Bisnis

Indonesia dan Australia punya potensi raup pasar halal dunia

1.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
20:35
15 FEB 2017
Indonesia menampilkan dua pembicara di acara Halal Expo, salah satunya Dr Amin Hady (kedua dari kanan). (Foto: KJRI Sydney)
Reporter
Dede Suryana
Sumber
Rimanews

Rimanews - Halal Expo adalah salah satu kegiatan yang digelar komunitas Muslim di Australia dengan tujuan untuk lebih memperkenalkan halal dan produk-produk halal kepada tidak hanya sesama Muslim, tapi juga mereka yang bukan Muslim.

Indonesia, sebagai negara tetangga terdekat Australia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim tidak ketinggalan untuk berpartisipasi dalam acara yang digelar di Rosehill Gardens Racecourse, kota Sydney pada pekan lalu (11-12/02/2017)

"Kami sudah berpartisipasi beberapa kali sejak tahun 2015, tapi baru tahun ini bisa dikatakan keterlibatan kami lebih besar lagi tidak hanya membuka stand produk-produk halal dari Indonesia," ujar Konjen RI di Sydney, Yayan Mulyana.

Tahun ini, KJRI Sydney menggandeng Indonesian Trade Promotion Centre dan Indonesian Investment Promotion Centre dengan menampilkan produk-produk lain seperti kosmetik, fesyen, layanan pariwisata, hingga jasa keuangan.

Kepada Australia Plus, hari ini, Yayan menjelaskan Indonesia mendapat panggung dengan menghadirkan dua pembicara, yakni Dr Amin Hady, salah satu tokoh Muslim Indonesia di Australia dan Miriam Tulveski, staff dari Visit Indonesia.

"Dr Amin menjelaskan soal Islam di Indonesia dan gaya hidup halal, sementara Miriam memaparkan soal wisata halal di Indonesia," ujar Yayan.

"Kami juga menampilkan dua tarian, yakni tarian Minang dan tari Saman dari Aceh."

Yayan mengaku stand yang dibukan oleh Konjen RI mendapat respon yang cukup baik.
"Terutama di hari kedua, karena kami bekerja sama dengan sejumlah distributor produk-produk halal dari Indonesia."

Menurut Yayan usai berpartisipasi dalam Halal Expo 2017 ada beberapa potensi yang bisa dikembangkan dalam kerja sama Indonesia dan Australia menyangkut industri halal.

"Kami sedang mengembangkan peta jalan, salah satunya dengan membawa sejumlah perusahaan di industri makanan, kosmetik, fesyen, yang rencananya akan dibawa ke Indonesia pada bulan April."

Yayan menilai pangsa pasar halal semakin berkembang, salah satunya di dunia fesyen Muslimah.

"Menurut laporan Global Islamic Economy, perempuan Muslim telah menghabiskan hingga $230 miliar, dan jumlah ini akan meningkat hingga $327 miliar di tahun 2019. Ini potensi yang sangat besar bagi Indonesia dan Australia untuk bisa bekerja sama memanfaatkan peluan ini," jelas Yayan.

Yayan menambahkan tidak hanya produk makanan asal Indonesia atau pariwisata sebagai salah satu destinasi yang menawarkan pelayanan sesuai syariah.

"Indonesia dan Australia bisa sama-sama mengembangkan dan kerjasama produk seperti makanan, fesyen, kosmetik, untuk bisa meraup pasar halal di Eropa. Indonesia saat ini dipercaya untuk urusan sertifikasi halal."

Di Australia sendiri, halal dan syariah menjadi dua topik yang sedang hangat dibicarakan. Beberapa politisi, seperti misalnya Pauline Hanson dari Partai One Nation dan Senator Jacqui Lambie dari Tasmania, memberikan kritikan yang cukup tajam soal aturan syariah dan halal produk.
Lantas apakah ini menjadi tantangan bagi peluang kerjasama di sektor halal yang hendak dijajaki oleh Indonesia dan Australia?

Yayan menganggapi bahwa peluang bekerja sama dengan Indonesia di industri halal tetap ada

"Sebenarnya dalam kondisi apapun, potensi kerja sama selalu ada... Australia sendiri memiliki sifat multikultur dan ini sudah menjadi realitas adanya kebutuhan halal," ujarnya.

KATA KUNCI : , , , , ,
Terbaru
20 April 2017 | 10:30
Rini sebut Indonesia akan digdaya
5 April 2017 | 07:12
Stok sembako aman hingga Juli
4 April 2017 | 09:42
Pembangunan Gili Mas dipercepat
30 Maret 2017 | 10:02
Harga minyak dunia kembali naik
Bisnis