Bisnis

Indonesia berhasil ekspor beras ke Papua Nugini

1.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
13:29
14 FEB 2017
Reporter
Ahmad
Sumber
Rimanews

Rimanews - Indonesia akhirnya bisa mengekspor beras ke Papua Nugini hal itu merupakan ekspor beras pertama yang dilakukan Indonesia sepanjang negara ini merdeka 72 tahun lalu.

"Mimpi kita dulu sudah jadi kenyataan yaitu ekspor beras ke negara tetangga, Papua Nugini. Kemudian luas lahan sawah kita tambah terus. Yang terpenting kita sudah memenuhi kebutuhan dalam negeri selebihnya diekspor," kata Mentan Amran Sulaiman seperti dikutip pertanian.go.id hari ini.

Indonesia selama ini masih mengalami kekurangan pasokan beras untuk kebutuhan dalam negeri. Sempat alami swasembada beras pada tahun 2012 ketika Mentan dijabat Anton Apriantono namun kini Indonesia belum bisa mencapai lagi prestasi tersebut.

Baru pada tahun ini stok beras dalam negeri berlimpah sehingga bisa untuk ekspor ke luar negeri.

Amran mengatakan, beras yang akan diekspor ke Papua Nugini itu merupakan beras dengan kualitas premium. Harga jual beras tersebut mencapai Rp 10.000/kilogram, dengan pemesanan sebesar 10.000 ton yang diambil dari hasil panen di tahun 2017.

Harga yang ditawarkan Indonesia dalam ekspor beras ini jauh di bawah harga beras yang datang dari Thailand dan Vietnam, sehingga Papua Nugini lebih memilih beras asal Indonesia. "Harga ini separuh harga beras impor dari Filiphina, Thailand dan Vietnam," jelas Mentan Amran.

Amran menjelaskan ekspor beras ini merupakan upaya dalam rangka mensejahterakan para petani karena dulu beras untuk kebutuhan di Papua diambil dari provinsi lain sehingga biaya beras mahal karena biaya angkutan ditanggung masyarakat. Dampaknya terjadi inflasi dan kemiskinan meningkat.

"Namun sekarang kita mampu produksi sendiri. Tekad kita ke depan adalah seluruh pulau-pulau bisa swasembada pangan khususnya beras sehingga harga beras murah," jelasnya.

Amran menambahkan, Papua selain saat ini sudah mampu eskpor beras, yang menarik juga yakni pertanian di Papua khususnya di Merauke telah menggunakan teknologi pertanian. Hasilnya, dulu biaya pengolahan lahan mencapai Rp 3 juta/ha, tetapi dengan adanya mekanisasi pertanian sekarang hanya Rp 1,1 juta/ha.

"Artinya biaya pengolahan lahan turun 60% karena teknologi," imbuhnya.

Terbaru
28 Maret 2017 | 08:50
Harga minyak mentah dunia turun
19 Maret 2017 | 07:10
Pebisnis harus berpikir tak biasa