Pendidikan

Ingin anak kreatif? Jauhkan dari mainan

7.1K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
15:56
07 JUL 2017
Ilustrasi
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Kreativitas bukan bakat. Kreativitas dapat dipelajari oleh siapapun, termasuk anak-anak, dan rasa bosan adalah salah satu kuncinya.

Pakar pengasuhan anak dari Australia, Maggie Dent mengisahkan penelitian yang dilakukan akademisi Jerman 20 tahun lalu. Para peneliti, kata Dent, menjauhkan mainan dari jangkauan siswa sebuah taman kanak-kanak selama tiga bulan.

Hasilnya, mereka tampak bosan dan bingung ketika tak dapat menemukan satu pun mainan untuk dimainkan. Tapi, justru hal itulah yang melatih imajinasi mereka.

”Keesokan harinya, anak-anak mengambil permadani dan meletakan gulungan permadani itu di atas kursi, sehingga perabotan menjadi alat permainan mereka," ujar Dent, dilansir Australia Plus, Jumat (07/07/2017).

"Kebosanan adalah sesuatu yang sangat tidak nyaman bagi anak-anak. Jadi, jika kita tidak memberikan sesuatu kepada mereka atau segera menciptakan sesuatu untuk mereka, mereka akan benar-benar termotivasi untuk menghilangkan rasa bosan itu dengan cara menciptakan sesuatu untuk diri mereka sendiri."

Jauhkan mainan secara perlahan

Namun, Dent tidak menganjurkan para orang tua menyingkirkan seluruh mainan anak mereka sekaligus. Tapi, secara perlahan dengan menyingkirkan dua per tiga mainan anak dan menyimpannya di gudang.

“Usahakan seluruh sisa mainan anak disimpan di gudang. Lakukan rotasi setiap tiga bulan; Anda tidak perlu membeli mainan baru karena mereka akan lupa kalau pernah memiliki mainan itu, dan mereka akan merasa seluruh mainan mereka baru kembali.”

Dent juga menyarankan agar orang tua meminta anak menyortir beberapa mainan untuk disumbangkan agar mereka terbiasa berbagi dan mengapresiasi segala sesuatu yang mereka miliki.

Mainan tepat untuk anak

Orang tua yang berusaha membatasi mainan untuk anak-anak mereka biasanya mendapatkan reaksi tidak mengenakkan dari teman atau keluarga.

Dent mengatakan, banyak kakek-nenek yang merasa kecewa ketika mainan mereka tidak diterima dengan baik oleh orang tua cucunya. Menurutnya, kondisi ini hanyalah masalah memberi pertimbangan dengan baik dalam memilih jenis hadiah yang tepat.

"Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kita selalu membeli mainan satu arah, tidak memiliki kualitas yang dapat memberikan kebebasan pada anak; dan hal seperti ini melemahkan rasa penasaran dan kemampuan anak dalam memecahkan masalah," katanya.

"Lain kali jika Anda hendak membeli sesuatu, ciptakanlah dialog seperti ini terlebih dahulu: 'Apakah mainan ini membuat anak kreatif dan sedikit lebih menarik?'"

Sebagai seorang nenek, Dent juga mengatakan bahwa ia berusaha memberikan hadiah yang bisa digunakan oleh semua anak di keluarga tersebut. Atau dia sering menghadiahkan pengalaman, seperti tiket masuk ke kebun binatang, jadi bukan barang material.

"Anda masih bisa menghadiahkan sesuatu, tapi Anda perlu sebuah percakapan mengenai kualitas pemberian itu dan manfaat yang akan diberikan kepada mereka," katanya.

Ajarkan anak menghargai barang

Anak-anak juga perlu belajar bahwa orang tua memiliki sumber daya yang terbatas, kata Maggie Dent.

Bagi anak yang lebih tua, melibatkan mereka langsung dapat membantu mereka menghargai hal-hal baru, katanya.

"Jika mereka menginginkan sesuatu yang signifikan dan harganya mahal, saya lebih menyukai jika mereka harus berkontribusi untuk mendapatkan hal itu," jelas Dent.

"Anak-anak saya mengira saya bermaksud jahat jika mereka menginginkan papan selancar baru atau skateboard baru karena mereka harus ikut membayar separuh dari harga papan selancar itu sendiri. Tapi, mereka jadi lebih sedikit menghargai barang milik mereka.”

KATA KUNCI : , , , ,
Terbaru
27 Juli 2017 | 13:03
Melonggarkan aturan keluarga
15 Juli 2017 | 07:00
Aksara di sekolah kita
12 Juli 2017 | 07:14
Hasrat memberi dan penghalangnya
4 Juli 2017 | 17:49
UGM temukan antibodi unggas
Pendidikan