Bisnis

Bupati Mimika minta 20 persen saham Freeport

2.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:07
04 MAR 2017
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Melimpahnya kekayaan sumber daya alam di Papua membuat banyak perusahaan dan negara memperebutkannya. Namun miris, masyarakat Papua yang tidur di atas emas justru hanya mendapatkan tekanan dan ketidakadilan.

Oleh sebab itu, Bupati Mimika Eltinus Omaleng meminta kepada pusat memberikan 20 persen saham dari 50 plus 1 persen saham milik pemerintah untuk otoritas dan rakyat Papua.

"Kami yang punya gunung, kamu minta bayar (divestasi saham dari PT Freeport Indonesia), 17 gunung kami dirusak apa gantinya, 20 persen itu terlalu kecil," kata Eltinus saat meluncurkan buku "Papua Minta Saham" di Hotel Borobudur, Gambir, Jakarta Pusat, kemarin.

Eltinus menambahkan dari 20 persen saham itu nantinya akan dibagi, 10 persen untuk masyarakat adat di seluruh Papua, khususnya masyarakat adat Amungme dan Komoro sementara 10 persen lainnya akan dialokasikan ke sejumlah pemerintah daerah dan provinsi. Menurutnya, sejauh ini pembagiannya tidak jelas dan sangat tidak berkeadilan serta tidak berkontribusi besar bagi kesejahteraan dan pembangunan Papua.

"Kami cuma dapat 1 persen, 1 persen itu kami juga bingung itu hitungannya dari mana, asalnya apakah dari hasil kotor atau bersih, berapa banyaknya juga gak tahu, kita cuma dibagi gula-gula (permen) saja," jelasnya.

Selain meminta saham 20 persen, Eltinus juga meminta pemerintah dan PT Freeport untuk menghormati hak ulayat (hutan dan lahan yang dimiliki masyarakat adat) dengan memberikan ganti rugi atas tanah dan gunung-gunung yang telah dirusak.

"Kemudian, libatkan kami masyarakat adat dalam melakukan kontrak karya," tambahnya.

Tokoh adat Amungme, Janes Natkime mengatakan 50 tahun masyarakat Papua tidak pernah merasakan keadilan dari pengerukan sumber daya alam tersebut.

"Sebagai korban kami selang waktu 50 tahun tidak pernah dapat keadilan, tempat buruan kus-kus, berburu tempat (lahan untuk berburu) itu sudah tidak ada, sudah diduduki oleh penambang perusahaan besar (Freeport)," kata tokoh adat Amungme.

Janes menambahkan akibat limbah kimia yang dialirkan ke sungai melalui hutan dari Freeport sekarang masyarakat adat susah untuk hidup, hewan yang ada di sungai dan hutan sudah habis karena mati keracunan limbah kimia tersebut.

"Akibat dari kimia, luka-luka di tangan, kaki, kalo orang injak masuk di sungai, susah untuk hidup, kodok, katak segala macam, ular yang merayap sudah habis, pohon-pohon di pinggir sungai, burung-burung yang terbang pun mati, bagaimana keberlanjutan kehidupan anak Amungme ini," tuturnya.

Menurutnya, keadilan yang sesungguhnya adalah keadilan yang menghargai hal yang besar dan kecil, memikirkan dan melindungi rakyat yang jauh dari pemerintah.

"Kalau pemerintah pusat dapat (saham) jangan lupakan masyarakat adat, sama juga dengan pemerintah daerah, jangan lupakan hak adat," katanya.

KATA KUNCI : , , , , ,
Terbaru
28 Maret 2017 | 08:50
Harga minyak mentah dunia turun
19 Maret 2017 | 07:10
Pebisnis harus berpikir tak biasa