Mengapa orang baik sering menikah karena kasihan?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mengapa orang baik sering menikah karena kasihan?

OPINI – Menikah karena kasihan umum terjadi di tengah orang-orang yang dalam keseharian terkenal baik hati dan suka menolong. Orang ini tidak bisa berkata “tidak” apabila dihadapkan pada situasi diminta. Oleh karena itu, diajak menikah sekalipun, dia tak sanggup menolak, meskipun tidak mencintai pasangannya.

Ada sebagian orang yang memuji seseorang yang memutuskan menikah karena dorongan rasa kasihan tersebut. Orang ini dinilai baik hati sebab rela mengorbankan cintanya sendiri demi membahagiakan orang lain, yang mengaku jatuh cinta padanya.

Pada titik cukup ekstrem, ada seorang pria yang rela menikahi sahabatnya yang sudah 3 bulan hamil oleh pacarnya sendiri. Si pacar pergi begitu saja tanpa mau bertanggung jawab. Demi menjaga aib, pria tersebut “mengorbankan” diri menjadi suami sahabatnya tadi. Cukup pelik, tapi kisah tersebut adalah fakta.

Mengapa bisa terjadi demikian?

Orang baik sering tidak benar-benar “baik” dalam arti melakukan kebaikan bagi diri, orang lain dan lingkungannya. Dia hanya baik sebagai konsekwensi dari gejala Caretaker Personality Disorder (CPD). Menurut psikolog Les Barbanell, penulis buku “Removing the Mask of Kindness”, banyak orang yang sehari-hari tampak sangat manis mengidap cacat kepribadian pengemban tersebut, yakni mengemban tanggung jawab yang seharusnya tidak dia emban.

Menurut Barbanell, orang-orang “baik” ini sejatinya merasa tak bahagia, kosong, dihantui rasa bersalah, rasa malu tak sehat, marah, terasing, takut penolakan dan pengabaian, dan secara fisik maupun psikis lelah karena harus memikul beban orang lain.

Ajaran tak masuk akal “mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan sendiri” hanya bisa dieksekusi oleh orang-orang yang mengidap CPD ini. Dalil “lebih baik memberi daripada menerima” benar-benar dijadikan rujukan orang tipe ini. Orang ini kecanduan untuk menyenangkan orang lain, meskipun dirinya berdarah-darah secara kejiwaan.

Perlu diingat bahwa artikel ini tidak mengajak untuk menjadi egois, tetapi kita harus seimbang dalam menerima dan memberi, menyenangkan dan disenangkan. Hidup yang normal dan fungsional adalah yang seimbang: tengah-tengah, bukan di tonggak ekstrem. Sangat jelas bahwa terus memberi tidak selalu bagus, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang yang diberi.

Pada kasus pria yang menikahi sahabatnya yang tengah hamil tersebut, dia justru melakukan sejumlah kesalahan fatal. Pertama, dia menghancurkan masa depannya sendiri untuk mendapatkan perempuan terhormat. Kedua, dia berpeluang menghancurkan jiwa anak dengan cara melakukan manipulasi status ayah. Ketiga, dia menyebabkan perempuan dan pacarnya menjadi orang yang tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan yang dilakukan. Keempat, pernikahannya pasti tidak mudah. Selain tekanan sosial, keluarganya kemungkinan akan diwarnai konflik kepercayaan, karena istri pernah melakukan perzinahan. Kelima, dia salah memahami tanggung jawab; orang lain yang terlibat hubungan seks pranikah, jadi bukan tanggung jawab kita untuk dijadikan tumbal.

Pengidap CPD tidak akan pernah berhenti untuk merasa kasihan dan bakal rela mengorbankan kepentingan diri dan (bila perlu) keluarga intinya karena sudah dianggap sebagai kepanjagan diri (extension of self). Orang tipe ini selalu berpeluang meninggalkan satu tanggung jawab guna mengemban tanggung jawab lainnya.

Menikah karena kasihan seharusnya tidak dilakukan karena orang tidak akan bisa terus merasa kasihan. Perasaan kasihan hanya lahir ketika objek dilihat memiliki kekurangan. Ketika kekurangan tersebut lenyap atau ternyata bisa diatasi, rasa kasihan akan hilang. Pengidap CPD yang telanjur dicap sebagai “orang baik” ini akan selalu membutuhkan orang lain untuk dikasihani, dan sikap ini akan memicu konflik dengan pasangan yang tidak siap melakukan hal serupa.

Orang yang menikah karena kasihan akan membangun keintiman manipulatif, tampak baik dan manis dari luar padahal di dalamnya hampa. Secara esensial, orang membutuhkan harga diri, berbagi rasa, mencintai dan dicintai secara bersamaan, dan menumbuhkan harapan. Semua ini tidak akan diperoleh pengidap CPD. Oleh karena itu, menikah karena kasihan hanya menjatuhkan diri ke dalam jebakan kesetiaan semu dan keengganan untuk menyakiti perasaan orang lain, tak peduli apa yang sudah dilakukan pasangan.

Apabila telanjur dicap sebagai “orang baik” yang bisa dimanfaatkan semua orang, saatnya Anda melakukan refleksi: jangan-jangan diri mengidap CPD. Untuk berhenti menjadi orang baik yang ingin memuaskan semua orang, kita harus berani menghadapi kemungkinan konfrontasi atau kemarahan orang lain. Kita harus yakin bahwa diri berhak memperoleh apa yang kita butuhkan, sama seperti orang lain menginginkan apa yang mereka sukai secara seimbang.

Memikirkan kebahagiaan diri atau mendahulukan kepentingan sendiri tidaklah tercela. Hanya orang bahagia yang bisa membahagiakan orang lain; hanya orang kaya yang bisa membantu orang lain sejahtera secara konkret. Jika Anda terlalu berpikir “kita harus melakukan sesuatu”, sekarang ubahlah menjadi “saya mau” atau “saya ingin”. 

Google Allo punya 4 permainan baru
Meredam senam impor dengan Poco-poco
CCTV jangan hanya di lampu merah, pasang juga di kantor pemerintah
Pemimpin muslimah perekat hubungan Singapura-RI
Empat program prioritas hapus desa tertinggal
Fetching news ...