Seni & Sastra

Tiga anak dan pusaka orang tua, dongeng Atisura

11.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
09:01
26 JUN 2017
ilustrasi
Editor
Dhuha Hardiansyah
Sumber
Rimanews

Seorang petani tua memiliki tiga putra. Karena miskin, dia tak bisa mewariskan banyak harta kecuali tiga benda. Dia meminta semua anaknya menerima pemberiannya dengan ikhlas dan melaksanakan nasehatnya.

Anak pertama mendapatkan sebuah kapak. Anak kedua menerima pancing dan yang terakhir menerima sekantong benih dari beberapa jenis tanaman.

Anak pertama disuruh pindah ke sebuah kota di sebelah selatan dengan modal sebuah kapak yang tajam. Anak kedua ke sebuah kota di pesisir. Sedangkan satu anak lagi diminta tetap tinggal di desa dengan modal benih terbaik pilihan sang ayah.

Anak pertama dan kedua segera pergi setelah ayahnya meninggal. Sementara itu, anak ketiga tetap tinggal di desa untuk bertani.

Musim tanam belum tiba, sehingga anak ketiga belum bisa melaksanakan perintah ayahnya. Karena bosan menunggu, akhirnya dia gunakan biji-bijian warisan ayahnya untuk berburu.

Dia pikir, dia akan bisa menangkap sejumlah burung atau ayam hutan dengan benih tersebut sebagai umpan.

“Sebelum buruanku makan, aku akan menangkapnya. Sehingga, benih masih utuh dan aku tetap dapat untung,” pikirnya.

Di hari pertama berburu, dia ketiduran sehingga segenggam benih yang dijadikan umpan habis di makan burung.

Di hari kedua, dia melakukan kesalahan serupa. “Ah, semilir angin di musim kemarau memang membuat orang ngantuk,” kilahnya.

Dia melakukan kesalahan serupa di hari-hari berikutnya hingga benih yang dimiliknya tinggal segenggam.

“Kali ini pasti berhasil!” katanya.

Di tengah semangatnya menunggu buruan. Seorang teman mendatanginya. Mereka berdua lalu asyik berbincang hingga tak menyadari seekor ayam hutan menghabiskan umpannya.

Habislah sudah semua benih peninggalan sang ayah.

Musim berganti, tahun demi tahun pun berlalu sejak peristiwa itu.

Anak pertama yang sedang berada di pelabuhan untuk mengirim pesanan mebel terperanjat melihat adiknya.

Sang adik yang dulu berbekal pancing, berubah menjadi saudagar ikan yang sukses.

Dalam pertemuan yang menggembirakan itu, sang kakak mulai bercerita mengenang masa lalu.

Sejak keluar rumah, dia menggunakan kapak untuk mencari kayu bakar lalu menjualnya. Hasil jualan sebagian disisihkan untuk membeli gergaji. Selanjutnya, dia tak hanya menjual kayu bakar, tapi kayu bangunan. Singkat cerita, dia menjadi pengusaha kayu yang sukses.

Adiknya yang membawa pancing pun punya cerita serupa. Hasil dari memancing dia belikan jala. Dari jala menjadi sampan, dari perahu menjadi kapal, usahanya berkembang pesat hingga salah satu kapalnya harus melayani kebutuhan ikan di luar kota, tempat kakaknya bermukim.

Setelah lama berbincang, mereka lalu ingat si bungsu. “Bagaimana jika kita ke desa melihat adik kita secara langsung?” Si sulung menawarkan.

Keesokan hari, dua bersaudara tersebut mengendarai kuda menuju desa tempat mereka dilahirkan.

Setelah beberapa hari di perjalanan, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Desa tersebut masih sepi, tak banyak perubahan dibanding saat mereka terakhir kali meninggalkannya.

Di pinggir desa, dia melihat rumah ayah mereka yang tak berpenghuni dan nyaris roboh.

Seorang tetangga yang mengenali mereka berdua bercerita jika adiknya tak diketahui nasibnya. Setelah ayahnya meninggal, dia mulai nakal hingga menjadi pencuri dan perampok. Tahun lalu, dia tertangkap dan dibawa ke ibukota.

Dua bersaudara itu menangis sedih melihat nasib adiknya, akibat tak menurut nasehat orang tua.

Oleh: Atisura, penulis cerita dan pemerhati pendidikan anak.

Terbaru
Seni & Sastra
Sponsored