Seni & Sastra

Bisa paling mematikan, Dongeng Atisura

3.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
10:00
11 FEB 2017
Ilustrasi
Editor
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Dalam sebuah pertemuan, sejumlah binatang berbisa memamerkan kekuatan racunnya dalam membunuh lawan. Majulah yang pertama seekor kalajengking merah.

“Akulah spesies kalajengking yang paling mematikan. Dibandingkan berat tubuhku, kukira aku adalah makhluk paling beracun di dunia,” katanya.

“Ah, kamu tak usah membual kalajengking! Tubuhmu yang lemah tak akan ditakuti oleh makhluk mana pun. Mari kita adu racun siapa yang paling mematikan? Jangan kau kira aku tak berdaya seperti laba-laba rumahan yang sering kau jadikan mangsa,” tukas laba-laba pisang.

“Sesama pemilik bisa tak perlu bertarung. Perhatikan warnaku yang elok. Satu tetes bisaku mampu membunuh manusia yang perkasa itu,” sergah katak emas beracun yang membuat kalajengking dan laba-laba tak berkutik.

“Berhentilah menyombongkan diri. Tak ada yang ditakuti oleh makhluk di bumi melebihi bisaku. Sapi, kerbau, gajah mampu aku bunuh dengan sekali gigit. Kalau mau, aku mangsa kalian semua,” kata raja kobra.

Ucapan raja kobra membuat suasa sunyi. Mereka tentu tak berani dengan badannya yang besar dan bisanya yang sangat mematikan.

“Tapi, kamu bukan ular paling berbisa di dunia, kan?! Akulah yang paling mematikan dari jenisku,” kalajengking merah memberanikan diri memecah kesunyian.

Raja kobra naik pitam, kepalanya terangkat hendak mematuk kalajengking yang hanya berukuran sepanjang jari kelingking orang dewasa itu. Namun, niatnya tidak dilanjutkan karena diingatkan oleh seekor lebah.

“Sudahlah raja kobra. Kita semua kalah beracun dibandingkan hati manusia. Hanya manusia yang mampu membunuh ribuan bahkan jutaan makhluk dalam waktu satu detik dengan hatinya yang berbisa,” kata seekor lebah madu Afrika.

Semua hewan yang ikut pertemuan diam mendengarkan penjelasan spesies lebah madu paling beracun di dunia itu. Lebah yang lebih akrab dengan dunia manusia itu pun melanjutkan paparannya.

“Hati manusia yang beracun tidak hanya dapat membunuh makhluk lain, tetapi juga sesamanya. Bahkan, dia bisa membunuh dirinya sendiri. Ini yang sulit aku pahami,” katanya.

Para binatang beracun mulai kasak-kusuk di antara sesamanya. Mereka yang belum pernah melihat manusia bertanya-tanya dan penasaran. Sementara itu, sebagian yang sudah melihat manusia masih ragu-ragu apakah hati manusia memang sedemikian mematikan. 

Oleh: Atisura, penulis cerita dan pemerhati pendidikan anak.

Terbaru
23 Februari 2017 | 20:49
Waldjinah ingin ada penerusnya
Seni & Sastra
Berita Terkait