Keuangan

Duet Darmin-Sri Mulyani cuma buat pertumbuhan 5,02 persen

4.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
14:54
23 MAR 2017
Dok: Menko Perekonomian, Darmin Nasution
Reporter
Zul Sikumbang
Sumber
Rimanews

Rimanews - Duet kerja antara Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen dan itupun dikontribusikan paling banyak oleh konsumsi.

"Selama ini, pertumbuhan ekonomi masih didorong oleh konsumsi domestik yang kontribusinya mampu menembus 56% dari total PDB. Dari situ, dapat dibaca bahwa salah satu kunci pertumbuhan ekonomi adalah investasi. Makin banyak investasi yang masuk, maka ekonomi produktif bisa berputar yang mampu menghasilkan lapangan pekerjaan," kata Heri di Gedung DPR RI, Jakarta, hari ini.

Sebetulnya, kata anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan, pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh di atas 5% jika pemerintah mampu meningkatkan rasio investasi yang saat ini masih berada di kisaran 32% terhadap PDB disamping isu substantif masalah kepastian hukum.

Tentunya investasi yang masuk itu harus tepat dan distribusinya juga harus benar. Dari data yang ada, pada tahun 2016, realisasi investasi asing secara sektoral masih dominasi oleh Sektor Perindustrian (78,97 persen), kemudian diikuti oleh Sektor Keuangan (5,50 persen). Sedangkan untuk sektor produktif seperti pertanian-perkebunan-kelautan, masih sangat rendah, yaitu di bawah 5%. Padahal, sektor pertanian-perkebunan-kelautan adalah sektor andalan dengan serapan tenaga kerja mayoritas.

"Yang tidak kalah penting adalah perhatian serius pemerintah pada soal ketimpangan wilayah investasi antara Jawa dan Luar Jawa. Data per September 2016, realisasi investasi masih terpusat di Jawa meskipun investasi di luar Pulau Jawa sedikit meningkat yaitu menjadi sebesar Rp 203,2 triliun," katanya.

Dalam rangka menopang investasi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka pemerintah dalam hal ini Menteri Perekonomian dan Menteri Keuangan perlu memperhatikan rasio tabungan terhadap PDB yang berada di level 34%. Itu adalah salah satu cara untuk menopang kebutuhan investasi. Tapi, yang diperlukan sekarang adalah bukan sekadar angka-angka di kertas. Tapi eksekusi bagaimana. Bagaimana mungkin orang bisa nabung sedang untuk belanja saja sulit.

"Sebab itu, dalam soal rendahnya capaian pertumbuhan ekonomi dan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi ke depan, pemerintah harus berani mengubah model pertumbuhan konsumtif ke model pertumbuhan produktif. Dalam mencapai itu, pemerintah perlu meningkatkan rasio investasi yang saat ini baru di kisaran 32% terhadap PDB," kata Politisi Partai Gerindra itu.

Selain itu, investasi yang masuk harusnya tepat sasaran. Saat ini, realisasi investasi di sektor produktif seperti pertanian-perkebunan-kehutanan-kelautan masih terbilang kecil. Padahal, sektor tersebut mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 50%.

"Pemerintah harus serius mengatasi masalah investasi seperti penyederhanaan izin dan fasilitasi penyelesaian permasalahan yang dihadapi investor. Itu harus menjadi fokus pemerintah baik di pusat dan di daerah. Koordinasi dan sinergi yang baik antara pusat dan daerah harus terbangun dengan baik. Masih banyak daerah-daerah yang belum mengadopsi langkah-langkah debirokratisasi di pusat," ujarnya.

Pemerintah seharusnya dapat memanfaatkan program amnesty pajak yang sedang dijalankan untuk dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan investasi, terutama untuk sektor-sektor produktif yang riil khususnya di luar Jawa.

"Pemerintah  jangan hanya mengejar pertumbuhan yang tinggi. Tapi, juga harus melihat dampak pertumbuhan tersebut terhadap pengangguran, kemiskinan, dan peningkatan kebutuhan dasar. Tidak ada gunanya tumbuh diatas 5% jika hanya menciptakan ketimpangan," ujarnya.

Keuangan