Seni & Sastra

Semut dicap pembohong, Dongeng Atisura

2.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
10:00
31 DES 2016
Ilustrasi
Editor
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Seekor semut pekerja tengah sendirian mencari sumber makanan. Dia susuri bagian-bagian rumah untuk mencari remah-remah makanan yang akan digotong ke sarang untuk menghidupi koloninya.

Mengetahui beberapa bagian lantai rumah bersih tanpa makanan, dia mulai memanjat meja. Dia dapati ada secuil biskuit. Meskipun cuilan biskuit hanya seujung jemari manusia, semut tak sanggup membawanya sendirian.

Dia segera berlari untuk memanggil rekan-rekannya, sesama kasta pekerja. Mendengar panggilannya, sejumlah semut segera mendatangi tempat dimaksud.

“Mana, biskuitnya?” teriak beberapa semut kompak.

“Tadi ada di sini.”

“Kamu jangan coba-coba jadi pembohong seperti manusia!”

“Demi Sang Pencipta, di sini tadi ada sisa biskuit!” balasnya tak mau kalah.

Rupanya, secuil bikuit tadi sengaja diletakkan anak dari pemilik rumah untuk mempermainkan semut yang sebelumnya tampak mondar-mandir mencari makanan. Setelah semut mengendus dan berbalik untuk mengundang teman-temannya, anak tersebut segera membersihkan potongan biskuit yang tadi ditaruhnya.

Malang bagi semut yang tadinya berniat baik, kini dia menjadi sasaran penghakiman teman-temannya; dia mendapatkan cap sebagai pendusta. Bagi binatang, dicap pembohong adalah hal paling memalukan.

Di lain pihak, bocah tersebut tertawa terbahak-bahak menyaksikan seekor semut yang tengah dirundung kesedihan karena kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.

Oleh: Atisura, penulis cerita dan pemerhati pendidikan anak

 

Terbaru
Seni & Sastra