Seni & Sastra

Pementasan "Jaman Belulang", dari desa nelayan di NTT ke penjara Australia

5.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
22:00
03 APR 2017
Imas Sobariah (kiri) memerankan tokoh ibu dari Ikan, yang dimainkan oleh Imam Setia Hagi. (Foto: ABC News/Tristan Hooft)
Reporter
Sumber
Rimanews

Rimanews - Ketika penulis drama asal Kota Darwin, Sandra Thibodeaux mendengar berita mengenai anak-anak Indonesia yang ditahan di penjara orang dewasa di Australia karena menjadi kru perahu pencari suaka, dia memikirkan putranya sendiri yang baru berusia 15 tahun.

Anak-anak Indonesia itu berasal dari desa nelayan di Nusa Tenggara Timur. Saat Thibodeaux melakukan riset untuk drama ini, dia memikirkan bagaimana para ibu dan ayah dari anak-anak ini.

"Pastinya mengerikan," ujarnya kepada ABC.

"Orangtua bersangkutan tidak diberitahu keberadaan anak-anak mereka (setelah ditangkap). Selama satu setengah tahun, mereka menganggap anak-anaknya sudah tenggelam di laut," katanya.

"Mengalami bagaimana anakmu suatu hari pergi mencari ikan dan tak kembali...," ujarnya lagi.

Dalam karya drama terbarunya The Age of Bones (Jaman Belulang), Thibodeaux membayangkan perjalanan sosok Ikan, remaja kampung yang ditangkap petugas Australia setelah bekerja di perahu yang terlibat dalam penyelundupan manusia.

Di saat drama ini dipersiapkan untuk dipentaskan di Australia awal tahun ini, sebuah gugatan class action atas nama 115 warga Indonesia terhadap Pemerintah Australia diajukan ke pengadilan di Jakarta.

Namun dalam drama ini, persoalan serius didekati dengan semacam keceriaan yang pedih melalui simbolisme pesisir dan realisme magis.

Adegan ruang tahanan penjara dan ruang pengadilan Australia disetting di bawah laut yang dilintasi para remaja tersebut.

"Kami menciptakan dunia fantastis ini bersama wayang dengan video dan musik," jelas Thibodeaux.

Produksi teater ini merupakan kolaborasi bersama Teater Satu Bulan dari Indonesia.

Manajer Teater Satu Bulan Imas Sobariah juga turut tampil dalam The Age of Bones, memerankan sosok ibu dari tokoh Ikan.

Dia berharap pementasan ini bisa mengingatkan penonton mengenai kisah manusia yang tersapu dalam persoalan global yang kian meningkat.

"Teater memiliki misi - membuat manusia menjadi lebih baik," ujarnya.

"Negara lain memiliki persoalan serupa, dan setiap orang harus tahu isu ini," katanya.

Pementasan ini dilakukan dalam Bahasa Indonesia dengan transkripsi Bahasa Inggris di layar.

Terbaru
Seni & Sastra