3 tanda orang tua sudah jadi racun bagi anak

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

3 tanda orang tua sudah jadi racun bagi anak

OPINI – Berbeda dari anak, menjadi orang tua adalah pilihan. Orang bisa memilih menjadi orang tua yang kaku, keras, enggan belajar cara mendidik hingga kejam dan abai ke anak yang telah dilahirkannya. Atau, orang dewasa (bahkan yang telah menikah) bisa memilih tidak melahirkan atau merawat (adopsi) anak-anak karena berbagai pertimbangan.

Apabila Anda bertanya, setiap orang tua pasti ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Bahkan, mereka yang biasa melakukan kekerasan (verbal-fisik) mengaku melakukannya demi kebaikan anak-anak mereka. Padahal, kebaikan tidak pernah tunggal dan selalu ada cara unik untuk melakukannya, sesuai dengan situasi, kebutuhan dan kemampuan tiap-tiap individu.

Sulit mencari orang tua tanpa cela, dan sukar pula menentukan kategori benar-salah dalam pengasuhan karena banyaknya pertimbangan (seperti latar belakang keluarga, ekonomi hingga budaya), akan tetapi kita masih bisa melakukan kategorisasi kesalahan besar dan kecil dalam pola asuh yang dapat menggores luka permanen dalam diri anak.

Sekarang, mari kita renungkan apakah kita pernah, sedang dan masih akan mengalami pola asuh yang salah dari orang tua kita. Atau, sebagai orang tua, kita tengah dan masih akan terus berperan menanamkan luka pada anak.

Di antara sejumlah perilaku beracun yang jarang disadari, tiga perlakuan di bawah ini adalah yang paling mematikan bagi kreativitas, kepribadian dan kebahagiaan anak-anak.

1. Membuat anak bertanggung jawab terhadap impian dan kebahagiaan orang tua

Mudah kita dengar dan baca (dari misalnya status di medsos) yang menganggap anak adalah investasi. Bahkan, sering ditambahkan aroma keagamaan, misalnya dalam kalimat “anak adalah investasi dunia-akhirat.” Maksudnya, hasil merawat anak dapat dipetik di dunia dengan setoran upeti di masa tua dan di akhirat dengan memberikan pahala dan pertolongan kepada orang tua.

Karena dianggap investasi, anak tak ubahnya aset yang bisa diapakan saja, selama menguntungkan. Dalam konteks keluarga, anak akhirnya dipaksa dan terpaksa melakukan atau menjadi sesuatu untuk memenuhi impian dan kebahagiaan orang tua.

Ada orang tua yang dengan angkuh dan sombong berkata, "anak, anak saya sendiri, terserah mau saya apakan." Perlu diketahui bahwa anak adalah titipan Tuhan, bukan aset/investasi kita. Jika dari awal kita anggap sebagai hak milik dan investasi, anak selamanya tidak akan menjadi orang yang merdeka (dalam berpikir dan mengikuti bakatnya). Perilaku ini sangat beracun dan bakal menjadi spiral yang tak berujung: anak dituntut ibu-ayahnya, lalu dia akan menuntut orang (anaknya, bawahan atau siapa pun) yang bisa dia tuntut. Akhirnya, relasi kemanusiaan menjadi saling sandera. Mengerikan bagi kehidupan, tetapi orang sering abaikan.

Anak adalah entitas merdeka, yang kita para orang tua hanya membantunya menjadi dewasa dalam arti sesungguhnya. Jika gagal, yang menerima dampaknya tidak hanya orang tua tetapi masyarakat dan dunia. Para tiran, mafia, koruptor dan begal-begal kakap adalah anak-anak yang gagal dalam pendidikan keluarga dan dampaknya dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. 

Terkait investasi akhirat, tiap-tiap orang tentu bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Yang memasukkan kita ke surga adalah Tuhan dengan mempertimbangkan amaliah kita, dan kita tidak perlu bergantung pada anak. Mengantar anak menjadi saleh itu wajib, tetapi bukan standar "kesalehan" menurut orang tua, seperti harus menghafal ini-itu, bergelar ini-itu dll.

Jika di TV sedang tren dai cilik, anak dipaksa belajar pidato; apabila sedang tren tahfidz, anak dipaksa mengahafal; jika sedang tren pakaian tertentu, anak dipaksa memakainya padahal tidak ada kewajiban. Di sini jelas ada kepentingan (atau kenarsisan) orang tua yang disisipkan, yang bisa jadi itu adalah keinginan org tua yang tak tercapai, lalu anak dieksploitasi untuk mewujudkannya dengan bungkus kesalehan. Perlu diingat bahwa investasi juga ada yang bodong, termasuk investasi akhirat atas dasar narsisisme dan pamer.

