Seni & Sastra

Burung gereja menjual sayap, dongeng Atisura

3.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
10:00
04 FEB 2017
Ilustrasi
Editor
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Seekor burung gereja sangat terpikat dengan keindahan sarang manyar kala pertama kali melihatnya. Sejak saat itu, di kepalanya bergelayut keinginan untuk memilikinya.

Selalu kepikiran memiliki sarang yang indah, burung gereja menjadi sering melamun.

“Ada apa denganmu, kawan?” tanya seekor burung pipit.

“Aku ingin memiliki sarang indah seperti punya manyar. Aku membayangkan kenyamanan tinggal di dalamnya.”

“Tidak ada kenyamanan melebihi menjadi diri sendiri dan menikmati apa yang ada saat ini. Dari dulu, nenek moyangmu membangun sarang di lubang-lubang bangunan atau pohon, dan itu cukup nyaman untuk membuat kalian hidup,” balas pipit.

“Justru itu yang membuatku bosan. Aku ingin mencicipi tinggal di sarang yang mewah. Aku akan menemui manyar untuk mendapatkan sarangnya, meskipun harus menukarnya dengan sayapku.”

“Sepupuku, sayap bagi burung adalah identitas dan kehormatan. Janggan sekali-kali menanggalkannya demi menuruti keinginan,” kata burung pipit menasehati.

Burung gereja tersingung. Dia pun pamit dengan alasan ada yang ingin dilakukan.

Beberapa hari setelah itu, burung gereja nekad mendatangi manyar guna menyampaikan keinginannya.

“Baiklah, aku akan membuatkanmu sarang yang indah dari anyaman janur dengan imbalan sayapmu,” kata burung manyar.

Burung gereja akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya, yakni sarang indah yang menggantung di sebuah pohon delima di tepian sungai. Sebagai gantinya, dia kini tidak lagi bersayap.

Yang bisa dilakukan burung gereja sekarang hanyalah melompat dan berjalan. Semua burung mentertawakan kebodohannya. Namun, sesal tidak pernah datang di depan, tidak pernah pula pilih kasih.

Burung gereja kehilangan harga diri, sarang indah yang dikiranya bakal membuatnya bahagia terasa hampa. Makhluk apa pun yang tidak punya harga diri, jiwanya pasti sengsara.

Derita burung gereja bertambah ketika dua hari berturut-turut awan menghujani bumi. Permukaan air sungai yang naik menyapu sarangnya. Dia memanjat ke pucuk pohon delima, teriak-teriak meminta pertolongan karena tidak lagi bisa terbang untuk menyelamatkan diri.

Tidak ada yang mendengar teriakannya karena burung-burung di sekitarnya sudah beberapa waktu lalu pergi mencari keselamatan. Di tengah keputusasaannya, datanglah elang memanfaatkan situasi; dia menyambar burung gereja tersebut. Sejak saat itu, burung gereja tanpa sayap dijadikan pelajaran oleh makhluk lain bahwa identitas dan harga diri tidak boleh ditukar dengan apa pun.

Oleh: Atisura, penulis cerita dan pemerhati pendidikan anak.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
23 Februari 2017 | 20:49
Waldjinah ingin ada penerusnya
23 Februari 2017 | 20:49
Waldjinah ingin ada penerusnya
Seni & Sastra