwa mereka tak akan lepas dari konflik begitu memilih mengikat janji sebagai pasangan, mereka pasti sadar dan sepakat memilih metode apa untuk menyudahi konflik: dengan salaman, pelukan atau makan malam romantis. Sayangnya, tak semua orang memiliki pemahaman ini.

Ketidaksadaran tentang mengangahnya potensi konflik dalam keluarga akan menyebabkan kegagapan pasangan dalam mengelola konflik dalam rumah tangga. Kegelagapan mengambil inisiatif untuk rekonsiliasi dengan pasangan pascakonflik terlihat dari pelibatan pihak luar untuk menyelesaikan cekcok.

Pasangan yang berkonflik lalu harus membutuhkan pihak lain seperti orang tua, mertua, ipar dan orang lain untuk mendamaikan menjadi pertanda bahwa pernikahannya sebenarnya rapuh. Situasi akan menjadi lebih rumit ketika yang dilibatkan adalah anak-anak.

Kesalahan pasangan yang melibatkan anak dalam konflik pernikahan terjadi pada dua hal, yakni menyerahkan masalah kepada orang yang salah dan membebankan sesuatu kepada orang yang tak pantas menerimanya.

Ada pepatah Jawa berbunyi “kebo nyusu gudhel” (kerbau menyusu anaknya), yang dapat dimaknai sebagai orang dewasa yang harus membutuhkan anak-anak. Bahwa anak-anak bergantung kepada orang dewasa adalah alamiah, karena mereka memang belum dapat hidup mandiri. Sebaliknya, orang dewasa yang bergantung adalah pilihan; dalam artian, dia memiliki kebebasan untuk bergantung kepada sesuatu di luar diri mereka atau mandiri.

Ketika memilih atau masih berada dalam ketergantungan kepada pihak lain atas masalah-masalahnya, orang dewasa tersebut bisa kita katakan sebagai bocah tua (secara umur dan fisik dewasa, tetapi kepribadiannya seperti kanak-kanak). Di sinilah letak kesalahan pertama; pasangan ini mengalami cacat cara pandang dalam pernikahan sehingga harus mengundang anak-anak untuk masuk ke dalam pusaran konflik yang mereka ciptakan sendiri.

Selanjutnya, pelibatan anak-anak ke dalam konflik pernikahan adalah bagian dari objektivikasi terhadap mereka. Wajah anak yang naif, tangannya yang mungil, tulang-tulang yang masih rapuh, pola pikir yang sederhana, harusnya menjadi pertanda bahwa anak-anak sebisa mungkin disucikan dari derita. Mereka belum saatnya dikenalkan dengan duka yang tidak pernah mereka ciptakan.

Anak yang dilibatkan ke dalam konflik orang tua akan mengalami beban ganda: beban karena tahu hubungan pernikahan orang tua mereka dalam masalah dan pikulan berat karena tak tahu harus berbuat apa. Setiap anak yang dilibatkan dalam konflik akan mengalami kebingungan, bukan semata-mata karena mereka belum pengalaman mengatasi konflik tetapi karena belum saatnya mereka berhadapan dengan konflik. Jembatan yang dilalui kendaraan di luar kapasitas akan rusak, demikian pula jiwa anak-anak tersebut.

Pasangan yang menyeret anak ke dalam konflik mereka sama saja mencabut jiwa anak dari raganya, lalu diisi dengan jiwa mereka yang sakit. Anak-anak yang dilibatkan dalam konflik secara terpola akan mengalami keadaan berikut:

1. dijadikan kurir untuk menyampaikan pesan kepada orang tua lain, seperti, “Tuh bilang kepada ayahmu agar diam di rumah.”

2. diberondong dengan tanyaan-tanyaan menohok tentang salah satu pasangan, seperti, ”Tadi mamamu ngapain saja? Kamu lebih cinta mama atau papa?”

3. dipaksa untuk menyembunyikan informasi-informasi tertentu, “Jangan bilang sama mama, ya.”

4. diarahkan supaya tidak melihat sisi baik salah satu orang tua. Hal ini dilakukan salah satu orang tua untuk mendapat dukungan dari anak dalam konflik mereka sekaligus membuat anak benci. “Jangan malas seperti papamu!; atau, “Papamu bisanya hanya keluyuran!”

5. dikondisikan untuk tidak melihat peranan salah satu orang tua dalam mengasuh, seperti “Mama yang mengandung, menyusui dan merawat kamu dari dulu. Papamu tak melakukan apa pun!”

6. dijadikan pasangan semu. Anak perempuan akan lebih diperhatikan dengan menuruti semua keinginannya, dengan tujuan untuk menyakiti perasaan istri; atau sebaliknya, anak lelaki dijadikan sosok yang menemani ke mana pun ibunya pergi, sebagai pengganti sosok suami.

7. dijadikan sandera untuk menghindari perceraian. “Saya masih memikirkan anak-anak jika harus bercerai.” Jika ada suami-istri sampai melontarkan kalimat ini, sejatinya dia sudah melakukan objektivikasi anak-anak mereka (dari nomor 1-6). Anak-anak sama sekali tak memiliki tanggung jawab untuk mengikat pernikahan orang tua. Pernikahan adalah tanggung jawab suami dan istri karena mereka sendirilah yang berikrar di hadapan hakim, saksi dan Tuhan. Menjadikan anak sebagai sandera pernikahan adalah kecacatan cara pandang.

Anak yang telanjur terjebak dalam situasi mencekam tersebut akan kebingungan. Secara alamiah mereka membutuhkan kehadiran ayah dan ibu untuk tumbuh kembang mereka secara sempurna. Karena mereka dikondisikan timpang, jiwa mereka pun akan demikian. Anak seperti ini akan membawa beban malu, rasa bersalah, kecewa, marah dan sejumlah sifat beracun lain yang dapat menganggu cara dia menilai diri sendiri, orang lain, masyarakat dan cara pandangnya secara umum.

KATA KUNCI : , , ,
Pendidikan