Mendidik cara lama dengan menjadikan anak aset sebaiknya kita pikir ulang, tentu saja untuk diubah. Sekali lagi, anak adalah titipan, yang wajib kita pelihara sesuai bakat aslinya (fitrah), yang bisa jadi sangat berbeda dari keinginan (fitrah) kita. Orang yang punya barang titipan tentu akan bertanya jika barang titipannya berubah wujud ketika dikembalikan.

Kalau boleh memilih, ada benarnya perkataan sahabat Nabi Muhammad, Abu Bakar, "Andai aku ditakdirkan menjadi pasir". Menjadi anak dari seorang ibu-ayah tertentu bukan pilihannya. Jadi, mari kita kasihi anak-anak kita tanpa menjadikannya objek/aset/properti/investasi yang akan kita panen untuk keuntungan dan kebahagiaan kita semata.

Jika orang tua tidak bahagia, yang salah adalah orang tua sendiri dan anak tidak pantas dibebani untuk membuat situasi menjadi ceria. Tiap-tiap kita bertanggung jawab atas kebagahagiaan sendiri. Jika cita-cita pribadi tidak terwujud, bukan tanggung jawab anak untuk mewujdkannya.

Kita cenderung mengulang apa yang orang kasih ke kita, terutama dari orang tua. Ketika orang tua menjadikan kita aset untuk mengamankan masa tuanya, bukan berarti kita boleh melakukanya.

2. Mengendalikan anak dengan uang dan rasa bersalah

Tidak sedikit orang tua yang terutama ketika ekonomi mulai membaik dia mencoba membeli semua hal, termasuk anak-anak mereka. “Udah diam, nih uang buat jajan dan beli mainan,” kata seorang ayah. Padahal, anaknya hanya ingin mengajak sang ayah bermain bersama.

Orang tua yang lain mengancam tidak akan memberikan uang jajan ketika kemauannya tidak dipenuhi si anak. Komunikasi anak dan orang tua akhirnya menjadi transaksi finansial yang di dalamnya berlaku hukum “siapa yang memiliki modal dia yang mengendalikan keadaan.”

Orang tua tidak seharusnya mengharap imbalan ketika memberikan anak-anak hadiah atau uang. Membeli cinta dan penghormatan anak dengan uang adalah kesalahan besar.

Terkadang, ada orang tua yang membayar kesalahan dengan uang. Misalnya, orang tua batal memenuhi janji dengan anaknya untuk berenang lalu dia memberikan uang jajan tambahan ke anaknya yang merajuk karena merasa diabaikan. Lebih penting mengakui kesalahan dan meminta maaf atas kesalahan daripada menebusnya dengan uang yang dapat memberikan kesan bahwa apa pun bisa diselesaikan dengan uang.

Dalam kasus lain, ada orang tua yang mengendalikan anak dengan kesalahan yang sudah dibuatnya di masa lalu. Setiap ada kesempatan, orang tua mengingatkan kesalahan anak dan dipakainya untuk menekan anak supaya mengikuti keinginan orang tua.

Anak dalam kondisi tersebut dapat dipastikan bakal kehilangan jati diri dan kepercayaan diri menghadapi situasi-situasi baru. Akan tetapi, sayangnya, orang tua terkadang gagal melihat ini hanya karena ingin terlihat berkuasa atas anak-anak mereka.

3. Mencela dan meremehkan anak

Bercanda dengan celaan, tidak menghargai upaya dan kreativitas anak, mudah menyalahkan anak akan berakibat pada lenyapnya ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran-pikirannya. Anak-anak yang terpapar perlakuan beracun dari orang tua seperti ini akan kehilangan kepercayaan dan penghargaan kepada dirinya.

Sebagian orang tua lupa bahwa perasaan anak jauh lebih kuat daripada orang dewasa. Sekali perlakuan di atas terjadi, daya rusak terhadap jiwanya sangat mencekam dan tentu saja permanen.

Ada anak yang saat TK tampil menari di panggung. Usai pentas, sang ayah mengatakan sambil bercanda bahwa gerakannya kaku bak robot. Tarian kanak-kanak itu pun menjadi yang terakhir baginya akibat komentar beracun tersebut.

Berkomunikasi ke anak tentu ada caranya; bagaimana memuji, mengkritik, menasehati, bercanda, bicara serius dan seterusnya. Kesalahan dalam berkomunikasi ke anak dapat menyebabkan anak-anak depresi dan merasa terabaikan. Apabila ini terjadi, anak-anak ketika sedikit lebih besar akan mencari keluarga baru (geng dan perkumpulan lain yang membuat dia jauh dari rumah), jika tidak benar-benar hilang dari keluarga.

Google Allo punya 4 permainan baru
Meredam senam impor dengan Poco-poco
CCTV jangan hanya di lampu merah, pasang juga di kantor pemerintah
Pemimpin muslimah perekat hubungan Singapura-RI
Empat program prioritas hapus desa tertinggal
Fetching news ...