Pendidikan

Komentar-komentar berbisa saat sambut kelahiran anak

6.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
14:55
06 JUL 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Sampai saat ini, mayoritas pasangan yang telah menikah menginginkan kelahiran anak. Bahkan, sebelum hamil pun, tak jarang pasangan menikah sudah menyiapkan nama bagi jabang bayi yang akan dilahirkan kelak.

Ketika buah hati yang dinanti terlahir ke dunia, berbagai doa dan ucapan selamat datang berdatangan. Sebagian besar ucapan tersebut menyenangkan dan menjadi penyemangat, tetapi ada pula beberapa kalimat yang mengandung bisa ular, tak terasa sakit tetapi daya rusaknya sangat signifikan, terutama bagi jiwa sang anak.

1. Kamu sebelumnya ingin anak apa?

Bagi banyak orang, anak lelaki atau perempuan sangat penting. Maka, ketika sudah lahir keturunan, ada saja teman atau kerabat yang bertanya, “kalian sebelumnya ingin anak apa?”

Pertanyaan ini tampak normal, akan tetapi dampaknya bisa merusak mood orang tua. Misalnya, orang tua ingin anak perempuan, tetapi yang lahir lelaki. Orang tua awalnya sudah menerima dan menyambut kedatangan anak dengan syukur serta senyum terbuka.

Tanyaan tersebut dapat membuka harapan lama yang tak terkabulkan. Akibatnya, keberterimaan terhadap bayi yang baru lahir bisa menurun. Akhirnya, kasih sayang pun bisa tak utuh selama pengasuhan.

Lahir baik berjenis pria maupun wanita adalah kehendak Tuhan. Tugas orang tua adalah menerima amanatNya dengan tulus dan bertanggung jawab mengasuh dan mendidik anak secara maksimal.

Yang lebih parah adalah, ada saja, yang memperlakukan anak tak sesuai dengan fitrahnya. Misalnya, ada ibu yang berhasrat melahirkan anak perempuan tetapi ternyata bayinya lelaki. Keinginan ibu ini pun diketahui anak; sang anak lalu berlagak perempuan, dan orang tua pun mengafirmasinya. Pada akhirnya, anak pasti akan menjadi korban dari lingkungan yang mengolok-olok atau memperlakukannya secara berbeda.

2. Anak perempuan nanti cepat punya mantu

Kalimat di atas entah diucapkan sejak kapan. Yang jelas, sampai zaman pascamodern ini, kalimat tersebut masih digunakan sebagai basa-basi saat melihat bayi perempuan untuk pertama kali.

Pemikiran primitif bahwa anak perempuan harus lebih cepat dinikahkan sepertinya belum bergeser dari benak sebagian masyarakat kita. Maka, wajar angka pernikahan dini masih tinggi di negara ini, dan korbannya adalah anak perempuan.

Menikah, bagi pria dan wanita, harus diniatkan sebagai bagian dari keimanan, membina cinta dan kebahagiaan, yang harus dilakukan di usia matang, baik secara fisik maupun psikologis. Kematangan orang per orang tentu berbeda.

Meskipun banyak perempuan lebih cepat matang, tetapi mengatakan bahwa mempunyai anak perempuan bakal lekas memiliki mantu akan menimbulkan kesan bahwa hidup perempuan hanya untuk menikah, dan mempunyai anak perempuan berarti harus segera menikahkannya. Pandangan ini akan menyakitkan ketika di kemudian hari ada anak perempuan yang belum menikah ketika teman sebayanya sudah melakukannya. Orang tua akan tertekan, lalu menekan anaknya. Ujungnya, isu pernikahan dirasa sebagai beban bagi perempuan yang sudah berusia matang.

3. Ini anak gak disengaja

Ucapan di atas terkadang terlontar dari orang tua, lebih sering diucapkan sebagai candaan. Ungkapan sejenis lainnya adalah “ini anak kesundulan”, “kebobolan” dan ungkapan lain dengan makna serupa.

Baik direncanakan atau tidak, anak sudah telanjur lahir. Ungkapan kekecewaan tersebut akan menjadi hipnosis bagi ketidakberterimaan terhadap anak. Anak yang tidak diterima dengan wajah ceria dari orang tua dan orang sekitar akan muram dan merasa tak berharga.

Anak adalah peniru ulung dan sudah memiliki perasaan sebelum nalarnya berkembang. Jangan pernah mengira bahwa bayi berusia satu minggu tak mempunyai perasaan. Perasaan bayi bahkan sudah berkembang sejak di dalam rahim, setelah pendengaran dan penglihatannya tercipta.

Mari kita terima anak apa adanya. Dia tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Tuhanlah yang mengirimnya kepada kita. Sudah menjadi hak dia untuk diterima sebagai anak-anak yang sepenuhnya bergantung kepada orang tua: menggantungkan kebutuhan pokok, cinta, perhatian, dan pendidikan. 

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
27 Juli 2017 | 13:03
Melonggarkan aturan keluarga
15 Juli 2017 | 07:00
Aksara di sekolah kita
12 Juli 2017 | 07:14
Hasrat memberi dan penghalangnya
4 Juli 2017 | 17:49
UGM temukan antibodi unggas
Pendidikan