Keuangan

Target pertumbuhan ekonomi masih minus 0,2 persen

2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
21:31
03 JAN 2017
Reporter
Ahmad
Sumber
Rimanews

Rimanews - Pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan pertumbuhan di tahun mendatang. Capaian 5,0 persen di tahun 2016 berarti pemerintah masih minus 0,2 persen dari penetapan APBN-P yang mencapai 5,2 persen.

Namun, angka tersebut bila dibandingkan dengan tahun 2015 yang tumbuh hanya sebesar 4,8 persen boleh dibilang masih lebih baik. Demikian seperti dikutip kemenkeu.go.id, hari ini.

Meskipun di sepanjang 2016 ekonomi global dihadapkan pada berbagai tantangan dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan, APBN 2016 terkendali dalam batas aman. 

Selain pertumbuhan ekonomi yang masih memiliki pekerjaan rumah, angka inflasi cukup memuaskan dengan capaian 3,1 persen atau lebih rendah dibanding target yang sebesar 4,0 persen. Dengan inflasi yang terkendali, stabilitas ekonomi juga tercermin dari rata-rata nilai tukar Rupiah yang menguat mencapai Rp 13.307/dolar dibandingkan target APBN-P sebesar Rp 13.500/dolar.

Sementara itu, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan mencapai 5,7 persen dibanding target 5,5 persen. Sedangkan harga minyak menunjukkan realisasi USD40/barel, setara dengan target dalam APBN-P. Untuk lifting minyak bumi, realisasi mencapai 829 ribu barel/hari dari target 820 ribu barel/hari. 

Sedangkan lifting gas mencapai 1.184 ribu barel setara minyak/hari dibanding target 1.150 ribu barel setara minyak/hari.

Terbaru
23 Januari 2017 | 10:51
IHSG dibuka naik tipis
17 Januari 2017 | 10:36
IHSG melemah, Dolar dekati Rp 13.400
16 Januari 2017 | 10:20
IHSG naik 0,2 poin di awal pekan
13 Januari 2017 | 12:40
Jokowi minta perbankan perkuat KUR
13 Januari 2017 | 10:40
Dolar turun usai Trump jumpa pers
11 Januari 2017 | 10:13
IHSG terus berada di wilayah hijau
6 Januari 2017 | 10:30
IHSG belum bisa keluar dari tekanan
5 Januari 2017 | 20:14
Inflasi 2016 terkendali
4 Januari 2017 | 09:16
Kurs rupiah mulai menguat
31 Desember 2016 | 05:05
Uang rupiah baru sulit dipalsukan