Seni & Sastra

Garangan miskin yang selalu menggerutu, dongeng Atisura

2.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
10:05
24 DES 2016
Ilustrasi
Editor
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Langit tampak biru tanpa noda karena tak segumpal awan sudi menjadi penghalang sinar matahari yang jatuh ke bumi. Cuaca pun menjadi sangat terik; padahal, mentari belum sepenuhnya berada di atas kepala. Dua ekor garangan yang dari pagi belum mendapat mangsa mulai mengeluh.

"Ah, panas sekali. Dunia sungguh tidak adil kepada bangsa garangan yang lemah," gerutu garangan ke temannya.

Seluruh hewan memang miskin karena tidak mengenal sistem mata uang dan hak milik. Akan tetapi, garangan merasa menjadi hewan paling melarat di muka bumi karena ditakdirkan menjadi pemangsa tetapi dengan kekuatan yang jauh di bawah rata-rata hewan pemangsa lainnya. Hanya binatang kecil yang menjadi buruannya; di saat yang sama, dia sering menjadi buruan elang atau macan tutul.

"Andai para pemangsa besar seperi macan, singa dan serigala mau berbagi remah-remah, tentu binatang kecil seperti kita tak perlu sengsara seperti ini," sambung garangan lain.

"Ya, betul. Apalagi si bongsor ular sanca, bahkan darah mangsanya pun tak tercecer. Sesama pemangsa, tapi mereka justru mengincar kita sebagai kudapan," timpal garangan pertama.

Sepanjang siang, garangan sibuk menggerutu, mereka menuntut hewan-hewan buas yang lebih besar memperhatikan nasibnya.

Sampai sore, dua garangan harus puasa. Mereka hanya bisa minum sambil menemukan beberapa belalang. Hari itu Mereka sama sekali tidak kenyang, kecuali oleh gerutu yang tiada habis mereka utarakan. 

Oleh: Atisura, penulis cerita dan pemerhati pendidikan anak.

Terbaru
23 Februari 2017 | 20:49
Waldjinah ingin ada penerusnya
11 Februari 2017 | 10:00
Bisa paling mematikan, Dongeng Atisura
Seni & Sastra
Berita Terkait
11 Februari 2017 | 10:00
Bisa paling mematikan, Dongeng Atisura